Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Angarah warak wuruk
Kajian Wedharaga (13) Bait ke-13, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Angarah warah wuruk, lamun seje murad maksudipun, rasakena ing ati dipun nastiti. Aja pijer umbag umuk, mundhak kawiyak yen bodho. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Mengharap nasihat dan pengajaran, bila berbeda maksud tujuannya, direnungkan dalam hati secara teliti. Jangan sering pamer dan besar mulut, agar jangan terbongkar kalau bodoh.
Kajian per kata: Angarah (mengharap) warah (nasihat) wuruk (dan ajaran), lamun (bila) seje (beda) murad maksudipun (maksud tujuannya), rasakena (direnungkan) ing (dalam) ati (hati) dipun nastiti (secara teliti). Mengharap nasihat dan pengajaran, bila berbeda maksud tujuannya, direnungkan dalam hati secara teliti. Seorang yang cinta ilmu pengetahuan akan sangat mendambakan seorang guru yang berkenan mengajar padanya. Maka jika melihat seorang yang cerdik-cendekia yang dia harapkan hanyalah nasihat dan ajarannya. Tak peduli apakah sang guru ia sepakati ilmunya dia tetap akan mendengarkan apa yang diajarkan. Jika ternyata dia mendapati maksud dan tujuan yang berbeda dalam ajaran sang guru dia tidak serta-merta membantah, tetapi merenungkan dalam hati terlebih dahulu, dipikirkan dengan akal-budi secara teliti dan cermat. Bagaimanapun ajaran sang guru yang kepada kita telah berkenan membagi ilmu harus kita hargai. Kalau dalam budaya Jawa ada istilah, kapundhi ing mustaka dadosa jejimat, artinya diletakkan di atas kepala menjadi pegangan hidup. Inilah etika seseorang ketika menerima ilmu dari orang lain. Aja (jangan) pijer (sering) umbag (pamer) umuk (besar mulut), mundhak (agar jangan) kawiyak (terbongkar) yen (kalau) bodho (bodoh). Jangan sering pamer dan besar mulut, agar jangan terbongkar kalau bodoh. Orang pandai yang sejati akan bersikap seperti yang telah diuraikan pada bait sebelumnya, yakni berhati-hati, awas eling dan dapat mengira-ngira mana yang lebih baik. Sikap ini dinamakan duga lan prayoga. Tentang sikap pamer dan besar mulut, telah kami tegaskan berkali-kali bahwa yang demikian bukanlah ciri-ciri dari orang pandai. Janganlah sekal-kali bersikap demikian. Tidak ada keuntungannya dalam pamer ilmu, malah orang-orang menjadi tahu bahwa sebenarnya kita bodoh. Seperti halnya orang takkan tahu isi dari sebuah tong manakala belum mengetuknya. Sesudah diketuk-ketuk dan keluarlah bunyi nyaringnya baru orang paham: oh kosong .....
Anganggowa dhuga prayoga
Kajian Wedharaga (12) Bait ke-12, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Lamun pinter satuhu, tan mangkono ing reh patrapipun. Kudu nganggo watara duga prayogi. Pinter angaku balilu, dennya met kagunaning wong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Jika benar-benar pandai, tidak demikian dalam perilakunya. Harus memakai pengamatan dan perkiraan, mana yang lebih baik. Pandailah mengaku bodoh, agar mendapat kepandaian orang.
Kajian per kata: Lamun (jika) pinter (pandai) satuhu (benar-benar), tan (tidak) mangkono (demikian) ing reh (dalam hal) patrapipun (perilakunya). Jika benar-benar pandai, tidak demikian dalam perilakunya. Bait ini melanjutkan isi bait sebelumnya yang menguraikan sifat-sifat orang yang mempertontonkan ilmunya. Mencari pujian dari orang lain dengan cara pamer kepandaian. Sebenarnya jika seseorang benar-benar pandai justru tidak demikian perilakunya. Kudu (harus) nganggo (memakai) watara (pengamatan) duga (perkiraan) prayogi (mana yang selayaknya), Harus memakai pengamatan dan perkiraan mana yang lebih baik. Orang yang sudah ahli akan penuh perhitungan dalam bertindak, mengamati dan memperkirakan segala akibat dari perilakunya. Dapat menduga-duga sikap apa yang lebih baik diambil ketika bersama banyak orang. Dalam banyak kesempatan tidak merasa perlu untuk pamer. Toh baru sedikit yang ia ketahui, masih banyak pengetahuan lain yang belum sempat dipelajarinya. Justru pada setiap kesempatan jika mungkin ia lebih suka mengambil pelajaran dari orang lain dalam bidang yang baru. Pinter (pandai) angaku (mengaku) balilu (bodoh), dennya (agar dia) met (mendapat) kagunaning (kepandaian) wong (orang). Pintar mengaku bodoh, agar dia mendapat kepandaian orang. Maka ia tak segan-segan untuk menunjukkan bahwa ia tidak mengerti dalam bidang baru itu. Dia tak malu untuk disebut bodoh. Dengan cara demikian dia mendapat kesempatan untuk bertanya tanpa sungkan kepada orang lain. Yang ditanya pun dengan sukarela akan berbagi ilmu karena merasa pengetahuannya dihargai. Lain halnya kalau seseorang bersikap sombong, tertutup baginya kesempatan untuk belajar ilmu baru karena calon gurunya pun ogah melayani. Ini sebuah kerugian besar jikalau dia menyadari. Sampai di sini kita sudah tahu manfaat dari sikap rendah hati dan mengakui kebodohan. Bodoh sesungguhnya bukan suatu aib. Yang memalukan adalah sikap pemalas dan sombong, malas untuk belajar dan menyombongkan sedikit ilmu.
Lumuh katon balilu
Kajian Wedharaga (11) Bait ke-11, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Karana ing tumuwuh, akeh lumuh katona mbalilu. Marma tansah mintonken kawruh pribadi, amrih den alema punjul. Tan wruh bakal kajalomprong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sebab di dalam kehidupan, banyak orang tidak mau kelihatan bodoh. Maka selalu mempertontonkan pengetahuan sendiri, agar dipuji sebagai punyak kelebihan. (Dia) tak mengetahui akan terjerumus.
. Kajian per kata: Karana (sebab, karena) ing (dalam) tumuwuh (kehidupan), akeh (banyak) lumuh (tidak mau) katona (terlihat) mbalilu (bodoh). Sebab di dalam kehidupan, banyak orang tidak mau kelihatan bodoh. Bodoh itu sifat yang tidak populer dan sering menjadi bahan bullying sejak masih anak-anak. Di sekolah-sekolah pun para guru mengajarkan para murid agar rajin belajar supaya tidak bodoh. Mereka memperolok orang bodoh dengan kalimat: bodho longa-longo kaya kebo pakanane suket ijo sak tompo. Silahkan dipahami sendiri kalimat tersebut karena terjemahannya tak semenghina dalam bahasa asalnya. Fenomena di atas terpatri dalam benak setiap anak sampai dewasa, maka takkan ada seorangpun yang mau kelihatan bodoh. Kesadaran ini sudah mengendap di alam bawah sadar, yang takkan mudah untuk diubah. Marma (maka) tansah (selalu) mintonken (mempertontonkan) kawruh (pengetahuan) pribadi (diri), amrih (agar) den (di) alema (puji) punjul (lebih). Maka selalu mempertontonkan pengetahuan sendiri, agar dipuji sebagai punyak kelebihan. Yang sebaliknya anak yang pintar akan selalu dipuji teman, disayang guru, mudah mendapat teman dan takkan ada yang memperolok. Kesadaran ini juga akan dibawa sampai tua, maka setiap orang berusaha kelihatan pintar agar selalu mendapat pujian sebagai orang yang lebih dari sesamanya. Akibatnya banyak orang yang berlagak pintar demi meraih simpati. Mempunyai pengetahuan sedikit saja sudah banyak bicara. Baru tahu satu hal sudah menyalahkan hal lainnya. Baru memahami satu kebenaran sudah merasa paling benar. Semua muara dari sikap sok pintar pada dasarnya hanya satu: gila pujian. Tan (tak) wruh (mengetahui) bakal (akan) kajalomprong (terjerumus). (Dia) tak mengetahui akan terjerumus. Orang-orang yang bersikap seperti itu tidak mengetahui bahwa sikap tersebut sangat merugikan dirinya sendiri, menjerumuskannya dalam kerugian yang besar. Mengapa demikian? Jawabnya ada pada kajian berikutnya.
Simpenen ing pangkur
Kajian Wedharaga (10) Bait ke-10, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Lamun wus sarwa putus, kapinteran simpenen ing pungkur. Bodhonira katokna ing ngarsa yekti, gampang traping tindak-tanduk, amawas pambekaning wong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Jika sudah ahli, kepandaianmu simpanlah di belakang. Kebodohanmu perlihatkan di muka sebenarnya (ini), memudahkan menerapkan langkah, dalam memahami perangai orang.
Kajian per kata: Lamun (jika) wus (sudah) sarwa (serba) putus (ahli), kapinteran (kepandaian) simpenen (simpanlah)
pungkur (belakang). Jika sudah ahli, kepandaianmu simpanlah di belakang. Putus artinya sudah pintar, sudah ahli, sudah menguasai ilmu tertentu. Jika sudah ahli dalam satu ilmu sembunyikan keahlian itu jauh di belakang agar tak terlihat orang. Etika orang berilmu memang tidak perlu memamerkan ilmunya kepada banyak orang. Bodhonira (kebodohanmu) katokna
(memudahkan) traping (menerapkan) tindak-tanduk (langkah), amawas (memahami) pambekaning (perangai) wong (orang). Kebodohanmu perlihatkan di muka sebenarnya (ini), memudahkan menerapkan langkah, dalam memahami perangai orang. Sebaliknya pada hal-hal yang kita masih bodoh tampakkanlah kebodohan itu kepada banyak orang. Menampakkan di sini bukan berarti kita pura-pura bodoh tetapi dengan tetap memperbanyak bertanya dalam hal yang kita tidak tahu. Karena ilmu pengetahuan itu luas, seseorang yang sudah ahli dalam satu ilmu belum tentu ahli dalam ilmu lainnya, maka pada hal-hal yang belum tahu tersebut jangan sungkan-sungkan untuk tetap bertanya agar pengetahuan semakin banyak. Sikap yang demikian itu lebih baik daripada memamerkan sedikit yang kita tahu, lebih nyaman bagi orang lain dan memudahkan bagi kita melangkah dalam kehidupan. Hidup menjadi tidak terbebani serta lebih mudah dalam mengenal watak orang lain. Inilah etika yang dipegang teguh para ahli ilmu, ibarat batang padi semakin berisi semakin menunduk. Sebaliknya orang-orang bodoh justru berlagak pintar dengan banyak bicara hal yang dia tidak paham benar, ibarat tong kosong jika diketuk nyaring bunyinya.
Apik ipil- ipil kaweruh
Kajian Wedharaga (9) Bait ke-9, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Tinimbang lan anganggur, kaya becik ipil-ipil kawruh. Angger datan ewan panasten sayekti, kawignyane wuwuh-wuwuh. Wekasan kasub kinaot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Daripada menganggur, lebih baik mengumpulkan sedikit-sedikit pengetahuan. Asalkan tidak gampang iri hati dan panas hati benar-benar, kepandaiannya bertambah-tambah. Akhirnya terkenal (dari) yang lain.
Kajian per kata: Tinimbang (daripada) lan anganggur (menganggur),
(mengumpulkan sedikit-sedikit) kawruh (pengetahuan). Daripada menganggur lebih baik mengumpulkan sedikit-sedikit pengetahuan. Ipil-ipil adalah mengumpulkan sesuatu sedikit demi sedikit. Tentu perbuatan ini terkesan tidak serius, namun jika dilihat dari konteks kehidupan menjadi sangat bermanfaat. Misalnya ketika sedang duduk-duduk menunggu kereta lewat daripada hanya diam, iseng-iseng bertanya kepada sesama penunggu. Barangkali ada salah satu penunggu yang mempunyai kisah atau pengetahuan yang belum kita tahu. Maka sambil menunggu datangnya kereta kita bisa mendengar kisah-kisah yang penuh hikmat. Walau ilmu yang kita dapat dari pertemuan singkat itu hanya sedikit tetapi lebih baik daripada hanya duduk diam saja. Dalam banyak peristiwa kesempatan seperti itu akan ada, manfaatkanlah sebisanya. Angger (asalkan) datan (tidak) ewan (gampang iri hati) panasten (panas hati) sayekti (benar-benar), kawignyane (kepandaiannya) wuwuh-wuwuh (bertambah-tambah). Asalkan tidak gampang iri hati dan panas hati benar-benar, kepandaiannya bertambah-tambah. Dalam mencari ilmu terhadap sesama, baik dengan cara bertanya seperti di atas, atau dengan memperhatikan, atau dengan sengaja ingin mempelajari yang harus dipunyai adalah sikap tawadlu’. Kita takkan mendapat ilmu kalau kita gampang iri hati atau gampang panas hati jika melihat kesuksesan orang. Misalnya ketika piknik kok melewati peternakan bebek yang sukses, maka jangan ragu untuk bertanya kepada si empunya ternak dengan rendah hati. Siapa tahu kelak ilmu yang kita dapat bermanfaat. Namun kalau kita iri tentu yang terjadi bukan bertanya tetapi malah mencemooh, “Aduh ternak kok ya bebek! Bikin bau aja!” Sikap yang rendah hati atau tawadlu’ tadi akan membuat pengetahuan kita bertambah karena orang menjadi tidak segan untuk berbagi ilmu. Sebaliknya sikap iri dan panas hati akan menjauhkan diri dari ilmu, meski dekat pun takkan terambil wong gayanya pura-pura tak butuh. Piye jal? Wekasan (akhirnya) kasub (terkenal) kinaot (yang lain). Akhirnya terkenal (dari) yang lain. Apabila kita rajin mengumpulkan pengetahuan dengan cara tersebut kelak juga akan banyak pengetahuan yang kita miliki. Nama kita akan dikenal lebih daripada orang lain, karena kita menjadi banyak teman akibat sering bertanya tadi. Sebuah sikap yang dobel manfaat.
Aja ewut lan sungkan
Kajian Wedharaga (8) Bait ke-8, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Wong amarsudi kawruh, titirona ing reh kang rahayu. Aja kesed sungkanan sabarang kardi. Sakadare angingimpun, nimpeni kagunaning wong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Bagi orang yang berupaya memperdalam pengetahuan, tirulah dalam segala hal yang baik. Jangan malas dan enggan dalam sembarang pekerjaan. Sekadarnya mengumpulkan, memanfaatkan kepandaian orang.
Kajian per kata: Wong (orang) amarsudi (berupaya memperdalam) kawruh (pengetahuan), titirona (tirulah) ing reh (dalam hal semua) kang (yang) rahayu (baik, selamat). Bagi orang yang berupaya memperdalam pengetahuan, tirulah dalam segala hal yang baik. Belajar yang paling gampang adalah meniru, namun yang cara yang demikian memerlukan contoh atau teladan. Jika ada orang yang bisa diteladani maka jangan membuang kesempatan, contohlah apapun yang baik darinya. Bila perlu bergurulah kepada pribadi-pribadi yang telah teruji dalam hal kebaikan sifat dan perilakunya. Selain mendapat teladan juga mendapat berkah dari kebaikan sang guru. Karena seperti halnya sifat buruk yang bisa menular, sifat-sifat baik pun demikian adanya. Aja (jangan) kesed (malas) sungkanan (enggan) sabarang (dalam sembarang) kardi (pekerjaan). Jangan malas dan enggan dalam sembarang pekerjaan. Sebagai murid harus rajin dalam menuntut ilmu dan menjalankan perintah guru. Jika berguru secara non formal maka harus rajin membantu kerepotan guru, agar beliau berkesan hatinya dan berkenan menurunkan ilmunya. Jangan memperlihatkan sifat malas, dan enggan dalam melakukan pekerjaan. Hal itu membuat yang melihat pun tak senang dan dongkol. Jika begitu, mana ada orang yang dengan senang hati akan berbagi ilmu dengan orang yang demikian? Sakadare (sekadarnya) angingimpun (mengumpulkan), nimpeni (memanfaatkan) kagunaning (kepandaian) wong (orang). Sekadarnya mengumpulkan, memanfaatkan kepandaian orang. Dalam hal pengetahuan juga hendaknya rajin mengumpulkan ilmu, bertanya tentang sesuatu kepada yang ahli tentang ini, selanjutnya kumpulkan jawabannya. Jika mungkin pelajari kitab dari ahli ini dan kumpulkan kesimpulan mereka. Inilah yang disebut memanfaatkan ilmu orang lain untuk menambah pengetahuan. Yang demikian itu disebut mengutip, itu boleh dilakukan dan tidak melanggar etika. Yang tidak boleh adalah menjiplak, atau plagiat, yakni mengakui karya orang lain sebagai hasil karyanya.
Akanthi awas lan emut
Kajian Wedharaga (7) Bait ke-7, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Akanthi awas emut, aja tinggal wiweka ing kalbu. Mituhua wawarah kang makolehi. Den taberi anguguru, aja isin atatakon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Disertai awas dan eling, jangan meninggalkan kewaspadaan dalam hati. Patuhilah nasihat yang bermanfaat. Harap rajin dalam menuntut ilmu, jangan malu-malu dalam bertanya.
Kajian per kata: Akanthi (diserti) awas (waspada) emut (ingat),
kehati-hatian) ing (dalam) kalbu (hati). Disertai awas dan eling, jangan meninggalkan kewaspadaan dalam hati. Waspada lebih ditujukan ke luar dalam menghadapi berbagai godaan dan halangan yang muncul. Emut (ingat) berarti mengingat diri sendiri, menjaga diri dari keinginan hati yang melampaui batas, jadi ingat lebih ditujukan ke dalam. Sedangkan wiweka lebih bermakna menjaga kewaspadaan hati, jangan sampai hati terlena dengan bujukan dari luar (kadang bersifat sangat halus), sehingga terjerumus dalam perbuatan tercela. Mituhuwa (patuhilah) wawarah (nasihat) kang (yang) makolehi (bermanfaat). Patuhilah nasihat yang bermanfaat. Jika mendengar nasihat yang bermanfaat dan benar jangan ragu untuk mematuhinya dari manapun datangnya nasihat itu. Kata sayidina Ali r.a., seorang muslim paling berhak atas hikmat, sehingga apabila menemukan di mana saja maka dia berhak mengambilnya. Den (harap) taberi (rajin) anguguru (berguru, menuntut
Harap rajin dalam menuntut ilmu, jangan malu-malu dalam bertanya. Taberi artinya telaten dan ajeg (kontinyu), tidak sering mbolos atau seenaknya saja dalam mengikuti pelajaran, rajin dan perhatian terhadap ajaran guru. Jangan malu-malu untuk bertanya apabila belum mengerti benar tentang segala sesuatu. Karena saat serat ini digubah belum banyak didirikan sekolah formal dan kalaupun ada peserta didiknya juga hanya dari kalangan bangsawan, maka nasihat tentang pelajaran dalam serat ini lebih ditujukan pada anak muda yang menuntut ilmu secara non formal. Oleh karena itu istilah yang dipakai adalah anguguru, artinya mencari guru untuk diambil ilmunya. Ada banyak orang yang bersedia menerima murid pada waktu itu. Konsep yang diterapkan adalah suwita atau ngenger, yakni ikut menumpang hidup di rumah sang guru dan membantu segala kerepotan sambil belajar.
Langganan:
Postingan (Atom)