Senin, 12 November 2018

Karyenak Tyasing sasama

PUPUH SINOM Kajian Wedatama (15): Karyenak Tyasing Sasama Alhamdulillah, kajian kita sudah sampai pada bait ke-15, sudah masuk Pupuh Sinom. Seperti yang sudah disinggung di akhir Pupuh Pangkur, Pupuh Sinom ini ditujukan untuk kalangan muda yang masih bergairah tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian gelora muda tidak sepantasnya disalurkan untuk foya-foya. Bahkan juga harus mulai berlatih mengendalikan hawa nafsu, kalau tidak akan menjadi kebiasaan buruk di masa tua. Sebagaimana orang bijak mengatakan, orang tua akan menjalani kehidupan sebagaimana ia menjalani masa muda. Selengkapnya bait ke-15 adalah sebagai berikut: Nuladha laku utama, tumrape wong Tanah Jawi. Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu, Pinesu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasama. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Contohlah perilaku utama. Untuk kalangan Orang Jawa, orang besar dari Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha, mengurangi hawa nafsu. Dengan jalan prihatin (tirakat). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Kajian per kata: Nuladha (contohlah) laku (perilaku) utama (utama), tumrape (bagi) wong (orang) Tanah (wilayah) Jawi (Jawa). Contohlah perilaku utama, bagi orang yang tinggal di wilayah Jawa. Mencontoh (nuladha) adalah berbuat sebagaimana contoh sesuai dengan konteks yang dihadapi. Ini tidak sama dengan meniru (neniru). Meniru adalah menjiplak persis. Jadi dalam mencontoh ada konteks dari perbuatan sesuai tantangan yang dihadapi oleh pelaku yang mencontoh. Laku bisa diartikan perilaku atau kelakukan, juga bisa diartikan cara menjalani sesuatu. Nanti kita akan bertemu istilah laku sebagai ilmu praktis atau kalau meminjam istilah sufisme disebut suluk. Utama adalah yang terbaik, yang lebih baik dari yang baik. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai: contohlah cara menjalani hidup yang utama. Dalam gatra kedua ini kalimat tumrah wong tanah Jawi, adalah pembatasan. Pembatasan ini tentu bukan bermaksud sektarian atau rasis, tetapi lebih karena pendekatan budaya saja. Mungkin bagi orang Jawa nasehat dalam serat ini baik jika diterapkan, tetapi bagi orang luar Jawa belum tentu baik. Semua itu karena perbedaan budaya semata. Wong (orang) agung (besar) ing (di) Ngeksiganda (Mataram), Panembahan Senopati. Orang besar dari negeri Mataram, Panembahan Senopati. Kata Mataram di atas diturunkan dari kata, ngeksi yang artinya melihat, melihat jelas pakai mata, maka diambil kata Mata. Kemudian kata ganda berarti bau, yang dimaksud adalah bau harum, maka diambil suku kata terakhir rum, disamarkan menjadi ram. Gabungan dua kata itu menjadi Mataram, nama kerajaan tempat orang besar tadi. Permainan kata seperti di atas lazim dilakukan dalam bahasa Jawa dan biasa disebut wangsalan. Panembahan Senopati adalah gelar dan nama raja pertama Mataram, orang yang akan kita tiru perilakunya. Kepati (sangat keras, bersungguh-sungguh) amarsudi (berusaha, melatih diri), sudane (berkurangnya) hawa lan nepsu (hawa nafsu). Sangat keras berusaha, berkurangnya hawa nafsu. Kepati artinya sangat-sangat, contoh pada kata gething kepati-pati, sangat-sangat benci. Amarsudi berarti berusaha, berlatih dengan tekun. Contoh pada kata marsudi raga, tekun berolah raga. Meski seringkali dijadikan kata majemuk, hawa nafsu sebenarnya dua kata yang punya arti sendiri. Hawa adalah rangsangan dari luar, nafsu adalah keinginan dari dalam. Di dalam falsafah kehidupan orang Jawa ada filosofi: nutup babahan hawa sanga, menutup sembilan lubang hawa. Yakni menutup rangsangan dari luar agar tidak masuk dan keinginan dari dalam agar tidak keluar. Caranya dengan menutup rangsangan hawa agar tidak masuk melalu sembilan lubang, dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kelamin dan satu lubang dubur. Yang dimaksud menutup di sini adalah membatasi rangsangan yang masuk lewat lubang-lubang tersebut, misalnya dengan tidak memandang hal-hal yang membangkitkan nafsu, tidak sengaja mencium aroma yang mengundang selera, tidak mendengar percakapan yang tidak pantas, dll. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai sebagai: berlatih dengan sungguh agar mencapai kondisi berkurangnya hawa dan nafsu. Jika nafsu tidak dituruti maka akan melemah, sehingga tidak bergejolak. Inilah kondisi yang ideal bagi manusia. Lalu bagaimana cara agar mencapai keadaan itu? Bait berikut menjelaskannya. Pinesu (dipaksa, diusahakan dengan keras) tapa brata (bertapa, tirakat). Dengan jalan laku tirakat. Berkurangnya hawa dan nafsu tadi dapat dicapai dengan bertapa. Di sini bertapa berarti tirakat, laku prihatin, mencegah atau berpantang dari sesuatu agar mendapat pencerahan. Yang umum dilakukan oleh orang jawa tempo dulu adalah mengurangi makan dan tidur (cegah dhahar lan guling), sambil berdzikir. Juga biasa dilakukan dengan berkhalwat, menyendiri (mahas ing asepi). Arti gatra ini yang sesuai: memaksa diri menjalani laku prihatin atau tirakat. Tanapi (sambil) ing (di) siyang (siang) ratri (malam), amamangun (mematut diri) karyenak (membuat enak) tyasing (hati) sasama (sesama, orang lain). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Karena Panembahan Senopati adalah seorang raja yang terkenal suka laku tirakat, maka sangat mungkin yang dimaksud dengan gatra ini adalah: sambil berlatih terus untuk mengekang hawa dan nafsu beliau juga berusaha di siang dan malam, membuat kebijakan, memerintah, mengarahkan (itu semua disebut amamangun) agar rakyat merasa nyaman hidupnya dan (enak hati) tanpa rasa takut dan khawatir. Bagi orang Jawa contohlah tauladan dari orang besar di Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha mengurangi hawa dan nafsu dengan memaksa diri menjalai laku prihatin. Sambil di siang dan malam, berbuat kebijakan agar rakyatnya hidup nyaman tanpa rasa takut. Apa yang dilakukan Panembahan Senopati adalah pengabdian dua dimensi, dimensi vertikal dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan laku prihatin, mengurangi hawa nafsu. Dimensi horizontal, tetap hidup bermasyarakat, mengupayakan kesejahteraan rakyat sebagai pelaksanaan kewajiban seorang raja. Inilah tauladan baik yang semestinya dicontoh oleh orang Jawa. Kajian Wedatama (16): Nggayuh Geyonganing Kayun Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang layak dijadikan tauladan bagi setiap generasi sesudahnya. Beliau adalah raja yang selalu menyebarkan kesejukan bagi setiap orang yang ditemui. Namun beliau juga tidak lalai dalam kehidupan spiritual, tetap hidup prihatin agar tercapai ketenangan jiwa. Sungguh tabiat seorang raja pinandita. Selengkapnya bait ke-16 adalah sebagai berikut: Samangsane pasamuwan, mamangun marta martani. Sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki. Nggayuh geyonganing kayun, Kayungyun heninging tyas, Sanityasa pinrihatin, Puguh panggah cegah dhahar lawan guling. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dalam setiap pertemuan, menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara bertapa, Menggapai kecenderungan hati, Terpesona ketenangan hati, Senantiasa melakukan hidup prihatin, Berpegang teguh tetap mengurangi makan dan tidur. Kajian per kata: Samangsane (dalam setiap) pasamuwan (pertemuan), mamangun (mencipta, membentuk) marta (santun, tenang) martani (menyejukkan). Dalam setiap pertemuan selalu menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Ini berkaitan dengan perilaku dari raja pertama Mataram Panembahan Senopati yang selalu bersikap tenang, sareh, dan menyebarkan kesejukan dalam setiap pertemuan. Bergaul dengan siapa saja sikap beliau selalu menyenangkan, tidak menyakiti hati orang lain sehingga membuat orang lain betah. Sinambi (sambil) ing (di) saben (setiap) mangsa (waktu), kala (di kala) kalaning ( ada waktu) asepi (luang, sepi pekerjaan), lelana (mengembara) teki-teki (teteki, bertapa). Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara untuk menyendiri, mengembara untuk bertapa. Walaupun sang Raja sangat sibuk, manakala ada waktu luang di sela-sela kesibukan, maka beliau menyempatkan melakukan hal-hal selain urusan pemerintahan. Yakni melakukan tapa, berkhalwat dengan sang Khalik, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Walau seorang raja Senopati tidak melalaikan tugas kenegaraan, tetapi hatinya selalu tidak sabar menanti waktu luang untuk bertapa. Dia melakukan itu karena memang menyukai laku prihatin, tidak suka foya-foya. Karena memang ada yang dituju dalam hidupnya selain kekuasaan. Nggayuh (menggapai) geyonganing (kecenderungan) kayun (hati). Menggapai kecenderungan hati. Jadi bertapanya bukan untuk meraih kekuasaan, toh hal itu sudah didapatkan, melainkan karena memang kecenderungan hati. Cita-cita beliau adalah hidup prihatin untuk mencapai kesejatian, kesempurnaan hidup. Kayungyun (terpesona) heninging (ketenangan) tyas (hati). Terpesona ketenangan, keheningan hati. Karena beliau sangat terpesona dengan ketenangan hati. Tenang dalam arti dekat dengan Yang Maha Kuasa, bukan tenang dalam artian mengasingkan diri dari dunia. Toh beliau tetap bekerja sebagai raja pada setiap harinya. Sanityasa (senantiasa) pinrihatin (melakukan hidup prihatin). Senatiasa melakukan hidup prihatin. Beliau senantiasa hidup dengan cara yang sederhana dengan laku prihatin. Bukan karena keterpaksaan, tetapi karena tingkat pengendalian diri yang sudah paripurna. Tidak gampang kapiluyu (tergoda) oleh kemewahan dunia, meski seorang raja besar yang berkuasa. Puguh (berpegang teguh) panggah (tetap) cegah (mengurangi) dhahar (makan) lawan (maupun) guling (tidur). Berpegang teguh dengan tetap mengurangi makan dan tidur. Walau bisa hidup mewah sang raja justru mengurangi makan dan tidur. Itulah kunci dari hidup prihatin. Agar mata hati tetap terbuka, tidak tertutupi hawa nafsu. Catatan tambahan. Panembahan Senopati adalah penguasa Mataram pertama yang bergelar, Kanjeng Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Gelar di atas menunjukkan bahwa landasan dari kerajaan yang dibangun Senopati adalah religius. Kita tidak membahas itu sekarang, cukup informasi singkat ini sebagai gambaran ringkas tentang tokoh yang dalam serat Wedatama ini disebut sebagai orang besar yang patut dijadikan tauladan. Raja pertama Mataram ini meraih kekuasaan dengan jalan yang tidak mulus. Ketika masih bocah dia harus mengalahkan Adipati Jipang Arya Penangsang yang terkenal sakti mandraguna. Waktu itu Arya Penangsang dicurigai hendak memberontak kepada sultan Hadiwijaya di Pajang. Dalam satu pertempuran yang tidak imbang Senopati berhasil menewaskan Arya Penangsang secara dramatik. Atas kemenangannya itu Senopati yang waktu itu masih bernama Sutawijaya diganjar Alas Mentaok, yang masih berupa hutan rimba. Kemudian dia membabat hutan itu dan mendirikan tanah perdikan. Semakin lama semakin banyak pengikut yang bergabung di tanah baru itu. Tatkala kerajaan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya surut, pamor Sutawijaya meningkat, hingga dia berhasil mendirikan kerajaan baru yang dinamakan Mataram. Dia kemudian menjadi Raja dengan sebutan di atas, atau lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati. Sutawijaya terkenal akan kegigihannya dalam bertapa, melakukan laku prihatin. Buahnya dia menjadi raja yang waskitha, cerdik dan tangguh. Kemampuan strateginya berhasil merangkul wilayah-wilayah timur untuk bergabung ke Mataram. Menjelang akhir kekuasaannya di tahun 1601M, Senopati telah mewariskan kerajaan yang besar. Bahkan kerajaannya tetap eksis hingga kini, yakni menjadi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kajian Wedatama (17): Mesu Reh Kasudarman Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang gemar tirakat, menjalani tapa brata, mencegah makan-tidur dan suka berkelana di tempat sepi. Ini jelas bukan perilaku yang umum dilakukan para raja yang biasa bersikap hedonis, bermewah- mewahan dan memperturutkan hawa nafsu. Mungkin karena kecenderungan hati yang demikian beliau kemudian memilih untuk bergelar Panembahan Senopati. Raja yang suka manembah kepada Allah yang Maha suci. Selengkapnya bait ke-17, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Saben mendra saking wisma, Lelana laladan sepi, Ngingsep sepuhing supana, Mrih pana pranaweng kapti, Tis tising tyas marsudi, Mardawaning budya tulus, Mesu reh kasudarman, Neng tepining jalanidhi, Sruning brata kataman wahyu dyatmika. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Setiap pergi meninggalkan istana, Berkelana ke tempat yang sunyi, Menghisap berbagai ilmu yang baik, Agar jelas yang dikehendaki, Maksud hati tercapai, Kelembutan hati yang utama, Berusaha mempelajari tentang kebajikan, Di tepi samudra, Karena kerasnya bertapa mendapat anugerah Ilahi. Kajian per kata: Saben (setiap) mendra (keluar) saking (dari) wisma (rumah, dalam hal ini adalah istana), lelana (berkelana) laladan (tempat, wilayah) sepi (sunyi). Setiap keluar dari istana, berkelana di tempat sepi. Setiap keluar dari istana, sang raja selalu berkelana ke tempat yang sunyi. Gatra ini mengesankan sang raja “tak betah” untuk berada di istana. Setiap ada kesempatan selalu bersegera menyepi, seolah-olah hatinya sudah terpesona dengan kesepian, dengan laku tirakat. Ngingsep (menghisap) sepuhing (apuh, tuntas, sesuatu yang dihisap sampai tak tersisa saripatinya) supana (ilmu yang baik). Mempelajari ilmu yang baik sampai tuntas. Sang raja ke tempat sepi selain hendak tirakat juga sering berguru kepada para ahli ma’rifat. Ada banyak cerita bahwa Panembahan Senopati kerap ditemui oleh sunan Kalijaga ketika sedang menyepi, untuk diberi wejangan ilmu. Seperti kita ketahui bahwa Sunan Kajiga adalah Waliyullah yang berumur sangat panjang, dan masih sugeng ketika Mataram berdiri. Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat peduli atas nasib para penguasa di tanah Jawa. Sejak berdirinya kerajaan Demak dilanjutkan Pajang sampai akhirnya Mataram muncul, sunan Kalijaga selalu njangkungi, memantau para raja-raja tersebut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga juga sering dipanggil sebagai Syaikh Jangkung. Mrih (agar) pana (mengetahui) pranaweng ( pranawa ing, terang, jelas) kapti (kehendak). Agar mengetahui dengan jelas yang dikehendaki (hati). Bahwa seseorang itu terdinding dengan hatinya. Apa keinginan hatinya sendiri seringkali tidak disadari. Oleh karena itu perlu terus mengasah akal budi agar nalar kita peka terhadap kehendak hati. Tis tising (yang dituju, maksud) tyas (hati) marsudi (berusaha sungguh). Mardawaning (kelembutan) budya (budi, pikiran) tulus (tulus). Maksud hati mencapai kelembutan budi yang tulus. Jika kita bersungguh-sungguh melatih diri dengan berguru dan menjalani berbagai laku maka akan tercapai kelembutan hati, setulus-tulusnya. Sehingga apa yang tersembunyi dari kehendak hati menjadi terang. Mesu (berusaha keras, memaksa diri agar mampu) reh (segala hal) kasudarman (tentang kebajikan). Darma adalah perbuatan yang dilakukan untuk orang lain atau disebut kebajikan, kasudarman bermakna segala sesuatu tentang kebajikan. Berusaha keras untuk mempelajari ilmu tentang kebajikan. Karena kebajikan bukan teori semata-mata, maka memperlajari ilmu kebajikan adalah sebuah tindakan praktik, atau disebut laku. Di awal-awal telah saya singgung tentang suluk. Nanti akan bertemu tentang bait bahwa ilmu adalah laku. Neng (di) tepining (tepinya) jalanidhi (samudra). Di tepi samudra. Ini adalah tempat yang sering dipakai oleh Panembahan Senopati untuk menyepi. Di tempat inilah Sunan Kalijaga pernah hadir memberi wejangan kepada Senopati bagaimana harus menjadi raja yang baik. Sruning (karena kerasnya) brata (bertapa) kataman (mendapat) wahyu (anugrah) dyatmika (halus, kerohanian, Ilahiah). Karena kerasnya bertapa sehingga mendapat anugrah Ilahi. Wahyu dalam konsep budaya jawa adalah anugrah Ilahi yang berupa pencerahan atau penyingkapan sehingga yang menerima wahyu menjadi naik derajat spiritualnya. Dalam kisah klasik semisal pewayangan wahyu dipersonakan sebagai senjata yang ampuh sehingga dapat dipakai untuk mencapai tujuan tertentu, misal menjadi raja. Tentu saja ini hanya kiasan saja agar penonton lebih mudah dalam memahami.  

Bangkit Mangukut Jiwangga

Kajian Wedatama (12): Bangkit Mangukut Jiwangga Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, bait ke-12, Pupuh Pangkur. Bait ini berisi wejangan bagaimana seharusnya bertindak jika menerima wahyu Ilahi. Menerima wahyu di sini bisa diartikan mendapat pencerahan, ilham atau belajar memperdalam Al Quran sehingga benar-benar paham akan kandungannya. Ini bait yang agak berat dan saya berharap mendapat hidayah dalam menguraikannya. Semoga tidak salah tafsir. Selengkapnya bait ke-12 adalah sebagai berikut: Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ilmu bangkit. Bangkit mikat reh mangukut, kukuting jiwangga. Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, lire sepuh sepi hawa. Awas roroning atunggil. Terjemahan dalam bahasa Indonesia secara tekstual: Siapa yang mendapat wahyu Ilahi, lalu segera mampu menguasai ilmu. Mampu menguasai ilmu kasampurnan, kasampurnan diri pribadi. Orang yang demikian yang pantas disebut orang tua, Arti tua adalah jauh dari hawa nafsu. Tajam dalam melihat dwi tunggal. Kajian makna secara rinci kata per kata: Sapantuk (dari kata sapa antuk, siapa mendapat) wahyuning (ilham atau pencerahan) Allah (Allah), gya (bersegera) dumilah (bercahaya, bersinar) mangulah (menguasai, melakukan) ilmu (ilmu) bangkit (mampu). Siapa yang mendapat wahyu Ilahi, lalu segera mampu menguasai ilmu. Siapa yang mendapat pencerahan, maka serta-merta bersinarlah ia sehingga mampu menguasai ilmu. Ini berkenaan dengan petunjuk Allah kepada manusia. Barang siapa Dia kehendaki untuk suatu perkara maka akan dimudahkanNya caranya. Serta-merta, bersegera seseorang menjadi semangat dalam menunut ilmu sehingga menjadi mudahlah ilmu itu meresap dalam jiwanya. Bangkit (dapat, mampu, bersemangat) mikat (memikat) reh (segala hal) mangukut (mengemasi), kukuting (mengemasi) jiwangga (jiwa, kedirian). Mampu menguasai ilmu kesempurnaan, kesempurnaan diri pribadi. Dalam hal ini saya melihat bahwa yang dimaksud oleh dua gatra ini adalah seseorang yang menjadi bersemangat untuk meniadakan diri, dalam arti memutus ego, kedirian. Sudah kita ketahui bersama bahwa penghalang manusia dan hakekat adalah nafsu yang egosentris. Ego ini menjadi pangkal dari segala sifat buruk, sombong, takabur, ujub, dan pongah. Jika seseorang bisa mretheli, melepas, mencopot (mangukut) sifat-sifat buruknya tadi, maka terbukalah kesempurnaan ilmunya. Copotnya sifat-sifat buruk berarti juga copotnya ego (kedirian). Dia kemudian dapat melihat segala sesuatu sebagai ayat-ayat Allah, tanda-tanda kebesaranNya. Yen (jika) mangkono (demikian) kena (bisa) sinebut (disebut) wong (orang) sepuh (tua), lire (arti) sepuh (tua) sepi (jauh dari) hawa (hawa nafsu). Orang yang demikian yang pantas disebut orang tua, arti tua adalah jauh dari hawa nafsu. Jika demikian bisa disebut sebagai orang tua. Arti tua di sini adalah sudah mampu menyingkirkan hawa nafsu. Sepi hawa adalah ungkapan untuk orang yang sudah tidak banyak keinginan lagi. Dalam budaya Jawa tua memang tidak selalu berkaitan dengan umur. Sering kali ungkapan wong tuwa dipakai untuk menyebut orang pintar dalam olah kebatinan, tempat para warga bertanya dan minta nasehat. Bahkan dukun juga sering dipanggil wong tuwa, semata-mata karena dianggap tahu tentang hal-hal ghaib. Awas (tajam penglihatan, kiasan untuk pengertian yang sempurna) roroning (duanya) atunggil (menjadi satu). Tajam dalam melihat dwi tunggal. Makna gatra ini sesuai konteks adalah merujuk kepada orang yang sudah menguasai tentang konsep dualisme dalam penciptaan. Kata awas sering dipakai untuk menyebut orang yang pandangannya tajam, ini adalah kiasan bagi orang yang telah menguasai ilmu sejati, yakni yang telah memahami kesatuan wujud. Antara yang lahir dan yang batin sebenarnya adalah satu wujud, hanya beda penampakan laksana dua sisi mata uang. Siang dan malam adalah satu putaran waktu, keduanya tak beda. Pria dan wanita adalah sama-sama manifestasi nama-nama ilahi dalam kadar yang parsial, pernikahan menyatukan keduanya. Demikianlah dualisme dalam ciptaan, yang sebenarnya adalah satu. Namun karena diri kita parsial maka terlihat sebagai dualisme. Jika kita telah menjadi manusia paripurna (insan kamil) atau univers maka dualisme lenyap dan tampak jelas kesatuan wujud. Inilah yang disebut tauhid sejati. Yang diciptakan adalah manifestasi dari Yang Menciptakan, jadi hanya ada satu wujud sejati. Ini adalah konsep Satunggaling Kawula-Gusti. Saya cukupkan dulu, karena pokok bahasan kita bukan tentang ini. Kajian Wedatama (13): Sumusuping Rasa Jati Tembang Pangkur pada bait ke-13 Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV di bawah ini sering dipakai untuk suluk oleh para dalang pada pertunjukan wayang kulit. Biasanya dipakai saat adegan raja sedang masuk di kamar pemujaan dengan maksud untuk mendapat petunjuk atas masalah yang dihadapi. Kandungan makna bait ini memang sangat pas dengan adegan tersebut. Bait ini menggambarkan keadaan orang yang mendapat pencerahan melalui muhasabah dalam uzlah, ketika menyepi, mengasingkan diri. Bahwa datangnya pencerahan masuk ke dalam hati di waktu antara tidur dan jaga, sekelebat seolah melesatnya mimpi. Selengkapnya bait ke-13 adalah sebagai berikut: Tan samar pamoring suksma, sinuksmaya winahya ing ngasepi. Sinimpen telenging kalbu, pambukaning warana. Tarlen saking liyep layaping aluyup, pindha pesating sumpena. Sumusuping rasa jati. Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia: Tak ragu menyatunya citra Suksma (Ilahi), meresapnya didapatkan di waktu sepi, Tersimpan di dalam hati, sebagai pembuka tirai. Antara keadaan jaga dan tidur, seperti kilatan mimpi. Merasuknya rasa sejati. Kajian per kata: Tan (tak) samar (keraguan) pamoring (menyatunya) suksma (ruh, yang dimaksud adalah wahyu Ilahi), sinuksmaya (meresap kedalam) winahya (didapatkan) ing ngasepi (ketika sepi). Tak ragu menyatunya citra Suksma (Ilahi), meresapnya didapatkan di waktu sepi, Kata pamor berasal dari amor yang artinya mengumpul atau menyatu. Pamor artinya sebuah keadaan penyatuan. Kata pamor juga mengingatkan kita pada pamor keris, yakni motif yang timbul pada bilah keris akibat metode tempa logam. Motif pamor ini akan semakin terlihat jelas jika keris sudah berusia lama, dan disebut pecah pamore, artinya keindahan keris makin tampak jelas. Pamor pada keris membuat keris kelihatan indah laksana mengeluarkan sinar. Oleh karena itu pamor juga sering diartikan sebagai pancaran keindahan. Kata pamor juga dipakai pada kalimat: bocan wadon kuwi sudah pecah pamore (anak gadis itu sudah bersinar pamornya). Kalimat ini dipakai untuk menggambarkan gadis yang sudah melewati usia akil baligh, sudah nampak pesona kecantikannya. Suksma di sini sesuai konteks bisa diartikan Suksma (pakai S besar), artinya ruh atau Citra Ilahi. Disebut citra karena sesungguhnya yang menyatu bukanlah Dzat Allah, melainkan kesadaran ilahiyah yang bangkit dari dalam hati. Sebenarnya di dalam diri manusia telah ditiupkan Citra Ilahiyah tersebut dalam bentuk ruh, yang menyertai manusia sejak lahir. Namun dalam kehidupan ruh ini tersembunyi jauh di dasar wujud manusia. Melalui penggalian yang keras (di dalam diri), akhirnya ditemukan. Laksana seorang penambang permata yang menemukan sebongkah permata di dasar palung diri manusia. Sedangkan winahya berarti kawedhar, atau tampak atau sudah muncul, sudah didapatkan. Sehingga gatra tersebut dapat diartikan, tak ada keraguan menyatunya citra Ilahi, meresapnya dalam hati didapatkan ketika sepi. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa seringkali kita menyepi, sengaja mengasingkan diri agar mendapat petunjuk atas masalah yang kita hadapi atau untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Misalnya pada saat-saat malam ketika sepi dengan shalat malam, bermuhasabah, mengadu kepada Allah, berkhalwat dengan Allah. Di waktu-waktu tersebut kadang kita mendapat pencerahan sehingga mendapatkan kesadaran baru. Kita sebut pencerahan karena tiba-tiba kita menjadi cerah, seperti kena sinar yang memancar (pamor). Sinimpen (tersimpan) telenging (pusat, di dalam) kalbu (hati), pambukaning (sebagai pembuka) warana (tirai). Tersimpan di dalam hati, sebagai pembuka tirai. Pencerahan, ilham atau inspirasi yang kita dapatkan tadi tiba-tiba tersimpan dalam hati, menjadi pembuka bagi segala keruwetan yang menimpa, solusi bagi permasalahan yang ada. Jadi sifatnya bisa tiba-tiba, mak bedunduk ada dalam pikiran kita, oh begini! Tarlen (tak lain) saking liyep(tidur ayam) layaping (keadaan orang setengah ingat setengah tidak) aluyup (ngantuk), pindha (seperti) pesating (melesatnya) sumpena (mimpi). Antara keadaan jaga dan tidur, seperti kilatan mimpi. Pencerahan tadi datang ke dalam hati ketika kita justru sedang tidak konsentrasi masalah yang ada, ibaratnya seperti orang yang setengah jaga setengah tidur, tiba-tiba terilhami akan sesuatu. Terbersit dalam hati seperti kilatan mimpi, sekejab saja. Plass! Dan tiba-tiba kita telah mendapat solusi atas masalah kita. Anda semua pasti pernah mengalami seperti ini. Sumusuping (merasuk) rasa (rasa) jati (sejati). Merasuknya rasa sejati. Bagi yang sudah terbiasa melakukan uzlah untuk bermuhasabah, bermujahadah, datangnya pencerahan bisa berulang sehingga merasuklah ke dalam hati ilmu rasa sejati. Dalam bait- bait yang lalu telah disinggung bahwa watak ilmu sejati adalah menyenangkan hati, oleh karena itu datangnya pencerahan ini juga membuat hati menjadi tenteram. Tak heran kalau orang bisa sangat menikmati saat-saat sedang menyendiri, bertapa, meditasi, shalat malam atau berbagai macam ritual meditasi lainnya. Kajian Wedatama (14): Mulih Mula Mulanira Bait ini adalah akhir dari Pupuh Pangkur yang berjumlah 14 bait. Menarik untuk disimak bahwa Wedatama memulai piwulang tentang kehidupan justru dengan memakai tembang Pangkur. Di dalam budaya Jawa Pangkur sering diartikan sebagai mungkur saka kadonyan, memalingkan diri dari keduniawian. Tampaknya serat Wedatama memang ditujukan bagi kalangan orang tua yang sudah separuh perjalanan menempuh kehidupan. Ini ditandai dengan kalimat, mingkar-mingkuring angkara, akarana karenan mardisiwi pada bait pertama. Kandungan pesan pada bait terakhir Pupuh Pangkur ini semakin mengukuhkan kesan tersebut. Selengkapnya bait ke-14: Sejatine kang mangkana, wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi. Bali alaming ngasuwung, tan karem karameyan. Ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira. Mulane wong anom sami. Terjemahan bait ini ke dalam Bahasa Indonesia: Sebenarnya yang demikian itu, sudah mendapat anugrah Tuhan yang Maha Benar. Kembali ke alam kosong (keakhiratan), tidak mabuk keramaian (keduniawian). Yang bersifat kuasa menguasai, kembali ke asal mula. Oleh karena itu wahai anak muda semua. Kajian per kata: Sejatine (sebenarnya) kang (yang) mangkana (demikian itu), wus (sudah) kakenan (terkena, mendapat) nugrahaning (anugrah) Hyang (Yang Maha) Widhi (Benar). Sebenarnya yang demikian itu,sudah mendapat anugrah Tuhan yang Maha Benar. Gatra ini bisa dianggap merujuk ke bait sebelumnya, yakni seseorang yang mendapat pencerahan. Yang demikian itu sebenarnya adalah karena anugerah Yang Maha Benar. Jika tidak kita pun akan sulit mencapai hakekat hidup di dunia ini. Tugas kita sebagai manusia hanya menyiapkan diri, adapun turunnya anugrah adalah sepenuhnya kehendak Allah. Bali (kembali) alaming (ke alam) ngasuwung (kosong, maksudnya kosong dari hawa nafsu), tan (tidak) karem (sangat suka, mabuk) karameyan (keramaian, kiasan untuk alam dunia). Kembali ke alam kosong (keakhiratan), tidak mabuk keramaian (keduniawian). Karena anugrah Yang Maha Benar kita dapat kembali ke alam kosong. Kosong di sini adalah kosong dari hawa nafsu. Ini adalah merujuk pada hati yang kosong dari keinginan terhadap dunia, jiwa kemudian condong kepada alam keakhiratan. Tan karem karameyan, adalah tidak suka lagi dengan ramainya dunia, alam materi yang banyak warna-warni dengan segala permasalahannya ini. Ingkang (yang) sipat (bersifat) wisesa (kuasa) winisesa (menguasa) wus (sudah), mulih (pulang) mula (asal) mulanira (mula, muasal). Yang bersifat kuasa menguasai, kembali ke asal mula. Kalau kita perhatika bahwa kehidupan duniawi didominasi nafsu meraih kepentingan diri atau egoisme. Ada yang sangat ingin meraih kekayaan materi sehingga tamak akan harta. Mencari harta-benda dengan cara yang tidak halal. Ada yang syahwat politiknya overdosis sehingga senantiasa menjadi motif dari setiap tindakan. Ada yang kemudian membungkusnya dengan pura-pura memihak kaum lemah. Ada yang membungkus dengan tampilan religius demi menarik simpati ummat. Yang demikian itulah kehidupan duniawi, dengan segala riuh-riak di dalamnya. Maka bait ini mengingatkan agar kembali ke asal mula, yakni makhluk Allah yang muasalnya bukan dari dunia ini tapi dari alam lain yang kelak kita semua akan kembali (mulih). Mulane (oleh karena itu) wong (wahai orang) anom (muda) sami (sekalian, semua). Oleh karena itu wahai anak muda. Gatra ke-7 ini bisa disebut sasmita kepada lanjutan Pupuh berikutnya yakni Pupuh Sinom, maka memakai isyarat kata anom. Selain itu menjadi isyarat bahwa bait-bait berikutnya ajaran piwulang ini, nasehat ini, lebih ditujukan untuk anak muda. Selesai sudah kajian Pupuh Pangkur dari Serat Wedatama. Penggubah serat ini mungkin mendahulukan Pupuh Pangkur sebagai penegasan bahwa mungkur dari kadonyan adalah awal dari kehidupan manusia yang sebenarnya. Kita mungkin disebut mati di alam dunia ini jika kelak umur kita habis, tetapi kita akan hidup di alam lain yang lebih elok, indah dan menyenangkan. Itulah kehidupan yang sejati. Berulang kali kata jati ditekankan pada Pupuh Pangkur agar kita selalu ingat bahwa sejatinya alam kita bukan di sini. Kita masih harus berlatih untuk membuka tabir yang menutupi pandangan kita tentang alam sejati itu. Tip dan triks agar tabirnya terbuka adalah dengan meninggalkan perbuatan tercela (angkara), menahane (nahen) hawa nafsu, bermuhasab, bermujahadah di kesepian (ngasepi) agar memancar cahaya Ilahi (pamoring Suksma) kepada diri kita. Jika sudah demikian rasa jati akan sumusup ing jiwangga, ilmu rasa jati akan merasuk dalam jiwa.  

Nalar Pating Saluwir

Kajian Wedatama (6): Nalare pating saluwir Kita lanjutkan lagi kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-6, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini masih menerangkan keadaan orang bodoh, perumpamaan hidupnya yang mirip dengan deru angin, istilah yang dipakai adalah gumrunggung, berdengung tak beraturan. Selengkapnya bait ke-6 adalah sebagai berikut: Uripe sepisan rusak, nora mulur nalare ting saluwir. Kadi ta guwa kang sirung, sinerang ing maruta, gumrenggeng anggereng anggung gumrunggung. Pindha padhane si mudha, prandene paksa kumaki. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Hidup hanya sekali berantakan, tidak berkembang, pikiran tercabik-cabik. Ibarat goa gelap menyeramkan, terserang angin, suaranya bising berdengung-dengung. Demikian gambaran anak mudha (yang masih bodoh), namun demikian sombongnya minta ampun. Kajian per kata: Bait ini menggambarkan keadaan hati seorang yang kurang pengetahuan tapi banyak bicara, goyah dan tidak mantap akidahnya. Ibaratnya seperti goa gelap yang dalam, tertiup angin menimbulkan suara gaduh berdengung, tak jelas apa bunyinya. Seperti perilaku anak muda yang masih labil, tetapi sombongnya minta ampun. Uripe (hidupnya) sepisan (satu kali) rusak (berantakan), nora (tidak) mulur (berkembang) nalare (akalnya) ting saluwir (tercabik-cabik, tercerai-berai). Hidup hanya sekali berantakan, tidak berkembang, pikiran tercabik-cabik. Hidup orang bodoh yang tak menguasai ilmu rasa akan rusak berantakan. Akal budi tidak berkembang, tidak punya akidah yang membuatnya bisa berpikir benar. Akalnya bagai tercabik-cabik, tercerai berai. Frasa ting saluwir adalah keadaan seperti daun pisang yang sudah tuwa yang tertiup angin sehingga tercabik-cabik, tercerai berai jika angin datang. Begitulah jalan pemikiran orang-orang bodoh yang tak mengerti ilmu rasa tadi. Kadi ta (seperti) guwa (goa) kang (yang) sirung (dalam, ceruk), sinerang (terkena hembusan) ing (oleh) maruta (angin), gumrenggeng anggereng (berderu-deru), anggung (selalu) gumrunggung (berdengung-dengung). Ibarat goa gelap menyeramkan, terserang angin, suaranya selalu berdengung-dengung. Keadaan hati orang bodoh adalah laksana goa yang dalam ceruknya. Apabila tertiup angin menimbulkan suara deru, jika besar anginnya semakin berdengung-dengung. Suara-suara itu yang tak beraturan dan berirama. Ini adalah kiasan bagi orang yang bicaranya tak ada maknanya, hanya mirip deru angin saja. Pindha (seperti) padhane (sama keadaannya) si mudha (dengan anak mudha, bodoh), prandene (namun demikian) paksa (memaksa) kumaki (sombong). Demikian gambaran anak mudha (yang masih bodoh), namun demikian sombongnya minta ampun. Keadaan orang bodoh juga mirip keadaan anak muda yang belum dewasa. Oleh karena itu dalam bahasa Jawa lama kata mudha juga berarti bodoh. Gatra ini mengingatkan kepada frasa senajan tuwa pikun pada bait ke-2, yakni orang yang sudah tua seharusnya memahami ilmu rasa, tidak berkelakuan seperti anak muda, yang memaksakan diri bertingkah sombong. Bait ini menggambarkan isi hati orang bodoh. Nalarnya tidak berkembang, tercerai berai karena tak punya akidah yang mantap. Isi hatinya penuh dengan gejolak, berbolak-balik, penuh berbagai bisikan-bisikan liar, berdengung-dengung tak karuan. Ini jelas bukan pencapaian yang diharapkan bagi orang yang sudah lanjut usia. Bahkan, perilakunya juga masih seperti anak muda yang labil, bersikap sangat sombong. Kajian Wedatama (7): Ngandelaken Yayah Wibi Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-7, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang bodoh yang perilakunya masih seperti anak muda. Belum mampu hidup mandiri selayaknya seorang yang sudah harus memikul tanggung jawab. Selengkapnya bait ke-6 adalah sebagai berikut: Kikisane mung sapala, palayune ngendelaken yayah wibi, bangkit tur bangsane luhur, Lha iya ingkang rama, balik sira sasrawungan bae durung. Mring atining tatakrama, nggon anggon agama suci. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Tekadnya remeh sekali, bila menghadapi masalah berlindung di balik orang tuanya, yang terpandang dan bangsawan. Itu kan ayahnya, sedangkan kamu belum lagi mengenal. Dengan intisari sopan santun, yang merupakan ajaran agama suci. Kajian per kata: Kikisane (batas tekadnya) mung (hanya) sapala (sedikit, kecil, remeh), palayune (larinya) ngendelaken (mengandalkan) yayah (ayah) wibi (ibu), bangkit (berdiri, kiasan untuk orang terpandang) tur (dan) bangsane luhur (berkedudukan tinggi). Tekadnya remeh sekali, bila menghadapi masalah berlindung di balik orang tuanya, yang terpandang dan bangsawan, Inilah gambaran orang yang tidak dewasa, seperti anak kecil. Tekadnya sangat terbatas, jika ada masalah langsung lari mengandalkan orang tuanya, yang mempunyai jabatan dan pangkat yang tinggi. Perilaku seperti ini masih sering kita jumpai di masa kini, dan juga sudah ada di zaman dulu. Seorang anak muda (atau pun sudah tua) yang masih mengandalkan orang tuanya, walaupun seharusnya dia sudah hidup mandiri karena sudah dewasa. Lha iya (itukan) ingkang rama (ayahnya), balik (sedangkan) sira (kamu) sasrawungan (mengenal) bae (saja) durung (belum). Itu kan ayahnya, sedangkan kamu belum lagi mengenal. Gatra ini mempertanyakan, itukan ayahmu, lha kamu? Sedangkan kamu mengenal saja belum. Kenal apa? Jawabannya di gatra selanjutnya. Mring (terhadap) atining (intisari) tatakrama (sopan santun), nggon (tempat) anggon (pakaian) agama suci. Dengan intisari sopan santun, yang merupakan ajaran agama suci. Anggon di sini berarti makna kiasan untuk sifat yang melekat pada seseorang, terhadap intisari sopan santun, pakaian yang seharusnya dipakai oleh orang yang beragama. Bait ini cukup jelas menerangkan sifat orang yang terlambat dewasa. Tekadnya lemah sekali. Jika ada masalah lari ke orang tuanya, mengandalkan kedudukan, pangkat dan jabatannya. Lha itu kan ayahnya? Sedangkan dia sendiri seharusnya juga mengerti sopan santun, adab yang berlaku dalam masyarakat. Itulah pakaian (sifat-sifat) yang seharusnya dipakai oleh orang beragama. Kajian Wedatama (8): Katungkul Reh Kaprawiran Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-8, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang yang terlena mengejar kehebatan dalam hal keperwiraan. Jika dilihat konteks ketika kitab ini ditulis sangat mungkin yang dimaksud adalah orang yang terlena mengejar kedudukan, karena pada jaman itu keperwiraan erat kaitannya dengan kekuasaan atau pengikut (prajurit) yang banyak. Selengkapnya bait ke-8 adalah sebagai berikut: Socaning jiwangganira, jer katara lamun pocapan pasthi. Lumuh asor kudu unggul, semengah sesongaran, Yen mangkono kena ingaranan katungkul, karem ing reh kaprawiran. Nora enak iku kaki. Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia: Intisari sifat-sifat pribadimu, pasti akan tampak ketika bertutur kata. Tak mau kalah harus menang, sombong dan membanggakan diri. Yang demikian itu bisa disebut terlena, tergila-gila pada kehebatan (diri). Tidak baik itu nak! Kajian per kata: Socaning (mata, intisari) jiwangganira (pribadi, sifat-sfat pribadimu), jer katara (akan kelihatan) lamun (ketika) pocapan (berucap) pasthi (pasti). Intisari sifat-sifat pribadimu, pasti akan tampak ketika bertutur kata. Gatra ini menyatakan bahwa kepribadian seseorang pasti akan tampak dari cara ia bertutur kata. Orang yang bertutur kata dengan santun dan sabar pastilah pribadinya telah terlatih dalam olah ilmu rasa. Sedangkan tutur kata yang kasar, memaki, nyinyir dan tak pernah menghargai sesama pastilah muncul dari pribadi yang penuh kedengkian. Lumuh (tak mau) asor (kalah) kudu (harus) unggul (menang), semengah (sombong) sesongaran (membanggakan diri di depan orang banyak). Tak mau kalah harus menang, sombong dan membanggakan diri. Di sini digambarkan sifat orang yang tak mau kalah, selalu harus menang. Senantiasa menyombongkan diri di depan orang banyak. Orang ini menganggap bahwa mengalahkan orang lain itu penting, sehingga harus selalu menang. Orang berwatak seperti ini suka memamerkan kelebihan diri agar eksis dalam pergaulan luas. Baginya penting untuk selalu tampil lebih baik daripada orang lain. Yen (kalau) mangkono (demikian itu) kena (bisa) ingaranan (disebut) katungkul (terlena), karem (sangat suka, tergila-gila) ing (pada) reh (segala hal) kaprawiran (tentang keperwiraan). Nora (tidak) enak (nyaman, tak baik) iku (itu) kaki (nak). Yang demikian itu bisa disebut terlena,tergila-gila pada kehebatan (diri). Tidak baik itu nak! Gatra terakhir ini menggambarkan orang yang terlena dengan keperwiraan, kemenangan dan kehebatan diri. Padahal seharusnya dia sudah harus mulai ngudi kasampurnaning urip, mencari kesempurnaan hidup. Kata katungkul menandakan bahwa hal-hal yang dilakukan itu sudah melebihi porsi yang seharusnya. Yang demikian itu tidak baik nak! Bait ini memberi petuah bahwa kepribadian kita akan terpancar dalam tutur kata kita sehari- hari. Seharusnya semakin bertambah usia tutur kata semakin santun dan sabar, perilaku juga harus mulai tampak lebih bijaksana. Jika masih suka bertengkar dan tak mau kalah, masih mengunggul-unggulkan kehebatan diri, berlaku sombong dan berbangga diri, pertanda bahwa yang bersangkutan terlena dalam mencari keperwiraan. Yang demikian itu adalah sifat yang tidak terpuji, tanda bahwa pribadinya belum dewasa. Itu tidak baik! Kajian Wedatama (9): Kekerane Ngelmu Karang Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-9, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang yang mengaku menguasai ilmu gaib, padahal sebenarnya hanya hasil karangannya sendiri saja. Praktik seperti ini banyak kita jumpai pada dunia perdukunan. Banyak orang mengaku mendapat bisikan gaib sehingga dapat menolong orang, padahal ilmu yang berdasarkan hal-hal tersebut bukanlah intisari dari ilmu yang sejati. Ibarat pengetahuan hanya pada kulit terluar saja, belum masuk ke dalam hakekat ilmu. Selengkapnya bait ke-9 adalah sebagai berikut: Kekerane ngelmu karang, Kekarangan saking bangsaning gaib. Iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sanjabaning daging kulup. Yen kapengkok pancabaya, upayane mbalenjani. Terjemahan secara tekstual ke dalam bahasa Indonesia: Di dalam penguasaan ilmu rekaan, rekaan dari hal-hal gaib. Itu ibarat bedak, tidak meresap ke dalam jiwa, hanya ada di luar daging saja nak! Apabila terbentur mara bahaya, tak dapat diandalkan (Yang disanggupi diingkari). Kajian per kata: Kekerane (dalam penguasaan) ngelmu (ilmu) karang (rekaan), Kekarangan (rekaan) saking (dari) bangsaning (sejenis hal) gaib (ghaib). Di dalam penguasaan ilmu rekaan, rekaan dari hal-hal gaib. Maksud gatra ini adalah ilmu perdukunan yang berlandaskan bisikan ghaib (wisik). Orang tersebut sebenarnya hanya mereka-reka berdasarkan wangsit (isyarat ghaib) yang merasa dia terima. Padahal belum tentu itu benar-benar ilham dari Yang Maha Kuasa, alih-alih hanya merupakan angan-angannya sendiri saja. Ilmu yang demikian itu sangat berbahaya bila kita percayai. Iku (itu) boreh (bedak) paminipun (seumpama), tan (tidak) rumasuk (meresap) ing (di dalam) jasad (tubuh), amung (hanya) aneng (berada di) sanjabaning (luar) daging (daging), kulup (nak). Itu ibarat bedak, tidak meresap ke dalam jiwa, hanya ada di luar daging saja nak! Ilmu rekaan tadi hanyalah tampak seperti ilmu di permukaan, laksana orang memakai bedak. Tidak meresap dalam hati, seumpama bedak yang hanya di permukaan kulit, tidak masuk ke dalam tubuh. Hanya berada di luar daging saja. Jadi hanya tampak seperti ilmu saja, alias ilmu palsu. Maka waspadalah wahai anak muda! Yen (kalau) kapengkok (bertemu) pancabaya (marabahaya), upayane (usahanya) mbalenjani (mengingkari). Apabila terbentur mara bahaya, yang disanggupi diingkari. Maksud dari gatra ini adalah jika betul-betul bertemu dengan marabahaya, ilmu yang digembar-gemborkan tadi tak dapat diandalkan. Semua upaya yang disyaratkan akan sia-sia, tanpa hasil. Sejak jaman dahulu orang mengaku-aku pinter itu sudah menjadi jamak lumrah (kebiasaan). Pada jaman sekarang pun juga masih banyak ditemukan, terutama pada dunia perdukunan. Banyak orang percaya karena mereka mengaku sebagai orang pintar yang mendapat bisikan langit. Wangsit atau isyarat dari langit adalah klaim mereka ketika meramalkan langkah apa yang disarankan kepada klien. Selain itu ada wisik atau bisikan halus yang greed-nya lebih jelas. Kita tidak menyangkal ada beberapa orang memang mempunyai kemampuan seperti itu. Namun ada banyak orang yang hanya mengaku-aku saja. Celakanya golongan terakhir ini lebih agresif mencari mangsa. Orang-orang yang sedang galau seringkali menjadi korban. Bait tembang Pangkur di atas memberi petuah agar kita waspada, bahwa pemilik ilmu sejati tidak akan berperilaku demikian. Orang yang bener-bener pintar akan membenamkan ilmunya sehingga tak seorang pun tahu. Sedangkan yang banyak bicara adalah orang yang mengaku-aku, ilmunya palsu. Kajian Wedatama (10): Puruhita Kang Patut Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, bait ke-10, Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan pentingnya menjaga hati agar selalu penuh kebaikan. Caranya antara lain dengan berguru sesuai kemampuan diri, menepati aturan yang berlaku dalam masyarakat dan senantiasa mengikuti rukun-rukun beribadah kepada Sang Pencipta. Selengkapnya bait ke-10 adalah sebagai berikut: Marma ing sabisa-bisa, bebasane muriha ing tyas basuki. Puruhita kang patut, lan traping angganira. Ana uga angger ugering kaprabun, abon-aboning panembah, kang kambah ing siyang ratri. Terjemahan secara tekstual ke dalam bahasa Indonesia: Oleh karena itu sebisa-bisanya, berusahalah menjaga hati. Berguru secara pantas, dan sepadan dengan kemampuan diri. Ada juga aturan dan pedoman bernegara, perlengkapan beribadah, yang diamalkan siang dan malam. Kajian per kata: Marma (oleh karena) ing sabisa-bisa (sebisa-bisanya, maksudnya usahakan secara maksimal), bebasane (seumpama) muriha (agar supaya) ing (dalam) tyas (hati) basuki (selamat). Oleh karena itu sebisa-bisanya, berusahalah menjaga hati. Maksud dari gatra ini adalah sebisa-bisanya, artinya dengan usaha maksimal untuk menjaga hati, agar selalu penuh keselamatan. Yang dimaksud adalah menjaga agar hati tak dijangkiti penyakit hati berupa sombong, dengki, meremehkan orang, ugungan (gila pujian), malas (hanya mengandalkan orang tua), seperti yang digambarkan pada bait-bait sebelumnya. Puruhita (berguru) kang (yang) patut (pantas), lan (dan) traping (sesuai) angganira (keadaanmu). Berguru secara pantas,dan sepadan dengan kemampuan diri. Agar hati kita terjaga dari penyakit maka kita harus berguru menuntut ilmu rasa. Maka penting di sini untuk mencari guru yang pantas digurui agar kita dapat belajar darinya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Ana (ada) uga (juga) angger (aturan) ugering (pedoman) kaprabun (kerajaan) , abon- aboning (perlengkapan) panembah (beribadah), kang (yang) kambah (disentuh, lebih tepat diartikan: diamalkan) ing (di) siyang (siang) ratri (malam). Selain harus belajar juga harus mengikuti aturan dan pedoman bernegara dan hidup bermasyarakat. Hal ini berkaitan dengan sikap kita yang harus bergaul dengan baik dengan orang lain, hablumminannaas. Yang tak kalah penting adalah mengamalkan tatacara atau rukun (perlengkapan) beribadah kepada Sang Pencipta, yang harus dilakukan siang malam, hablumminallah. Tanpa kedua hal ini niscaya sulit dicapai keadaan hati yang bebas dari penyakit. Keadaan harmonis secara horinzontal dengan sesama manusia dan lingkungan, dan harmonis secara vertikal dengan Sang Pencipta adalah prasarat tercapainya hati yang selamat, tyas basuki tadi. Kajian Wedatama (11): Nggeguru Mring Kang Tulus Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-11, masih dalam Pupuh Pangkur. Jika bait terdahulu memberi arahan agar kita berguru secara pantas sesuai kemampuan, bait ini berisi anjuran untuk berguru pada orang-orang yang mampu mengendalikan diri, berhati tulus dan kuat menahan hawa nafsu. Guru yang demikian adalah pemilik ilmu sejati. Ada kalanya bisa ditemui di mana saja, tidak harus berusia tua, bahkan bisa dari kalangan anak muda dan orang biasa. Selengkapnya bait ke-11 adalah sebagai berikut: Iku kaki takokena, marang para sarjana kang martapi. Mring tapaking tepas tulus, kawawa nahen hawa. Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu, tan mesthi neng jamna wredha. Tuwin mudha sudra kaki. Terjemahan secara tekstual ke dalam Bahasa Indonesia. Begitulah nak, bertanyalah, kepada para sarjana yang bertapa. Yang mampu menerapkan hati tulus, kuat menahan hawa nafsu. Ketahuhilah bahwa ilmu sejati, tak selalu berada pada orang lanjut usia, Dan adakalanya dari orang mudha atau orang biasa nak! Kajian per kata: Iku (begitulah) kaki (nak) takokena (bertanyalah), marang (kepada) para (para) sarjana (sarjana, orang pintar) kang (yang) martapi (bertapa). Begitulah nak, bertanyalah, kepada para sarjana yang bertapa. Berguru hendaknya tidak kepada sembarang orang tetapi kepada yang benar-benar pantas digurui. Gatra ini menunjukkan ciri orang tersebut, yakni para orang pandai yang gemar bertapa. Kalau dalam konteks jaman dahulu berarti mengasingkan diri dari keramaian, dalam konteks jaman modern bertapa adalah menjauhkan diri dari kepentingan diri sendiri, semisal keinginan untuk berkuasa, untuk mengeruk keuntungan, dll. Mring (kepada) tapaking (jejaknya, berkesan mampu) tepas (menerapkan) tulus (hati tulus), kawawa (kuat) nahen (menahan) hawa (hawa nafsu). Yang mampu menerapkan hati tulus, kuat menahan hawa nafsu Yang telah mampu menerapkan dalam dirinya sifat tulus, kuat menahan godaan hawa nafsu. Orang yang telah berlatih menahan diri, sifat-sifatnya akan berkesan dalam perilaku sehari- hari. Nah lihatlah itu! Orang tersebut telah mampu menahan godaan nafsu duniawi. Jika dia berkuasa pasti mampu menahan godaan untuk berlaku zhalim, jika sedang berada dalam posisi sebagai guru pasti akan mampu menghindari nafsu mengeruk keuntungan. Nah, kepada orang seperti inilah hendaknya kita berguru. Wruhanira (ketahuilah) mungguh (bahwa) sanyataning (sejatinya) ngelmu (ilmu), tan (tak) mesthi (selalu) neng (ada) jamna (orang) wredha (tua), tuwin (dan adakalanya) mudha (dari orang muda) sudra (orang remeh, orang biasa) kaki (nak). Ketahuhilah bahwa ilmu sejati, tak selalu berada pada orang lanjut usia. Dan adakalanya didapat dari orang mudha atau orang biasa nak! Ketahuilah, bahwa orang-orang pintar dengan kemampuan seperti di atas tidak selalu harus berusia tua, adakalanya masih muda, dari kalangan orang yang kelihatan remeh. Ketahuilah Nak! Jadi di sini ditegaskan bahwa ilmu yang sejati adalah milik mereka yang mampu menjalani pantangan dari berbagai godaan duniawi. Usia tua bukan jaminan seseorang lebih menguasai ilmu sejati, yakni ilmu rasa yang sudah sering disinggung pada bait-bait awal. Berkedudukan tinggi, terhormat dalam masyarakat juga bukan jaminan seseorang lebih berilmu. Malah adakalanya ilmu sejati justru dikuasai mereka yang dalam keseharian kita anggap remeh. Maka bagi yang hendak berguru harus teliti dan cermat mengenali orang-orang tersebut.

Agama Ageming Aji

SERAT WEDATAMA  PUPUH PANGKUR Kajian Wedatama (1): Agama Ageming Aji Dalam budaya Jawa ada ungkapan Agama ageming Aji. Apa maknanya? Marilah kita lihat dahulu arti menurut kata per kata. Agem artinya pakai, ageman artinya pakaian, ageming dari kata agem dan ing, artinya pakaianya atau dipakai oleh. Sedangkan aji berarti bernilai atau mulia, bisa juga berarti raja. Dua arti ini masih berkaitan karena raja biasanya di-aji-aji alias dihormati. Agama ageming aji bisa berarti agama adalah pakaian para raja, bisa juga berarti agama adalah pakaian orang mulia. Dari dua pengertian itu yang terakhir lebih universal, berlaku pada semua orang, karena ungkapan orang Jawa untuk memeluk agama adalah ngrasuk, contoh: ngrasuk agami Islam. Rasukan adalah sinonim dari ageman, yang artinya pakaian. Ungkapan agama ageming aji terdapat pada serat Wedatama, pada Pupuh Pangkur, bait pertama. Tembang selengkapnya adalah: Mingkar mingkuring angkar, akarana karenan mardisiwi.  Sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta.  Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung.  Kang tumrap neng tanah Jawa, agama ageming aji. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara, karena berkehendak mendidik anak. Dibingkai dalam bentuk syair dan lagu, Dihias dan diperbagus, Biar menjiwai praktik ilmu luhur Yang bagi orang di tanah Jawa Agama adalah pakaian orang mulia Kajian per kata: Mingkar (menghindar) mingkuring (membelakangi) angkara (sifat angkara), akarana (karena) karenan (hendak) mardisiwi (mendidik anak). Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara, karena berkehendak mendidik anak. Pendidikan yang paling efektif bagi anak adalah memberikan contoh. Di sini orang tua sebelum memberi perintah untuk melakukan hal-hal yang baik dan melarang yang buruk hendaknya melakukan sendiri terlebih dahulu. Seorang ayah yang berkehendak untuk mendidik anak, maka hendaknya menghindari perilaku buruk agar kelak si anak dapat mencontoh ayahnya. Sinawung (dibingkai, disamarkan) resmining (dalam keindahan) kidung (lagu), sinuba (dihias) sinukarta (diperbagus). Dibingkai dalam keindahan lagu, dihias dan diperbagus (syairnya). Dalam mendidik anak hendaknya dilakukan dengan bahasa yang baik dan cara yang bijaksana. Sinawung resmining kidung artinya nasehat tadi dibingkai dalam bentuk lagu, seperti bait-bait serat Wedatama ini. Dalam bentuk lagu yang mendengar akan berkesan dan mengingat selalu nasihat yang disampaikan. Ini juga mengandung kiasan agar dalam memberi nasihat hendaknya dilakukan dengan perkataan baik, agar yang mendengar senang dan berkesan, bukan malah marah dan tersinggung. Sinuba sinukarta bermakna si anak harus diperlakukan dengan selayaknya dan dengan perlakuan yang baik dan mempesona. Semua itu agar si anak tidak tertekan, merasa disayang sehingga timbul kecenderungan terhadap kebaikan. Mrih (agar) kretarta (berkembang) pakartine (perbuatan) ngelmu (ilmu) luhung (luhur). Agar berkembang perbuatan yang berdasar ilmu luhur. Setelah si anak terbiasa melihat contoh dan sudah cenderung ke arah kebaikan maka ia akan mudah untuk dibiasakan melakukan perbuatan baik. Segala amalan kebaikan akan dijiwai dengan sepenuh hati. Si anak akan mengembangkan kebaikan-kebaikan pada dirinya sehingga pada akhirnya si anak akan mencapai tahap ilmu luhung. Ilmu Luhung adalah kesempurnaan ilmu menurut ajaran Jawa, yakni ilmu batin, akhlaki, bukan sekedar petuah- petuah dan juga bukan sekedar gerak tubuh, tetapi pencapaian jiwa. Ini adalah konsep sufistik dari ajaran Jawa, membiasakan diri agar kemampuan batin berkembang. Kang (yang) tumrap (bagi) ing (orang di) tanah Jawa (tanah Jawa), agama (agama) ageming (pakaian) aji (orang mulia). Yang bagi orang Jawa, agama adalah pakaian orang mulia. Nah inilah pamungkas dari seluruh rangkaian pendidikan yakni: kemuliaan jiwa. Seorang yang berjiwa mulia akan sangat pantas berbaju agama. Karena itu redaksi kalimat ini adalah agama ageming aji, yang artinya agama adalah pakaian orang mulia. Jika seseorang berbaju (ngrasuk) agama tetapi belum ada kesiapan mental-spritual maka yang terjadi adalah kemunafikan, berbaju agama tapi culas. Lain di bibir lain di hati. Justru yang seperti ini berbahaya karena akan merusak tatanan kehidupan dan memakai agama untuk kepentingan nafsunya sendiri. Di sini kemuliaan disyaratkan terlebih dulu sebelum ngrasuk agama. Ini bukan berarti orang jahat tidak boleh beragama, yang dimaksud adalah membersihkan hati terlebih dulu dari kehendak jahat atau menjalani pertobatan, agar siap menjalani perintah agama. Seperti halnya kita jika akan berpakaian seyogyanya mandi dulu agar kotoran yang menempel di tubuh tidak menodai pakaian kita.   Kajian Wedatama (2): Sepa Lir Sepah Samun Dalam bait terdahulu yang berjudul Agama Ageming Aji sudah ada sedikit gambaran tentang perlunya sikap batin yang tulus dalam ngrasuk agama bagi seseorang. Karena agama adalah pakaian orang mulia, hendaknya sebelum memakainya terlebih dulu membersihkan diri melalui pertobatan. Mengapa ini perlu? Agar ilmu luhung turun menghias (kretarta) dalam diri kita. Sebab jika tidak walau telah berusia tua, orang tidak mencapai kedewasaan, seperti diungkap dalam bait ke-2 berikut ini: Jinejer ing Wedatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi. Mangka nadyan tuwa piku, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepa lir sepah samu. Samangsane pasamuwan, gonyak-ganyuk nglilingsemi. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Disajikan dalam Wedatama, agar tidak berkurang penuhnya usaha mempertajam akal budi. Bahwa sebenarnya walaupun sudah lanjut usia, kalau tidak mengerti rasa, benar-benar hatinya sepi tanpa rasa seperti ampas yang samar. Bila dalam pertemuan, bertingkah konyol memalukan. Kajian per kata: Jinejer (disajikan, dipertontonkan dengan cara dijajar) ing (dalam) wedatama (nama kitab ini), mrih (agar) tan (tidak) kemba (berkurang, putus asa) kembenganing (penuhnya) pambudi (usaha mempertajam akal budi). Disajikan dalam Wedatama, agar tidak berkurang penuhnya usaha mempertajam akal budi. Dalam kitab Wedatama ini disajikan petuah-petuah agar manusia tidak berkurang dalam upaya mempertajam akal budi. Kata kembeng biasanya dipakai untuk menggambarkan kandungan tanah yang jenuh air sehingga airnya meluap, contoh pada kata: sawahe wis kembeng banyu (sawahnya sudah jenuh air). Frasa kembenganing pambudi menggambarkan orang selalu penuh dengan upaya mempertajam akal budi. Perlu ditekankan di sini yang penuh adalah upayanya. Kalimat di atas tidak merujuk pada kondisi akal budi yang telah tajam, tetapi upaya yang keras untuk menajamkan akal budi. Kelak kita akan bertemu dengan ungkapan: memasah mingising budi (mengasah ketajaman akal budi). Mangka (bahwa sebenarnya, padahal) nadyan (walaupun) tuwa pikun (lanjut usia), yen tan (kalau tidak) mikani (mengerti) rasa (perasaan, rasa dalam konteks kalimat ini juga bisa berarti etika, sopan santun), yekti (benar-benar) sepi asepa (hatinya sepi tanpa rasa) lir (seperti) sepah (ampas) samun (samar, tak kelihatan). Bahwa sebenarnya walaupun sudah lanjut usia, kalau tidak mengerti rasa, benar-benar hatinya sepi tanpa rasa seperti ampas yang samar. Pengertian dari gatra di atas adalah walaupun seseorang telah lanjut usia, jika tidak pernah mengolah rasa, hatinya akan sepi dari kebijaksanaan, tidak tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, selayaknya ampas yang tak berguna. Frasa sepi asepa berarti hatinya sepi tanpa rasa. Sepa sering dipakai untuk menyebut rasa makanan yang kurang bumbu, rasanya tak enak seperti tak dibumbui. Maknanya adalah hati yang tumpul tak mampu mengenali situasi, perasaan orang lain, tak mampu menangkap isyarat atau tanda-tanda zaman. Lir sepah samun, artinya seperti ampas yang samar, tak kelihatan, tak ada gunanya. Samangsane (jika pada waktu) pasamuwan (pertemuan), gonyak-ganyuk (bertindak ceroboh, bertingkah konyol) nglilingsemi (memalukan, membuat malu kawan atau saudara). Jika pada waktu pertemuan, bertingkah konyol memalukan. Jadi orang yang tidak terbiasa mengolah rasa tidak akan punya kepekaan terhadap lingkungan, manakala dalam pertemuan atau bertemu dengan orang banyak, atau dalam pergaulan luas seringkali bertindak ceroboh, bertingkah konyol sehingga membuat malu sanak saudara dan kawan-kawan.     Kajian Wedatama (3): Sesadon Ing Adu Manis Kita melanjutkan kajian kita tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, pada bait ke-3, Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan tentang perbedaan sifat-sifat seorang yang tak berilmu rasa dan orang yang telah berilmu. Selengkapnya bait ke-3 adalah sebagai berikut. Nggugu karsaning priyangga, nora nganggo peparah lamun angling. Lumuh ingaran balilu, uger guru aleman. Nanging jamna ingkang wus waspadeng semu, sinamun ing samudana, Sesadon ing adu manis. Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Menuruti kehendak diri sendiri, tidak memakai perhitungan ketika berkata. Tidak mau dianggap bodoh, hanya mencari pujian. Tetapi (bagi) orang yang waspada terhadap gelagat. Menyamarkan dengan sikap merendah, menanggapi dengan ramah. Kajian per kata: Nggugu (menuruti) karsaning (kehendak) priyangga (diri sendiri), nora (tidak) nganggo (memakai) peparah (perhitungan, perasaan) lamun (ketika) angling (berkata). Menuruti kehendak diri sendiri, tidak memakai perhitungan ketika berkata. Orang yang tanpa ilmu rasa tadi suka memperturutkan kehendak sendiri, tidak memakai perhitungan ketika berbicara. Bahwa berbicara dengan orang banyak harus memperhitungkan perasaan dan akibat-akibat yang ditimbulkan bagi orang lain. Karena bisa saja perkataan kita menyinggung orang lain. Orang yang tidak berilmu rasa tidak peduli akan hal itu, pokoknya dia merasa sudah pantas berdasarkan pendapatnya sendiri. Lumuh (tidak mau) ingaran (dikatakan) balilu (bodoh), uger (hanya) guru aleman (mencari pujian). Tidak mau dikatakan bodoh, hanya mencari pujian. Gatra ini juga masih membicarakan watak orang tak berilmu rasa tadi. Biasanya dia tidak mau dikatakan bodoh, sehingga cenderung banyak bicara supaya kelihatan pintar. Gemar akan pujian sehingga kadang-kadang bicaranya terlalu ngawur, dan jauh dari kenyataan, alias membesar-besarkan sesuatu. Nanging (tetapi) jamna (manusia) ingkang (yang) wus (sudah) waspadeng (dari kata waspada ing, artinya waspada akan) semu (gelagat). Tetapi (bagi) orang yang sudah waspada terhadap gelagat. Pada gatra ini tinjauan beralih pada orang-orang di sekitar si bodoh yang tak mengerti ilmu rasa tadi. Orang-orang di sekitarnya yang sudah menguasai ilmu rasa melihat gelagat kebodohan dari orang yang banyak omong tadi. Maka dia bersikap selayaknya orang pandai seperti pada gatra berikut. Sinamun (disamarkan) ing samudana (dengan sikap berpura-pura, maksudnya merendah, atau mengiyakan saja) sesadon (ditanggapi) ingadu (dengan tatap muka) manis (raut muka manis, ramah). Menyamarkan dengan sikap merendah, menanggapi dengan ramah. Bagi seorang yang telah menguasai ilmu rasa jika bertemu dengan orang bodoh yang banyak bicara, dia tak mau membantah dan larut dalam perdebatan, tetapi justru ngemong, mengiyakan saja dan tetap menanggapi dengan raut muka yang ramah. Apa yang diuraikan dalam tembang di atas masih sering kita temui di jalam modern ini. Acapkali kita menemukan orang yang sebenarnya tidak tahu tentang masalah kehidupan tetapi banyak omong hanya agar dikira pintar. Mereka rela membual dan menyelisihi banyak orang demi agar mendapat pujian semata-mata, agar dikira hebat, supaya dianggap mumpuni dan lebih suci dari yang lain. Terhadap orang yang berperilaku seperti di atas, seseorang yang telah matang dalam berfikir dan menguasai ilmu rasa tidak akan larut menanggapi, malah sengaja membiarkan saja dengan tetap bergaul seperti biasa, tanpa kehilangan sikap ramah. Itulah orang-orang yang telah paripurna dalam menjiwai rasa sejati, sejatining rasa.   Kajian Wedatama (4): Si Wasis Waskitha Ngalah Kita lanjutkan kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali imi sampai pada bait ke-4, bab Pangkur. Bait ini masih menerangkan tentang perbedaan sifat-sifat seorang yang tak berilmu rasa dan orang yang sempurna ilmunya. Selengkapnya bait ke-4 adalah sebagai berikut: Si pengung nora nglegewa, sansayarda denira cacariwis. Angandhar-andhar angendhukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkanganipun. Si wasis waskhita ngalah, ngalingi marang si pingging. Terjemahan secara tekstual ke dalam Bahasa Indonesia: Si bodoh tidak menyadari, semakin bertambah-tambah dia banyak omong. Melantur kemana-mana, bicaranya tidak masuk akal, makin aneh tidak ada selanya. Si pintar memahami dan mengalah, menutupi (kelakuan) si bodoh. Kajian per kata: Si pengung (si bodoh) nora (tidak) nglegewa (menyadari), sansayarda (bertambah-tambah) denira (dia lakukan) cacariwis (kata majemuk ceriwis-ceriwis, banyak omong). Si bodoh tidak menyadari, semakin bertambah-tambah banyak omong. Bait ini merupakan sambungan dari bait ke-3, ketika si pintar bersikap ngemong dan menanggapi dengan ramah semua bualannya, si bodoh justru semakin menjadi-jadi. Ini berarti si bodoh tak peka terhadap sikap orang lain kepadanya. Dikiranya sikap yang ramah tersebut sebagai pembenaran atas ulahnya, maka dia semakin tidak karuan bicaranya. Angandhar-andhar (melantur kemana-kemana) angendhukur (angan yang tinggi-tinggi, serba wah), kandhane (bicaranya) nora (tidak) kaprah (logis, lazim), saya elok (makin bicara hal yang mengagumkan) alangka (tidak ada) longkangipun (selanya). Melantur kemana-mana, bicaranya tidak lazim, makin aneh tidak ada selanya. Si bodoh semakin lama semakin panjang bicaranya, angan-angannya yang tinggi semakin tumpah, mengatakan yang serba wah. Bicaranya tidak lazim, yang sebenarnya lawan bicaranya pun mengetahui, namun dia tetap nekad bicara melantur. Semakin bicara tentang hal yang mengagumkan dan makin intens, tidak ada jeda, bicara terus. Dalam bahasa jawa disebut ngethuprus. Si wasis (si pintar, maksudnya lawan bicara si bodoh tadi) waskhita (memahami, memaklumi) ngalah (mengalah), ngalingi (menutupi) marang (terhadap) si pingging (si pengung, si bodoh). Si pintar memahami dan mengalah, menutupi (kelakuan) si bodoh. Gatra ini menggambarkan sikap orang pintar yang berhadapan dengan orang bodoh cerewet tadi. Si pintar tidak lantas mendebat -karena juga tak ada gunanya-, tidak hanya ngemong dengan sikap ramah tetapi juga sebisa-bisanya menutupi aib lawan bicaranya. Jika mungkin membelokkan bicara agar si bodoh tidak semakin menjadi-jadi bualannya, sehingga mempermalukan dirinya sendiri. Si pintar tidak ikut terpancing pameran ilmu, sebuah tindakan yang justru mendegradasi kepintarannya. Inilah watak yang utama dari orang-orang yang sudah pintar dalam ilmu rasa, jika mendapati seseorang bicara melantur harus menutupi dengan berbagai upaya, tidak malah menyebarkan kebodohan orang lain atau justru menviralkan di medsos.   Kajian Wedatama (5): Ngelmu Kang Nyata Kita lanjutkan kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-5, yang masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini masih menerangkan sifat-sifat orang yang telah menguasai ilmu rasa, perilakunya sehari-hari dan perbedaannya dengan orang bodoh. Selengkapnya bait ke-5 adalah sebagai berikut: Mangkono ngelmu kang nyata, sanyatane mung weh reseping ati.  Bungah ingaranan cubluk, sukeng tyas yen denina. Nora kaya si punggung anggung gumrunggung, ugungan sadina-dina. Aja mangkono wong urip. Terjemahan tekstual ke dalam Bahasa Indeonesia: Demikianlah ilmu yang sejati, Sebenarnya hanya menyenangkan hati. Gembira bila dianggap bodoh, Senang hati bila dihina, Tidak seperti si dungu yang sombong dan banyak suara, ingin dipuja setiap hari. Jangan demikianlah hidup dalam pergaulan. Kajian kata perkata: Mangkono (demikianlah) ngelmu (ilmu) kang (yang) nyata (sejati), sanyatane (sebenarnya) mung (hanya) weh (memberi) reseping (menyenangkan) ati (hati). Demikianlah ilmu yang sejati, sebenarnya hanya menyenangkan hati. Demikianlah ilmu sejati seperti yang diuraikan pada bait-bait ke-1 sampai ke-4 terdahulu. Ilmu sejati ini hanya memberi rasa menyenangkan hati, hati menjadi tenang, tanpa bergolak, tanpa berbolak-balik, pertanda hati sudah mantap dalam keyakinan. Tidak mudah larut dalam riak-riak kehidupan (ombyaking swasana). Ini adalah gambaran dari kesempurnaan hati seperti yang sering kita minta dalam do’a setiap hari, tsabit qalbii ‘alaa diinika! Bungah (gembira) ingaranan (bila dianggap) cubluk (bodoh), sukeng (senang) tyas (hati) yen (jika) denina (dihina). Gembira bila dianggap bodoh, senang hati bila dihina Hati yang telah mantap tadi tidak terpengaruh oleh pendapat orang lain. Dia takkan menjadi sedih bila dianggap bodoh dan bahkan senang hati menerimanya. Kalimat “suka bila dianggap bodoh, senang hati jika dihina” tidak berarti bahwa dia sengaja mencari penghinaan, tetapi sesuai konteks kalimat di atas lebih bermakna anggapan bodoh dan penghinaan tidak akan membuat hati menjadi sedih. Justru dia akan gembira karena kesempatan memperbaiki diri lebih mudah, lebih termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Sifat-sifat tersebut di atas hanya mungkin menjadi milik orang-orang yang telah mikani rasa, mengetahui rahasia hati, orang yang telah melatih ilmu dengan praktik amalan untuk memantapkan hati pada satu keyakinan. Sehingga tidak mudah goyah oleh pendapat atau bujuk rayu orang lain. Nora (tidak) kaya (seperti) si punggung (si bodoh) anggung (selalu) gumrunggung (banyak bersuara), ugungan (mencari pujian) sadina-dina (sehari-hari). Aja (jangan) mangkono (begitu) wong (orang) urip (hidup). Tidak seperti si dungu yang sombong dan banyak suara,ingin dipuja setiap hari. Jangan demikianlah orang hidup (dalam pergaulan). Pada gatra ini kembali digambarkan watak orang bodoh yang suka berbicara. Gumrunggung secara harfiah berarti banyak bersuara tak jelas, seperti suara tawon besar berdengung tak karuan, maknanya si bodoh walau banyak bicara namun tidak ada pengertian yang di sampaikan. Karena memang orang bodoh tidak mempunyai ilmu yang cukup, hanya bicara ngalor-ngidul diulang-ulang saja. Watak ini sangat tercela dalam pergaulan. Oleh karena dalam tembang ini dilarang dalam gatra terakhir, aja mangkono wong urip (jangan begitu orang hidup dalam pergaulan). Keseluruhan bait ke-5 ini mengandung anjuran untuk bersikap moderat dalam pergaulan. Tidak menonjolkan diri dan tidak gampang tersinggung oleh cacian, hinaan orang lain. Juga tidak gampang terseret dalam gaya bicara orang lain. Menahan diri dan tetap istiqomah dalam keyakinan yang mantap. Inilah ilmu rasa sejati yang menenteramkan hati.

Rosing Rasa Rumaketing Angga

Kajian Wedatama (40): Rosing Rasa Lumeketing Angga Bait ke-40, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Nora weruh, rosing rasa kang rinuruh, lumeketing angga. Anggere padha marsudi, Kana kene kaanane nora beda. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Tidak tahu, inti dari rasa yang dicari, Melekat di badan sendiri, Asal semua mau berusaha, Di sana atau di sini keadaannya tak berbeda. Kajian per kata: Nora (tidak) weruh (tahu), rosing (inti dari) rasa (rasa) kang (yang) rinuruh (dicari), lumeketing (menempel, melekat) ing (di) angga (badan). Tidak tahu, inti dari rasa yang dicari, melekat di badan sendiri Di sini dikatakan bahwa perilaku yang disebutkan dalam bait ke-39 menunjukkan bahwa seseorang itu tidak tahu inti dari rasa atau capaian batin yang dicari, dalam praktek-praktek keagamaan sehari-hari. Bahwa segala ritual keagamaan pastilah menyasar dua sisi dari aspek manusia sebagai makhluk bidimensial. Pada sisi lahir adalah mendisiplinkan diri, menahan hawa nafsu agar kita terbiasa tidak diperbudak keinginan yang tak perlu. Pada sisi spiritual adalah mencapai pengetahuan tentang diri, sehingga kita mengenal Allah sebagai sang Pencipta. Nah inti dari ajaran agama adalah sisi batin tersebut, sedangkan aspek lahiriah adalah sebagai sarana saja. Kita akan mengambil salah satu contoh ibadah sehari-hari, yakni shalat. Ini adalah ibadah yang ditentukan waktu dan tatacaranya secara ketat. Oleh karena hal itu secara lahir kita menjadi terbiasa disiplin, orang yang shalat tak mungkin tidur mendengkur sampai siang karena akan kehilangan sholat subuh. Juga tak mungkin bekerja seharian tanpa jeda karena ada saat-saat tertentu harus berhenti untuk shalat. Dengan demikian ritme hidup orang yang shalat menjadi teratur, terkontrol dan seimbang. Selain itu dalam apek spritual shalat adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam shalat seolah kita mengadu jika ada masalah, seolah minta pertolongan jika butuh bantuan, seolah kita berterima kasih jika mendapat anugerah dan menjadi sarana untuk bermuhasabah jika kita hendak mulat sarira hangrasa wani, menilai tentang diri sendiri. Adapun inti dari shalat itu sendiri adalah amar ma’ruf nahi munkar terhadap diri sendiri. Orang yang shalat pastilah takkan berbuat keji dan buruk, sebaliknya akan selalu berbuat baik. Dalam segala ritual lain, ada inti dari rasa yang diharapkan hasilnya (rosing rasa kang rinuruh). Inilah yang mesthi diupayakan, jangan hanya puas pada sekedar aspek lahiriahnya saja. Rosing rasa yang dicari tadi sebenarnya melekat pada badan (lumeketing angga), pada jauh di kedalaman nurani. Maka hasil dari capaian diri mesti dilihat di sana. Suatu ritual ibadah akan disebut berhasil jika hati nurani semakin terang memancarkan gambaran Ilahiyat dan moralitas menjadi meningkat dengan akhlak yang mulia. Percuma saja rajin beribadah tetapi justru hati menjadi kotor oleh kedengkian dan merendahkan sesama. Lebih buruk lagi jika tak membekas dalam akhlak perilaku sehari-hari. Anggere (asalkan) padha (sama-sama) marsudi (berusaha keras), kana (di sana) kene (atau di sini) kaanane (keadaannya, hasilnya) nora (tidak) beda (berbeda). Asal sama-sama mau berusaha, di sana atau di sini keadaannya tidak berbeda. Asalkan dipraktekkan dengan sungguh-sungguh, sama-sama berusaha keras mengamalkan ritual ibadah dalam aspek lahir dan batinnya, maka hasilnya di sana atau di sini akan takkan berbeda. Baik shalat yang dilakukan di Arab atau di Jawa, asal dilakukan dengan tulus sebagai ibadah semata, hasilnya tidak akan berbeda. Sehingga apa yang dilakukan di sini tidak harus persis dengan yang disana. Kita kembali mengingat sebentar uraian bait ke-39, bahwa iklim dan lingkungan bisa memengaruhi cara hidup dan corak kebiasaan masyarakat. Denikian juga dalam hal ibadah. Sepanjang syarat dan rukun dipenuhi maka ibadah akan sah. Soal keutamaan tambahan, atau apa yang disebur sunnat maka disesuaikan dengan kondisi setempat. Misalnya di Arab jika berbuka disunatkan makan kurma, namun jika di Jawa makan kurma saat berbuka bisa menjadi makruh jika tak ada uang untuk membeli. Buah kurma itu mahal sekali, akan memberatkan bagi mereka yang tidak cukup uang. Tentu lebih baik jika diganti makanan lain yang kandungannya sama dan tersedia di Jawa. Maka mesti dicari rosing (inti) dari sunnat nabi menganjurkan kurma itu maksudnya apa? Misalnya agar energi yang hilang selama puasa cepat terganti agar tubuh tidak lemas, maka dicarilah buah lain yang dimaksud, pepaya misalnya. Jika kita bisa mencari rosing dari segala amalan-amalan agama, maka walau berbeda bentuk pelaksanaannya baik di sana (Arab) atau di sini (tempat lain), hasilnya akan sama saja. Karena tujuan pengamalan agama bukan pada bentuk amalannya, tetapi pada efeknya terhadap jiwa manusia. Kajian Wedatama (41): Kabul Kajating Urip Bait ke-41, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Uger lugu, den ta mrih pralebdeng kalbu. Yen kabul kabuka, ing drajad kajating urip. Kaya kang wus winahya sekar srinata. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Asalkan sungguh-sungguh, yang berusaha meningkatkan hati, Bila terkabul terbukalah, Pada derajat tujuan hidup, Seperti yang diisyaratkan dalam tembang Sinom. Kajian per kata: Uger (asalkan, kalau) lugu (sungguh-sungguh), den ta (yang) mrih (agar supaya) pralebdeng (dari kata pra lebda ing, menjadi ahli dalam, meningkatkan diri, belajar untuk) kalbu (hati). Asalkan sungguh-sungguh, yang berusaha meningkatkan hati. Maksud gatra ini adalah siapa saja yang sungguh-sungguh berusaha untuk meningkatkan kemampuan hati. Kemampuan hati yang dimaksud sesuai dengan apa yang telah diuraikan dalam bait 36, yakni hati yang sudah penuh dengan limpahan cinta kasih Ilahi. Hati yang sudah tersucikan sehingga bisikan-bisikan yang keluar darinya adalah kebenaran, Al Haq, bukan sekedar duga-duga atau kekhawatiran, was-was. Yen (kalau) kabul (terkabul, diijinkan olehNya) kabuka (terbuka), ing (pada) drajad (derajat) kajating (yang dimaksud, yang dituju) urip (dalam hidup). Bila terkabul terbukalah, pada derajat tujuan hidup. Agar terkabul apa yang diusahakan tadi, atas ijin Allah sebagai pemilik segala hati dan berkuasa membolak-baliknya, maka penyucian hati harus diawali dengan menjauhi segala larangan dan mematuhi segala perintahnya, atau dalam bahasa agama disebut taqwa. Kajating urip merujuk pada tujuan akhir, atau puncak pencapaian manusia, atau juga sering disebut insan kamil dalam istilah para sufi. Apabila manusia berusaha keras untuk meningkatkan kemampuan hati agar hati senantiasa dilimpahi kasih sayang Ilahi maka tak mustahil akan sampai pada derajat tertinggi yang mungkin dicapai oleh manusia tersebut. Jika ini tercapai maka jadilah ia manusia paripurna yang menjadi prajurit Allah, menjadi tanganNya dalam merawat bumi ini. Kaya (seperti) kang (yang) wus (sudah) winahya (diisyaratkan) sekar (tembang) srinata (sinom). Seperti yang diisyaratkan dalam tembang Sinom. Hal-hal seperti yang sudah diuraikan dalam pupuh sinom pada awal serat Wedatama akan tercapai. Silakan lihat lagi pupun Sinom, pada bagian Wignya Met Tyasing Sasami. Kajian Wedatama (42): Ngelmu Iku Panemu lan Tapa Bait ke-42, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Basa ngelmu, mupakate lan panemu. Pasahe lan tapa. Yen satria tanah Jawi, kuna kuna kang ginulut triprakara. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Bahasa ilmu, cocoknya dengan argumen, Berhasilnya dengan bertapa, Bagi satria tanah Jawa, Dahulu kala yang menjadi pegangan tiga hal. Kajian per kata: Basa (bahasa) ngelmu (ilmu), mupakate (cocoknya) lan (dengan) panemu (pendapat, argumen). Bahasa ilmu, cocoknya dengan argumen. Ilmu pengetahuan apapun, baik ilmiah, filosofis ataupun religius penyampaiannya adalah dengan argumen. Dengan dalil-dalil aqliyah ataupun naqliyah. Pemaparannya harus jelas sejelas-jelasnya sampai akal pikiran membenarkannya. Jika sesuatu diterima tanpa pertimbangan akal, maka bukan ilmu namanya. Mupakat dalam gatra ini maksudnya ada kecocokan pengertian, antara akal pikiran dan ilmu yang dipelajarinya. Kalau belum ada kecocokan pengertian belum bisa disebut ilmu, tetapi seperi melafalkan mantera saja. Tidak ada pengertiannya sama sekali. Pasahe (mempan, berhasil) lan (dengan) tapa (bertapa, tirakat). Berhasilnya dengan bertapa. Namun demikian ilmu bukanlah teori semata. Selalu ada maksud dan tujuan dipelajarinya suatu ilmu. Tujuan dari ilmu baru akan tercapai melalui pengamalan. Bertapa di sini bisa dimaknai sebagai amalan, praktek, laku atau suluk atau yang lain. Yang jelas bukan sekedar teori semata-mata. Terlebih-lebih ilmu rasa yang pusatnya ada di dalam hati manusia, harus melalui berbagai praktik, laku, ujian dan tantangan agar ilmu sumusup ing jiwangga, merasuk dalam jiwa, terbenam dalam hati. Yen (kalau) satria (ksatria) tanah Jawi (tanah Jawa), kuna kuna (kuna makuna, dahulu kala) kang (yang) ginulut (dipegang, menjadi pegangan) triprakara (tiga hal). Bagi satria tanah Jawa, dahulu kala yang menjadi pegangan tiga hal. Bagi ksatria Tanah Jawa jaman dahulu ada tiga hal yang dipegang dalam menghadapi ujian hidup. Apakah itu? Kita akan melanjutkan ke bait berikutnya karena masih merupakah satu kesatuan makna dengan bait ini. Kajian Wedatama (43): Tri Prakara: Lila, Trima dan Legawa Bait ke-43, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lila lamun kelangan nora gegetun. Trima yen ketaman, sakserik sameng dumadi, Tri legawa nalangsa srah ing Bathara. Terjemah dalam Bahasa Indonesia: Rela apabila kehilangan, tidak larut dalam kecewa, Menerima bila mendapat, perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain, Yang ketiga ikhlas menyerahkan kepada Tuhan. Kajian per kata: Inilah tiga hal yang menjadi pegangan hidup para ksatria tanah Jawa jaman dahulu. Dengan tiga hal itu terbuktilah hati mereka tidak kosong, tapi telah penuh hikmat sehingga mampu bersikap bijak terhadap segala sesuatu yang tak diharapkan. Lila (rela) lamun (apabila) kelangan (kehilangan) nora (tidak) gegetun (kecewa berkepanjangan, larut dalam kecewa). Rela apabila kehilangan, tidak larut dalam kecewa. Yang pertama, rela apabila kehilangan, tidak larut berkepanjangan dalam kekecewaan. Bahwa apabila milik kita hilang atau tiba-tiba bukan lagi menjadi milik kita, wajarlah ada sedikit rasa kecewa. Namun kita tak boleh larut dalam kecewa yang berkepanjangan, hati selalu teringat akan yang hilang itu sehingga tak lagi mampu berpikir jernih dan bertindak bijak. Penyebab rasa kecewa yang berlebihan adalah kuatnya ikatan kita dengan hal-hal yang kita miliki tadi. Namun apabila kita selalu ingat bahwa pemilik sejati hanya Allah SWT, maka tak pantas kita meratapi sesuatu yang bukan milik kita. Dalam kearifan budaya Jawa ada istilah yang patut selalu kita pegang: pangkat mung sampiran, bandha mung titipan, nyawa mung gadhuhan. Pangkat mung sampiran, bermakna: bahwa jabatan apapun yang kita emban hanyalah sampiran. Laksana selendang yang disampirkan di pundak, sangat mudah untuk jatuh dan lepas dari tubuh kita. Begitu pun segala jabatan yang ada di pundak, sewaktu-waktu dapat copot dengan mudahnya pula. Bandha mung titipan, bermakna: segala harta adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita. Sebagai titipan harta bisa sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya. Jikapun tidak diambil mungkin akan kita serahkan kepada yang berhak kelak, sementara kita hanyalah pembawa titipan itu. Nyawa mung gadhuhan, maknanya: nyawa (hidup) kita pun bukan milik kita, tetapi hanya gadhuhan. Gadhuhan adalah pinjaman yang diserahkan kepada kita untuk mengelolanya, sewaktu-waktu si pemilik akan mengambil sesuai kesepakatan awal. Nah, nyawa kita pun demikian, ada perjanjian kapan akan diambil, yakni apabila raga kita tak mampu lagi menjadi tempat bagi si nyawa itu, ketika kita mati. Oleh karena itu pula dalam budaya Jawa mati biasa disebut tumeka ing janji, artinya memang mati sudah menjadi perjanjian kita dengan Tuhan. Trima (menerima) yen (bila) ketaman (terkena, mendapat), sakserik (perlakuan menyakitkan) sameng (sesama) dumadi (makhluk, orang lain). Menerima bila mendapat, perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain. Yang kedua, menerima apabila mendapat perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain. Perlu diluruskan bahwa makna kalimat di atas bukan berarti kita menerima begitu saja bila hati kita disakiti orang lain, melainkan lebih bermakna bahwa kita jangan sampai sakit hati hanya karena perlakuan orang lain. Hati kita harus kuat dan besar, agar tidak mudah tersakiti. Sesungguhnya hidup kita berdasar kehendak dan usaha kita sendiri, bukan atas dasar sikap orang lain kepada kita. Maka seyogyanya kita tidak terlalu mengikuti kehendak orang dalam menentukan sikap dan perilaku. Kita harus punya prinsip sendiri dalam bertindak, berdasar apa yang kita yakini. Dalam hal kebahagiaan dan kesedihan kita juga tak seharusnya terlalu terpengaruh sikap orang lain. Apabila kita telah melakukan hal yang kita yakini benar tetapi orang lain justru membenci, kita tak perlu risau. Kuatkan tekad, mantapkan kehendak, dan melangkahlah! Tri (ketiga) legawa (ikhlas) nalangsa (nelangsa) srah (menyerahkan) ing (kepada) Bathara (Tuhan). Yang ketiga ikhlas dengan merendahkan diri, menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Yang ketiga, ikhlas dengan segenap kerendahan hati menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Ini berkaitan dengan setiap usaha dan amalan kita sehari-hari. Jangan terlalu berharap muluk dan panjang angan. Karena kita tak tahu apa yang sesungguhnya baik untuk kita. Maka dalam segala hal kita harus mengikhlaskan setiap usaha kita, seraya dengan penuh kerendahan (nalangsa) menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Itulah tiga hal pokok yang menjadi pegangan hidup ksatria tanah Jawa jaman dahulu yang masih perlu juga untuk kita pedomani. Tiga hal tersebut disebut triprakara yang secara ringkas kita sebutkan sebagai: lila, trima dan legawa. Kajian Wedatama (44): Inguger Graning Jajantung Bait ke-44, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Bathara gung, inguger graning jajantung, Jenek Hyang Wisesa, Sana pasenedan suci, Nora kaya si mudha mudhar angkara. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang Maha Besar, ditempatkan dalam jantung, Yang Maha Kuasa Kerasan, di tempat peristirahatan yang suci, Tidak seperti si muda yang mengumbar angkara. Kajian per kata: Bathara (Tuhan) gung (besar), inguger (diikat, ditempatkan) graning (gra ing, di pucuk) jajantung (jantung). Yang Maha Besar, ditempatkan dalam jantung. Ini bermakna bahwa Tuhan Yang Maha Besar selalu diingat namanya dalam hati, menjadi motivasi dari setiap aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Maknanya, Tuhan menjadi alasan dari setiap perbuatan, hanya karena Dia kita berbuat. Seorang yang telah mencapai paripurna dalam ilmu dan amal, akan selalu menempatkan Tuhan Yang Maha Besar sebagai motif setiap tindakan. Dalam bahasa agama, semua perbuatan dilakukan ikhlas lillahi ta’ala. Jenek (kerasan) Hyang (Yang) Wisesa (Kuasa), sana (di tenpat) pasenedan (tempat peristirahatan) suci (suci). Yang Maha Kuasa Kerasan, di tempat peristirahatan yang suci. Apabila sedang berkarya selalu mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika sedang beristirahat atau sedang menyepi senantiasa tenggelam dalam zikir, mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitulah watak dan kebiasaan dari orang-orang yang telah mencapai ilmu rasa sejati. Motif dari semua tindakan dan diamnya hanyalah Allah semata-mata. Tidak ada dalam kamusnya keinginan untuk mengikuti hawa nafsu atau praduga angan-angannya sendiri. ini jauh dari sifat orang muda yang belum gaduk (sampai) ilmunya. Nora (tidak) kaya (seperti) si mudha (si muda) mudhar (menuruti, mengumbar) angkara (angkara). Tidak seperti si muda yang mengumbar angkara. Amatlah jauh, sangat berkebalikan, dengan perbuatan seorang muda yang baru menapak ilmu kehidupan. Masih sering tergelincir mengumbar nafsu angkara. Menuruti angan-angan tanpa ilmu, bertindak atas dasar duga-duga tanpa klarifikasi, menyebar kabar hoax tanpa verifikasi. Asal komentar tanpa berpikir soal kepantasan, nyinyir asal njeplak tanpa proporsi, suka-dan benci atas dasar nafsu semata, dll. Yang begini pun sering kita temui di dunia maya, lebih- lebih lewat medsos. Jangan ditiru, nak! Jangan!.......... Kajian Wedatama (45): Kadya Buta Buteng Bait ke-45, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Nora uwus, kareme anguwus uwus. Uwose tan ana. Mung janjine muring-muring. Kaya buta buteng betah nganiaya. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Tiada henti-hentinya, kesukaannya mencaci maki, (Perkataannya) tak ada isinya, Hanya asal marah-marah, Seperti raksasa mudah naik darah dan menganiaya. Kajian per kata: Nora (tiada) uwus (uwis, berhenti), kareme (sukanya) anguwus uwus (bicara terus). Tiada henti-hentinya, kesukaannya bicara terus. Anguwus dari kata angwuwus (bicara), anguwus-uwus adalah kata majemuk yang berarti menyangatkan. Ini umumnya dilakukan seorang yang tak puas atau sedang marah sehingga berkata-kata terus, terus saja tak henti-henti sampai puas rasa di hati. Nah karena kadar perkatannya sebenarnya sudah over, maka biasanya perkataannya asal-asalan saja. Uwose (isinya) tan (tak) ana (ada). (Perkataanya) tak ada isinya. Intinya apa tak jelas, hanya meracau. Karena hanya sekedar menumpahkan kekesalan maka yang diomongkan pun tak ada pokok-pokok maksudnya, asal njeplak, asal mangap. Yang demikian itu sering dilakukan oleh orang yang kecewa, baik dalam kehidupan mayarakat sehari-hari maupun dalam kehidupan berpolitik di tingkat elit. Kalau Anda perhatikan ada beberapa politisi yang suka bicara terus, menohok sana, menyikat sini, nyinyir sana kritik sini. Kadang ucapannya tak proporsional, hanya asal beda (waton sulaya) dengan yang dikritik. Mung (hanya) janjine (janji, perkataan) muring-muring (marah-marah). Hanya berkata asal marah-marah. Yang penting menumpahkan rasa amarah di dada. Tak peduli perasaan orang lain. Tak peduli kerja dan dedikasi orang lain. Kaya (kaya) buta (raksasa) buteng (gelap mata, naik darah) betah (suka) nganiaya (menganiaya). Seperti raksasa mudah naik darah dan menganiaya. Wataknya seperti raksasa yang sudah gelap mata, cepat naik darah. Jika sudah begitu tak peduli orang lain. Tak ada rasa empati, tepa slira, bertindak di luar batas alias aniaya. Dan tampaknya suka sekali berbuat demikian. Buta adalah raksasa. Dalam budaya Jawa buta adalah species lain, jadi bukan manusia. Meski kadang ada sedikit interaksi dan bisa juga kawin campur. Watak dari raksasa yang paling dominan adalah pemarah. Biasanya perilakunya briga-brigi, pecicilan, penyunyukan, tak nyaman diam, tak bisa tenang, tidak sopan. Dan yang paling membuat jengkel suka sekali berisik, berkata kasar dengan volume maksimal. Kalau dalam pewayangan buta selalu digambarkan bermulut lebar menganga dengan siyung (gigi taring) mencuat siap mencabik lawan. Ada lagu bahasa Jawa tentang buta ini yang dahulu sering didendangkan anak-anak sewaktu bermain di terangnya sinar bulan: Buta-buta galak, solahe lunjak-lunjak, Sarwa sigrak-sigrak, nyandhak kanca nuli tanjak, Bali ngadeg maneh, rupamu ting celoneh, Iki buron apa, tak sengguh buron kang aneh, Lha wong kowe..we..we Sing mara-marai hi-hi...... Aku wedi, ayo kanca padha bali, Galo kae-galo kae..... Matane plerak-plerok, Kulite ambengkerok, hi..hi.. Aku wedi, ayo kanca padha bali Orang yang sukanya berkata terus, mengumpat-umpat tanpa henti, bicara kasar, marah-marah tanpa proporsional wataknya pastilah seperti buta tadi.

Aywa Kongsi Babar Angkara

Kajian wedatama (34): Aywa Kongsi Mbabar Angkara Bait ke-34, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Angkara gung, neng angga anggung gumulung, Gegolonganira. Triloka lekere kongsi. Yen den umbar ambabar dadi rubeda. Terjemahan dalam Bahasa Inonesia: Nafsu angkara yang besar, di dalam diri selalu berkumpul, dengan kelompoknya. Sampai menguasai tiga dunia. Bila dibiarkan berkembang menjadi bahaya. Kajian per kata Angkara (angkara, keburukan) gung (besar), neng (pada, di) angga (tubuh, diri) anggung (selalu) gumulung (berkumpul, menyatu), gegolonganira. Nafsu angkara yang besar, di dalam diri berkumpul, bersama dengan kelompoknya Nafsu angkara di dalam diri jika membesar akan berkelompok-kelompok. Keinginan satu dengan lain akan saling berjalin dan saling menguatkan satu sama lain. Jika yang satu dipuaskan maka akan memicu yang lain untuk semakin membelenggu manusia. Jalinan nafsu angkara akan saling menyeret satu dengan lainya ke dalam lembah dosa. Nafsu menguasai akan menyeret kedzaliman. Nafsu memiliki akan mengendong kekhilafan, orang Jawa menyebutnya melik nggendong lali. Nafsu makan akan menyeret perilaku melampuai batas, atau leluwihan. Nafsu pamer akan menyeret perilaku merendahkan orang lain, dan lain-lain. Jika nafsu angkara sudah bergerombol dan saling mendukung, akan sulit dipangkas mata rantainya karena jalinannya makin kuat. Triloka (tiga dunia) lekere (dikuasai) kongsi (sampai). Sampai menguasai tiga dunia. Konsep triloka sudah ada dalam budaya Jawa sejak dulu kala. Karena istilah itu pun ada dalam agama-agama sebelum Islam masuk. Tapi kita akan membatasi pengertian triloka menurut pengertian ketika serat Wedatam ini ditulis. Triloka adalah sebutan tiga dunia yang meliputi: alam material, alam mental dan alam ruh. Alam material adalah dunia seisinya ini. Dunia yang sebenarnya ada dalam tingkat paling rendah dalam gradasi wujud. Ada yang menyebut bahwa sesungguhnya dunia inilah alam maya, mayaloka. Sedangkan tingkat di atasnya justru adalah alam nyata, yang sekarang tak kasat mata.   Alam mental, atau angan-angan atau imajinal atau alam psikis. Alam ini tempat jiwa tumbuh dan mencapai kedewasaan. Sering juga oleh para filosof muslim alam ini disebut sebagai barzakh, karena sifatnya ditengah-tengah, sebagai antara (barzakh) antara alam dunia dan akhirat. Segala sesuatu di alam ini adalah campuran antara yang maya dan Yang Nyata. Alam ruh, atau alam spirit. Ini adalah alam tertinggi tempat ruh yang dahulu ditiupkan oleh Allah berada. Alam tempat segala penyaksian akan kebenaran ditempatkan. Alam tempat seruan-seruan kebenaran bergema. Penghuni alam ini adalah antara lain hati nurani. Manusia hidup dalam ketiga alam tersebut secara pararel. Dengan masing-masing tingkat wujud yang juga dianugerahkan kepada manusia. Manusia punya badan wadag untuk hidup di dunia materi, punya jiwa untuk hidup di alam mental dan punya ruh bawaan Tuhan untuk hidup di alam spirit. Walau manusia mempunyai tiga komponen untuk hidup di tiga alam itu, namun segala corak kehidupan manusia di dunia ini, bahagia dan sengsara, akan ditentukan oleh bagaimana ia hidup dengan ketiga alam itu. Yang lebih menghidupkan alam materi jelas akan terjebak dalam kefanaan abadi. Karena materi bersifat rusak, tak sempurna dan sementara, ia akan senantiasa merasa kurang dan selalu ingin menggapai yang lebih tinggi lagi. Sebaliknya orang yang lebih hidup dalam alam mental akan selalu diliputi was-was dan penyesalan diri berkepanjangan. Was-was dalam arti khawatir akan kehidupannya kelak, penyesalan dalam arti merasa belum berusaha maksimal dalam menjalani hidup. Dua perasaan itu sangat bernuansa material. Namun seringkali di alam ini juga muncul pengharapan dan semangat, dua perasaan yang bernuansa spiritual. Yah namanya juga alam campuran, jadi perasaannya juga campur-campur deh! Puncak dari pencapaian manusia adalah ketika ia mampu hidup di alam spiritual. Di sinilah segala ketenangan berada. Tak ada rasa takut atau khawatir, apalagi was-was. Baik tentang masa depan atau tentang segala hal di dunia ini, karena adanya kesadaran bahwa semua ini hanya milik Allah semata. Yen (bila) den (di) umbar (biarkan) ambabar (berkembang, menjadi banyak) dadi (menjadi) rubeda (bahaya). Bila dibiarkan berkembang menjadi bahaya. Nah, jika nafsu angkara di atas dibiarkan membesar sehingga menguasai tiga alam manusia, triloka, akan menjadi monster yang mengerikan daya rusaknya terhadap hidup manusia. Tiga piranti yang diberikan Tuhan sebagai alat manusia hidup di ketiga alam itu akan hancur dilalap nafsu angkara. Badan sebagai alat hidup di alam materi akan rusak karena diperalat nafsu angkara, seperti pada rusaknya tubuh oleh karena perbuatan maksiat, minum khamar, ngepil, ngoplos, dll. Jiwa manusia sebagai piranti hidup di alam mental pun akan tumbang dengan berbagai penyakit mental, depresi, halusinasi, waham-waham, dll. Hati nurani sebagai penghuni alam ruh pun akan tumpul, tak lagi bisa membedakan benar dan salah, bahkan cenderung menjadi pembenar dari setiap tindak kejahatan yang dilakukan. Kajian wedatama (35): Amardi Martatama Bait ke-35, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Beda lamun kang wis sengsem reh ngasamun. Semune ngaksama, sesamane bangsa sisip. Sarwa sareh saking mardi martatama. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Berbeda halnya dengan yang sudah gemar kepada hal rohaniyah, Cenderung selalu mengampuni, Segala kesalahan, Bersikap sabar berusaha berbudi baik. Kajian per kata: Beda (berbeda) lamun (kalau) kang (yang) wis (sudah) sengsem (gemar, terpesona) reh (hal) ngasamun (sepi, ruhaniyah). Berbeda halnya dengan yang sudah gemar kepada hal rohaniyah. Kebalikan dengan sifat-sifat diri yang dikuasai angkara sampai ketiga alam, orang yang gemar melakukan olah rasa dengan menyepi akan bersikap berbeda dalam menghadapi persoalan hidup, sebagaimana digambarkan dalam gatra berikut ini. Semune (cenderung) ngaksama (mengampuni), sesamane (segala) bangsa (sejenisnya) sisip (kekurangan, kesalahan). Cenderung selalu mengampuni, segala sesuatu kesalahan (orang lain). Sesungguhnya segala tindak angkara berasal dari nafsu yang dimanjakan (diumbar), tidak dikekang, tidak ditahan dan senantiasa dipenuhi. Bagi yang kayungyun heninging tyas, terpesona ketenangan hati, maka menahan nafsu bukanlah pekerjaan sulit. Selain lebih mudah, lebih hemat, juga lebih bermanfaat dalam hidup. Bonus lain adalah hadirnya sikap terpuji dalam perilaku sehari-hari. Salah satunya adalah kecenderungan untuk mengampuni setiap kesalahan orang lain, memakluminya dan bukan malah membesar-besarkannya. Sarwa (serba) sareh (sabar) saking (dari) mardi (berusaha) martatama (berbudi baik). Bersikap sabar dan berusaha bersikap baik. Sareh adalah sikap hati-hati, tidak tergesa-gesa, mendahulukan pertimbangan sebelum mengambil tindakan. Sikap ini hanya muncul dari hati yang tenang yang dicapai dengan latihan kontemplasi yang rutin, senantiasa mahas ing ngasepi. Sikap hati-hati akan melahirkan budi yang tajam, tanggap dan responsif. Sebuah tindakan yang diawali dengan sabar pasti akan berujung kepada perbuatan baik. Dalam serat Wedatama ini berulang kali ditekankan tentang pentinya menyendiri di dalam sepi. Ini bukan kiasan tetapi memang anjuran agar dilakukan secara fisik. Tujuan dari menyepi adalah menyusutkan nafsu sampai ke tingkat minimum yang sekedar diperlukan untuk hidup, karena bagaimanapun selama hayat dikandung badan nafsu tetap diperlukan. Mengapa ini penting? Karena hati nurani hanya dapat jujur di kala orang sendirian, tidak bergerombol bersama golongannya. Dalam kesunyian hati lebih jujur menilai diri sendiri, sudah benarkah perilakunya sehari-hari, sudah tepatkah pemikiran yang diyakini, sudah luruskah jalan yang diambil, dsb. Mengenai menyepi ini juga banyak diajarkan oleh aliran keyakinan dan agama-agama. Bentuk paling sederhana adalah mengheningkan cipta, seperti yang sering kita lakukan pada upacara bendera ketika sekolah dulu. Ada juga yang berbentuk samadhi, yakni berdiam diri dalam waktu yang lama dengan posisi tertentu. Dalam agama Islam ada ritual shalat tahajud, shalat yang dikerjakan sendirian di kala malam hari, ketika tak terlihat orang lain. Kajian wedatama (36): Karoban Sihing Gusti Bait ke-36, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Taman limut, durgameng tyas kang meh limput, kerem ing karamat, Karama karoban ing sih, Sihing sukma ngrebda saardi gengira. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Di dalam keadaan gelap, hati jahat yang menguasai, Tenggelam dalam rahmat, Sebab dikuasai cinta kasih, Cinta kasih sukma berkembang menjadi segunung besarnya. Kajian per kata: Taman (terkena, dalam keadaan) limut (gelap), durgameng (jahatnya) tyas (hati) kang (yang) meh (hampir) limput (tertutup), kerem (tenggelam) ing (dalam) karamat (rahmat). Di dalam keadaan gelap, hati jahat yang menguasai, tenggelam dalam rahmat. Keadaan gelap disini merujuk pada keadaan sepi karena menyendiri, seperti yang sudah dibahas pada bait-bait yang lalu. Dalam keadaan gelap tersebut, justru hati nurani akan tampak bercahaya. Watak jahat akan tenggelam dalam rahmat Ilahi sehingga tidak jadi membesar menguasai hati. Ibarat cahaya lilin yang tak nampak di kala siang, tetapi ketika di dalam kegelapan akan memberi terang. Seperti itulah hati nurani. Maka ketika lilin kecil hati nurani tadi memberi cahaya, perlahan-lahan akan mengusir kegelapan dalam hati. Apa saja yang telah membuat kita lalai, apa saja yang membuat kita menuruti si angkara (durgameng), sedikit demi sedikit akan lenyap. Nah ketika itulah hati yang tertutupi (kalimput) oleh nafsu angkara perlahan akan mulai menuju kepada terang. Tentu saja ini sebuah proses yang panjang dan melelahkan, dengan latihan yang berulang- ulang tanpa bosan. Ketika hati telah tenggelam dalam rahmat Ilahi maka cinta kasih Ilahiyah akan semakin meliputi hati. Karama (karena, oleh sebab) karoban (terkena, tertutupi) ing sih (cinta kasih). Sebab dikuasai cinta kasih. Hati yang sudah siap menuju terang akan dibanjiri (karoban) oleh cinta kasih Ilahi. Barang siapa yang bersedia dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju Tuhan, maka Dia akan menyambut dengan Kasih. Secara perlahan akan dibuka jalan-jalan menuju padaNya, selangkah-selangkah jalan-jalan akan dibuat terang. Sihing (cinta kasih) Sukma (Ruh) ngrebda (berkembang) saardi (segunung) gengira (besarnya). Cinta kasih sukma berkembang menjadi segunung besarnya. Sukma di sini berati ruh, karena yang mempunyai cinta kasih hanyalah Allah semata, kata sukma dalam gatra ini lebih dekat dengan makna Sukma, atau Ruh Ilahi. Ini sesuai dengan pengertian pada gatra ini bahwa jika kita telah mempunyai hati yang condong pada kebaikan maka rahmat ilahi akan turun ke hati, meliputinya, menenggelamkannya. Jika demikian maka cinta kasih Ilahi akan membanjiri hati kita dan menumbuhkan cinta kasih di hati. Lama-lama cinta di hati kita akan membesar menjadi laksana gunung (saardi gengira). Maka jadilah kita tanganNya dalam menebar cinta kasih di bumi ini. Berbuat baik kepada sesama, dan mengajak kepada kebaikan, dengan dasar limpahan kasih Ilahi yang telah kita terima tadi. Kajian wedatama (37): Mundhi Diri Rapal Makna Bait ke-37, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Yeku patut, tinulad tulad tinurut, sapituduhira, Aja kaya jaman mangkin. Keh pra mudha mundhi diri rapal makna. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Yang demimkian pantas dicontoh-contoh dan diikuti, segala petunjuknya, Jangan seperti jaman sekaran. Banyak anak mudha mengagungkan diri dengan arti lafal. Kajian per kata: Yeku (yang demikian) patut (pantas), tinulad (dicontoh) tulad (contoh) tinurut (diikuti), sapituduhira (segala tetunjuknya). Yang demikian pantas dicontoh-contoh dan diikuti., segala petunjuknya. Yang dimaksud patut tinulad (pantas dicontoh) dalam gatra ini adalah sifat-sifat mulia yang telah diuraikan dalam bait sebelumnya, tentang orang yang sudah mencapai maqon penyampai cinta kasih Ilahi, bertindak sebagai tanganNya dalam merawat alam semesta. Orang yang demikian itu patut dicontoh-contoh dalam perbuatannya dan pantas dituruti jalan yang telah ditempuhnya. Yakni jalan orang-orang yang sudah sampai pada pengamalan kebaikan yang sejati, yang sudah ikhlas dalam berbuat, tidak sekedar unjuk diri, tidak sekedar pamer kebaikan. Orang-orang yang telah mencapai derajat ini pantas didengar segala pentunjuknya, pantas diikuti segala contoh tauladannya. Aja (jangan) kaya (seperti) jaman (zaman) mangkin (sekarang). Jangan seperti zaman sekarang. Gatra ini membandingkan dengan keadaan jaman sekarang (pada waktu serat ini digubah), yang banyak orang berwatak dangkal, tidak tulus dalam beramal sholeh, ada maksud tersembunyi yang berkaitan dengan kemasyhuran, kekayaan, nama besar dan kepentingan diri lainnya. Tentu yang dimaksud tidak semua orang begitu, tetapi kebanyakan yang terjadi adalah demikian. Keh (banyak) pra (para) mudha (anak mudha) mundhi (mengagungkan) dhiri (diri) rapal (lafal) makna (arti). Banyak anak mudha mengagungkan diri dengan arti lafal. Pada jaman sekarang banyak anak muda yang menyombongkan diri, bersikap ujub, membanggakan amalah-amalannya dan membanggakan makna lafal (rapal makna). Rapal makna di sini sesuai konteks kalimat pada bait sesudahnya nanti yang akan kami uraikan pada postingan mendatang adalah teks-teks keagamaan, baik yang diambil dari Al Quran, hadits maupun kitab-kitab lainnya. Kata rapal menunjuk pada teks-teks keagamaan, sedangkan kata makna menunjuk pada tafsir atau terjemah, sebab pada waktu itu bahasa Arab belum banyak dipahami oleh orang Indonesia, sehigga teks-teks yang dia pakai untuk pamer ilmu, menyombongkan diri adalah teks-teks terjemahan saja. Bait ini sebenarnya mempunyai satu pengertian dengan bait sesudahnya, tetapi karena kita konsisten mengkaji per bait, maka harus kita akhiri sampai di sini. Pada kajian selanjutnya makna bait ini akan kami rujuk lagi sebagai kesatuan pengertian. Kajian wedatama (38): Kesusu Kaselak Besus Bait ke-38, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Durung pecus kesusu kaselak besus, Amaknani rapal, kaya sayid weton Mesir, Pendhak pendhak angendhak gunaning jamna. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Belum pandai tergesa-gesa ingin berlagak, Menerangkan lafal, Seperti sayyid dari Mesir, Seringkali meremehkan kepandaian orang lain. Kajian per kata: Durung (belum) pecus (bisa, pandai) kesusu (tergesa-gesa) kaselak (terburu-buru) besus (tampilan mengesankan, berlagak). Belum pandai tergesa-gesa ingin berlagak Belum pandai benar, belum menguasai ilmu secara tuntas, sudah terburu-buru, tak sabar ingin tampil pintar, berlagak di depan orang banyak. Inilah ciri-ciri pelajar yang baru mengenal ilmu, selalu bangga dan seolah hanya dirinya yang tahu. Kadang perilakunya tak terkontrol, menyalahkan sana-sini, seolah-olah hanya dirinya yang paling mengerti. Hal ini sering ditemui pada para pelajar baru dalam bidang apa saja, terlebih-lebih dalam masalah agama. Amaknani (menerangkan) rapal (lafal, teks), kaya (seperti) sayid (sayyid, keturunan nabi, ahli agama) weton (lulusan) Mesir (Negeri Mesir). Menerangkan lafal, seperti sayyid dari Mesir . Rapal dalam gatra di atas sesuai konteks dalam kalimat, seperti sudah kami singgung pada bait terdahulu, merujuk pada teks-teks keagamaan atau dalil-dalil naqli, baik dari Al Quran, hadits maupun kitab lainnya. Hal ini dikuatkan dengan frasa kaya sayyid weton mesir. Sayyid adalah keturunan nabi yang membawa ajaran Islam ke Indonesia, jadi pastilah pintar dalam ilmu agama. Sedangkan Mesir sudah lama dikenal sebagai gudangnya orang pintar (ulama). Ada universitas tertua di dunia berdiri di sana, yakni Universitas Al Azhar yang sudah berdiri sejak tahun 900an Masehi. Jadi arti gatra di atas sesuai konteks dalam kalimat, adalah: menerangkan dalil-dalil keagamaan seolah-olah, bergaya seperti, orang pintar (ulama) dari Mesir. Pendhak-pendhak (seringkali) angendhak (meremehkan) gunaning (ilmunya) jamna (orang lain, sesama manusia). Seringkali meremehkan kepandaian orang lain. Seringkali, si anak muda yang baru belajar tadi, meremehkan ilmunya orang lain. Orang lain dianggap bodoh tidak mengerti ajaran agama seperti dirinya. Dari kajian terhadap bait 37 dan 38, diperoleh makna keseluruhan sebagai berikut.: Janganlah seperti orang jaman sekarang. Para anak muda yang menyombongkan diri dengan dalil-dalil. Padahal mereka sebenarnya belum ahli di bidang itu, tetapi tidak sabar untuk berlagak pintar dalam menerangkan dalil-dalil. Seolah-olah mereka ulama lulusan Mesir yang sudah terkenal kedalaman ilmunya. Seringkali mereka meremehkan ilmu orang lain. Sekali lagi ini adalah fenomena pengamalan keagamaan pada jaman serat Wedatama digubah. Apakah kondisi seperti itu masih ditemui di jaman sekarang? Semoga saja tidak. Walau begitu kita tetap harus waspada agar hal yang sama tidak terjadi lagi. Kajian wedatama (39): Elok, Jawa Denmohi? Bait ke-39, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Kang kadyeku, kalebu wong ngaku aku, Akale alangka, Elok Jawa denmohi, Paksa langkah ngangkah met kawruh ing Mekah. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Yang seperti itu, termasuk orang yang mengaku-aku, Pandangannya tak masuk akal, Aneh, tak suka pada kejawaan, Memaksa diri melangkah seperti pengetahuan orang di Mekkah. Kajian per kata: Kang (yang) kadyeku (seperti itu), kalebu (termasuk) wong (orang) ngaku (mengaku) aku (aku). Yang seperti itu, termasuk orang yang mengaku-aku. Dalam bait ke-38 dijelaskan tentang fenomena orang-orang yang sok tahu. Mereka sekedar mengaku-aku berilmu saja. Tidak berdasar mulat sarira hangrasa wani, melihat diri dan berani menilai diri sendiri. Inilah waham yang sering hinggap pada orang-orang pemula yang baru belajar sedikit ilmu. Mereka menjadi merasa pintar sekali, seolah-olah orang lain tak mempunyai pengetahuan sepertinya. Dalam belajar ilmu agama pun waham seperti ini juga sering menjangkiti para murid pemula. Akibatnya banyak perilaku mereka yang justru menjauh dari sifat-sifat seorang yang menjalani agama. Sombong, berlagak pintar bak orang alim dari Mesir dan meremehkan ilmu orang lain. Akale (akalnya) alangka (tak ada). Tak ada akalnya, pandangannya tak masuk akal. Wawasannya dangkal, pandangan hidupnya menjadi aneh. Karena sepotong-sepotong dalam memahami ajaran agama, maka yang terjadi justru terkesan menggelikan, tak masuk akal. Padahal orang beragama harus menggunakan akalnya secara maksimal untuk menangkap isyarat alam, tanda-tanda kekuasanNya. Elok (aneh) Jawa (jawa, kejawaan) denmohi (tak mau, tak suka). Aneh, kejawaan tak disukai. Yang lebih aneh lagi kemudian membuang segala hal yang berbau kejawaan dan menggantinya dengan segala hal ke-Arab-Araban. Walau sebenarnya secara konteks tidak cocok dan tidak perlu, karena pokok ajaran agama adalah moral yang baik, akhlak mulia. Memang ada beberapa hal dalam diri manusia yang bersifat abadi, tidak berubah sejak pertama kali diciptakan sampai hari ini. Nah, dalam hal yang seperti ini agama membuat peraturan yang universal juga. Namun untuk hal-hal yang sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan maka ada beberapa hal yang harus disesuaikan. Misalnya, sejak dahulu seorang anak adalah tanggungan orang tuanya dalam mengasuh dan memberi makan, maka berbakti kepada orang tua adalah ajaran agama yang tidak memandang tempat dan waktu. Dimana saja sejak dahulu sampai sekarang menghormati orang tua adalah wajib. Namun bentuk-bentuk penghormatan itu berlainan di tiap tempat, bergantung pada budaya setempat. Jadi tak harus kemudian ikut-ikutan dengan tatacara di tanah Arab sana. Paksa (memaksa) langkah (melangkah) ngangkah (menjangkau) met (sampai) kawruh (pengetahuan) ing (di) Mekah (Makkah, Arab). Memaksa diri melangkah seperti pengetahuan orang di Mekkah. Memaksakan satu kebiasaan suatu bangsa kepada bangsa lain tidak akan selalu cocok. Apalagi Jawa dan Arab terpisah jarak yang jauh, berbeda iklim dan lingkungan maka jelas akan ada perbedaan yang sangat jauh. Misalnya dari segi jenis tanaman pokok yang tumbuh. Di Arab kurma tumbuh subur berbuah lebat, di Jawa walau bisa subur tapi tak dapat berbuah. Makan kurma bagi orang Arab adalah keutamaan, bagi orang Jawa makan kurma adalah bermewah-mewahan, karena harus didatangkan dari Arab, tentu biayanya mahal. Di Arab pakaian lelaki yang cocok adalah baju panjang, ghamis. Di sana tidak menjadi masalah karena iklimnya cocok. Orang dengan pakaian itu juga tidak sumuk karena kelembaban udara rendah. Juga masih bisa bercocok tanam karena tanah di sana keras dan berpasir, jenis tanaman pun lain. Coba jika dipakai orang Jawa, sebentar sudah risih karena sumuk. Juga tidak bisa bekerja di sawah karena kondisi tanah becek dan berlumpur. Bayangkan seorang membajak sawah pakai ghamis, warna putih lagi. Pasti sepulangnya dari sawah sudah tak karuan bentuknya. Nah dalam hal inilah beberapa adat kebiasaan di Arab sana mesthi disesuaikan dengan konteks kejawaan. Meski demikian agama selalu membawa nilai-nilai universal yang ada pada setiap manusia, untuk yang ini kita memang harus tunduk, sami’na wa atho’na.