Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Jun kurang idsi
Kajian Wedharaga (29;31) Bait ke-29;31, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Maksih cilik ususmu, baya lagi sadami gengipun. Yen nyabranga luwih saking seket warsi, wus gedhe dawa ususmu. Barang kapinteran kamot.
Mokal lamun alimut, jroning layang Nitisastra iku. Gajeg ana pralampitane kang muni, upama jun kurang banyu, kocak-kocik kendhit ing wong.
Manawa kebak kang jun, yekti anteng den indhit ing lambung. Iku bae kena kinarya palupi, pedah apa umbak umuk, mundhak kaeseman ing wong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Masih kecil ususmu, paling-paling baru sebatang padi besarnya. Kalau sudah melewati lebih dari lima puluh, sudah besar dan panjang ususmu. Sembarang pengetahuan termuat.
Tak masuk akal jika (engkau) tak tahu, dalam serat Panitisastra itu. Kiranya ada perumpamaan yang berbunyi, seumpama guci kurang air, kocak-kocak jika dipinggang orang.
Jika klenthing itu penuh, sungguh akan tenang kalau dibawa di pinggang. Hal itu saja bisa dibuat sebagai contoh, manfaat apa yang diperleh dengan pamer dan banyak mulut, hanya ditertawakan orang.
Kajian per kata: Maksih (masih) cilik (kecil) ususmu (ususmu), baya (paling) lagi (baru) sadami (sebatang padi) gedhene (besarnya). Masih kecil ususmu, paling-paling baru sebatang padi besarnya. Kalimat cilik usus di atas adalah ungkapan tentang seseorang yang belum berpengalaman dalam kehidupan. Sebaliknya, di Jawa ada ungkapan dawa ususe, artinya orang yang sabar dan telaten dalam melakukan sesuatu, tidak grusa-grusu (tergesa-gesa) serta pemikirannya jauh ke depan. Yen (kalau) nyabranga (melintas) luwih (lebih) saking (dari) seket (lima puluh) warsi (tahun), wus (sudah) gedhe (besar) dawa (panjang) ususmu (ususmu). Kalau sudah melewati lebih dari lima puluh, sudah besar dan panjang ususmu. Di sini ada kata dawa usus, artinya sudah diterangkan di atas. Menurut Ki Gambuh yang menggubah serat ini batas kedewasaan seseorang dimulai dari usia 50 tahun. Lebih dari usia itu seharusnya sudah matang dalam pemikiran dan dewasa dalam tindakan, bajik dalam perilaku, bijak dalam pertimbangan. Kalau sudah lebih dari 50 tahun kok belum mempunyai ciri-ciri tersebut, yang bersangkutan sedang mengalami idiot spiritual. Barang (sembarang) kapinteran (pengerahuan) kamot (termuat). Sembarang pengetahuan termuat. Pada usia itu seharusnya pengetahuan seseorang sudah sempurna karena sudah tiba waktu baginya untuk mengajarkan pada seseorang segala kepandaian yang ia miliki. Meski mencari ilmu bisa dilakukan sampai ajal namun pada usia tersebut seseorang seharusnya sudah mulai membagikan ilmunya kepada orang lain. Mokal (tak masuk akal) lamun (jika) alimut (gelap, tak tahu), jroning (dalam) layang (serat, kitab) Nitisastra (panitisastra) iku (itu). Tak masuk akal jika (engkau) tak tahu, dalam serat Panitisastra itu. Limut artinya gelap, dalam gatra ini bermakna gelap pengetahuan atau tidak tahu. Nitisastra adalah nama serat yang berisi ajaran untuk hidup bermasyarakat di zaman dahulu. Serat Nitisastra yang asli ditulis dalam bahasa Kawi dalam bentuk kakawin. Oleh Sri Pakubuwana IV kemudian diperintahkan untuk disadur dalam bahasa Jawa anyar dalam bentuk Macapat, dan jadilah serat yang baru dengan nama Serat Panitisastra. Gajeg (kiranya, kalau tak salah) ana (ada) pralampitane (perumpamaan) kang (yang) muni (berbunyi), upama (seumpama) jun (klenthing, guci tanah liat) kurang (kurang) banyu (air), kocak-kocik (kocak-kocak) kendhit (di pinggang) ing wong (orang). Kiranya ada perumpamaan yang berbunyi, seumpama guci kurang air, kocak-kocak jika dipinggang orang. Jun atau disebut juga klenthing adalah guci dari tanah liat/tembikar tempat air. Sering dipakai untuk membawa air dari sumber air kala belum ada sumur. Biasanya para ibu rumah tangga membawanya dengan dijepit di pinggang dengan tangan. Cara membawa dengan posisi ini disebut ngendhit. Dalam serat Panitisastra ada sebuah perumpamaan tentang penguasaan ilmu seseorang. Diibaratkan ilmu seseorang laksana klenthing yang diisi air. Jika air tidak penuh ketika dibawa akan kocak dan berbunyi, krucuk-krucuk. Berisik suaranya. Manawa (jika) kebak (penuh) kang jun (klenthing itu), yekti (sungguh) anteng (tenang) den indhit (dibawa) ing (di) lambung (pinggang). Jika klenthing itu penuh, sungguh akan tenang kalau dibawa di pinggang. Sebaliknya jika klenthing itu penuh, sungguh akan tenang tak bersuara kalau dibawa di pinggang. Tidak terdengar bunyi krucuk-krucuk lagi. Dalam bahasa Indonesia ada pepatah yang artinya sama, tong kosong nyaring bunyinya. Artinya jika seseorang tak berilmu alias kosong otaknya, justru akan nyaring suaranya. Iku (itu) bae (saja) kena (bisa) kinarya (dibuat) palupi (contoh), pedah (manfaat) apa (apa) umbag (sombong, pamer) umuk (banyak mulut), mundhak (malah, hanya tambah) kaeseman (disenyumi, ditertawakan) ing wong (orang). Hal itu saja bisa dibuat sebagai contoh, manfaat apa yang diperleh dengan pamer dan banyak mulut, hanya ditertawakan orang. Dari kejadian sederhana tersebut sebenarnya kita sudah dapat mengambil pelajaran. Tidak ada manfaat dari suka pamer dan omong besar, hanya mengungkap bahwa kita kosong dari pengetahuan. Akibatnya orang-orang pun tertawa, tersenyum sinis melihatnya. Kaeseman artinya diberi senyuman, artinya mereka menertawakan secara halus. Dalam hati mereka berkata, “Oh maklum , orang kurang pengertian!”
Tanda durung kamot
Kajian Wedharaga (26;28) Bait ke-26;28, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Dongeng jaman karuhun, mbokmanawa pantes dadi pemut. Ana janma bagus anom sarwa wasis, nanging kuciwa kasebut, tukang sual juru waon.
Sawiji dina nuju, temu lawan wong tuwa wus pikun. Mintoaken kabangkitan lair-batin. Kaki tuwa alon muwus, mengko ta wong bagus anom.
Manira takon tuhu, lagi pira umurira bagus. Winangsulan uwis telung puluh warsi, kaki tuwa mesem muwus, layak durung bisa amot. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ada cerita dari zaman dahulu, barangkali pantas menjadi peringatan. Ada seorang yang tampan masih muda serta cakap, tetapi yang mengecewakan dia disebut, tukang mencari masalah dan suka mencela.
Suatu hari kebetulan, bertemu dengan orang tua yang sudah pikun. (Pemuda itu)menunjukkan kepandaian lahir batin. Kakek tua itu berkata dengan pelan halus, “Sebentar anak muda tampan.
Saya bertanya yang sebenarnya, baru berapa umurmu, cah bagus?” Dijawab (oleh orang muda itu), “Sudah tiga puluh tahun.” Kakek tua tersenyum sambil berkata, “Pantas belum bisa memuat (pengetahuan)!”
Kajian per kata: Dongeng (cerita) jaman (zaman) karuhun (dahulu), mbokmanawa (barangkali) pantes (pantas) dadi (menjadi) pemut (peringatan). Ada cerita dari zaman dahulu, barangkali pantas menjadi peringatan. Dongeng adalah cerita didaktik yang sering dipakai oleh para orang tua zaman dulu untuk menyampaikan pesan atau petuah. Pesan-pesan itu dibingkai dalam cerita agar berkesan mendalam. Umumnya dongeng ditujukan untuk anak-anak yang belum begitu berkembang pikirannya. Karena itu dongeng sering berbentuk fabel semisal Kancil Nyolong Timun, Timun Emas, Kancil dan Buaya, dll. Dengan dongeng pesan-pesan disampaikan dengan berkesan tanpa harus menggurui. Kadang seorang anak yang pikirannya sudah berkembang membantah dongeng tersebut karena sering tidak masuk akal, seperti binatang kok bisa bicara, dll. Orang tua zaman dahulu hanya menjawab singkat, “Ini kan hanya dongeng, dipaido kenging!” Dalam bait ini Ki Gambung juga hanya menyampaikan dongeng, jadi Anda pun boleh membantahnya, tetapi lebih baik dengarkalah, barangkali bisa menjadi peringatan bagi kita semua. Ana (ada) janma (seorang) bagus (tampan) anom (masih muda) sarwa (serta) wasis (cakap), nanging (tetapi) kuciwa (yang mengecewakan) kasebut (disebut), tukang (tukang) sual (mencari masalah) juru (suka) waon (mencela). Ada seorang yang tampan masih muda serta cakap, tetapi yang mengecewakan dia disebut, tukang mencari masalah dan suka mencela. Ada seorang pemuda yang tampan dan cakap serta pintar. Namun ada hal yang mengecewakan darinya. Dia disebut-sebut orang suka mencari persoalan dengan orang lain. Dan juga suka mencela sesama. Ini adalah khas perilaku anak muda yang suka mengikuti gejolak hati, seperti yang sudah kita sebutkan wataknya dalam bait-bait yang lalu. Sawiji (suatu) dina (hari) nuju (di saat, kebetulan), temu (bertemu) lawan (dengan) wong (orang) tuwa (tuwa) wus (sudah) pikun (pikun). Mintoaken (dari kata mitontonaken, menunjukkan) kabangkitan (kepandaian) lair –batin (lahir batin). Suatu hari kebetulan, bertemu dengan orang tua yang sudah pikun.(Pemuda itu)menunjukkan kepandaian lahir batin. Suatu hari dia bertemu dengan seorang tua yang sudah pikun. Tanpa unggah-ungguh dan sopan santun pemuda itu menunjukkan kepandaiannya lahir dan batin. Anak muda memang tidak sabaran. Ketika melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang diketahuinya biasanya langsung bereaksi dengan cara yang kurang patut. Misalnya, menyalahkan, mencela atau menggurui. Ini reaksi yang wajar dari seorang yang kurang sempurna ilmunya, tanda tak luas wawasannya, menunjukkan kerdilnya pikiran dan dangkalnya pengetahuan. Mereka tidak mempertimbangkan ada kebenaran lain yang diluar pengetahuannya. Kaki (kakek) tuwa (tua) alon (pelan, halus) muwus (berkata), mengko ta (sebentar) wong (orang) bagus (tampan) anom (muda). Manira (saya) takon (bertanya) tuhu (yang sebenarnya), lagi (baru) pira (berapa) umurira (umurmu) bagus (bagus, tampan). Kakek tua itu berkata dengan pelan halus, “Sebentar anak muda. Saya bertanya yang sebenarnya, baru berapa umurmu cah bagus?” Menanggapi ketidak sopanan orang muda tadi kakek tua berkata dengan halus, “Sebentar anak muda. Ke sinilah dahulu. Duduklah di sini! Saya ingin bertanya, baru berapa umurmu bocah bagus?” Bocah bagus, atau cah bagus adalah panggilan sayang para orang tua kepada anak-anak muda. Namun panggilan ini sering kali dipakai sebagai cara untuk membujuk anak-anak nakal agar mau dinasehati. Tampaknya kakek tua sedang melakukan itu. Winangsulan (dijawab) uwis (sudah) telung puluh (tiga puluh) warsi (tahun), kaki (kakek) tuwa (tua) mesem (tersenyum) muwus (berkata), layak (pantas) durung (belum) bisa (bisa) amot (memuat). Dijawab (oleh orang muda itu), “Sudah tiga puluh tahun.” Kakek tua tersenyum sambil berkata, “Pantas belum bisa memuat (pengetahuan)!” Ketika orang muda itu menjawab sudah tiga puluh umurnya, kakek tua hanya berkata setengah bergumam, “Oh pantas belum bisa memuat (pengetahuan)!” Tiga puluh tahun ternyata belum mencapai usia yang matang dalam berilmu, itulah pendapat si kakek tua. Lalu berapakah usia seseorang mencapai kematangan pikir dan kedewasaan sikap? Nantikan dalam kajian berikutnya.
Drn bisa tepa sarira
Kajian Wedharaga (25) Bait ke-25, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Sapa wruh kembang tepus, iku bisa angarah panuju. Yekti datan adoh lan badan pribadi. Lamun kanthi awas emut, salamet tumekaning ndon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Siapa yang mengetahui kembang tepus, itu bisa mengarahkan pada cocoknya hati. Sungguh (rasanya) takkan jauh dengan diri sendiri. Jika disertai waspada dan ingat, akan selamat sampai tujuan.
Kajian per kata: Sapa (siapa) wruh (mengetahui) kembang (kembang) tepus (tepus, nama bunga), iku (itu) bisa (bisa) angarah (mengarahkan) panuju (cocoknya hati). Siapa yang mengetahui kembang tepus, itu bisa mengarahkan pada cocoknya hati. Frasa kembang tepus ini juga terdapat dalam Kidung Suksma Wedha namun dalam redaksi yang berbeda, yakni sapa weruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke artadaya. Ahmad Chojim dalam Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga memaknai kembang tepus sebagai kalimat metafor, kalimat perumpamaan, yakni perumpamaan bagi asal-usul manusia. Kamajaya dalam Lima Karya Pujangga Ranggawarsita mengartikan sebagai berikut. Kembang tepus adalah nama jenis kembang. Tepus = tepa, ukur = ukuran panjang, luas, dan tebal dari sesuatu. Di sini kembang tepus dipakai untuk memperingatkan orang agar perbuatan dan tindakannya mengukur pada diri sendiri. Peribahasa: ukur baju badan sendiri (Jawa: tepa salira). Panuju artinya hal-hal yang membuat hati bersetuju, sesuai yang dimaksud. Kata ini sering dipakai dalam bentuk lain, nuju prana, pas dengan maksud hati. Jadi gatra di atas bermakna barang siapa mengetahui dirinya, dapat menerapkan tepa slira, maka akan mengarahkan pada kecocokan hati dengan orang lain. Yekti (sungguh) datan (tidak) adoh (jauh) lan (dengan) badan (badan, diri) pribadi (sendiri). Sungguh (rasanya) takkan jauh dengan diri sendiri. Apapun yang dirasakan orang lain sungguh tak jauh dengan rasa kita sendiri. Hal ini masih berkaitan dengan tepa slira tadi. Misalnya kita tak suka dicaci maki, maka orang lain pun juga tidak suka. Jika kita tidak suka melihat orang sombong, maka orang di sekitar kita juga tidak suka melihat kita sombong. Prinsip tepa slira berusaha menerapkan perasaan pada diri sendiri seandainya orang lain berlaku seperti yang kita lakukan. Pada umumnya orang bersikap sama, tak jauh dari diri kita sendiri. Maka apapun yang jika dilakukan orang lain kita merasa tidak suka, janganlah kita juga melakukan hal yang sama. Lamun (jika) kanthi (disertai) awas (waspada) emut (eling), salamet (selamat) tumekaning (sampai) ndon (tujuan). Jika disertai waspada dan ingat, akan selamat sampai tujuan. Dalam berbagai kesempatan Ranggawarsita selalu mengingatkan agar kita selalu waspada dan ingat. Arti kedua kata itu sudah sering kita bahas dalam kajian ini. Namun tidak ada salahnya kami ulang kembali agar tertanam dalam hati. Ingat berarti mengingat diri sendiri, menjaga diri dari keinginan hati yang melampaui batas, jadi ingat lebih ditujukan ke dalam. Waspada lebih ditujukan ke luar, dalam menghadapi berbagai godaan dan halangan yang datang dari luar. Jika kita bisa memadukan tiga hal di atas, tepa slira, waspada dan ingat, maka hidup kita akan selamat sampai tujuan.
Den bisa matrap unggah ungguh
Kajian Wedharaga (23;24) Bait ke-23;24, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Tur maksih sasar-susur, saraseng ros tan pati tinemu. Wekasane mung kudu den alem bangkit, inganthukan bae munthuk. Tandha lamun durung kamot.
Marma utama tuhu, yen abisa matrap unggah-unggah. Tanggap ing reh ngarah-arah ngirih-ngirih. Satiba telebing tanduk, tumindak lawan angawon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Lagi pula masih tersesat-sesat, rasa intinya tak begitu didapat. Akhirnya hanya harus dipuji agar semangatnya muncul, diangguki saja sudah berbesar hati. Pertanda kalau (dalam dirinya) belum memuat (banyak pengetahuan).
Oleh karena itu yang utama sebenarnya, kalau bisa menerapkan sopan-santun. Tanggap pada hal berhati-hati (bertindak) secara halus. Dalam berbuat apapun, dilakukan dengan mengalah.
Kajian per kata: Tur (lagi pula) maksih (masih) sasar-susur (tersesat-sesat), saraseng (rasa dalam) ros (inti) tan (tak) pati (begitu) tinemu (diperoleh, didapat). Lagi pula masih tersesat-sesat, rasa intinya tak begitu didapat. Dalam bait sebelumnya diuraikan tentang kegagalan seseorang dalam bersikap manis kepada orang lain, wiweka reh nayadi. Hal ini tidak aneh karena orang yang mampu bersikap manis, menyenangkan hati orang lain, adalah mereka yang sudah putus (khatam, ahli) dalam pengetahuan. Orang yang sudah tuntas belajar dan sempurna ilmunya takkan mencari pujian dari orang lain. Dia bertindak atas dasar keperluan, kewajiban dan tugas yang diembannya. Namun sebaliknya orang yang belum sempurna ilmunya hanya berbuat karena mencari pengakuan saja. Gatra berikut menggambarkan watak mereka yang sebenarnya rapuh dan reaktif. Wekasane (akhirnya) mung (hanya) kudu (harus) den alem (dipuji) bangkit (semangatnya muncul), inganthukan (diangguki) bae (saja) munthuk (besar hati). Akhirnya hanya harus dipuji agar semangatnya muncul, diangguki saja sudah berbesar hati. Mereka hanya akan muncul semangatnya jika dipuji orang lain. Jika orang-orang mengamini perkataannya, mengangguk-angguk setiap mendengar petuahnya, maka kelakuannya menjadi-jadi. Mencari sensasi ke sana kemari, mencari pengakuan hebat, mencari pengikut banyak, bangga jika ditakuti orang, besar hatinya jika bisa mempermalukan orang lain. Segala upaya pada pokoknya untuk memperbesar ego semata-mata. Tandha (tanda) lamun (kalau) durung (belum) kamot (memuat). Pertanda kalau (dalam dirinya) belum memuat (banyak pengetahuan). Orang yang berwatak demikian menandakan dalam dirinya belum termuat pengetahuan yang sejati. Hatinya tidak tenang karena disetir oleh pujian orang, oleh hasratnya untuk dikagumi, oleh nafsu untuk mengalahkan orang lain. Orang seperi itu segala tindakannya hanya merupakan reaksi dari keadaan sekitarnya, ibaratnya menari dengan gendang orang lain. Marma (oleh karena itu) utama (utama) tuhu (sebenarnya), yen (kalau) abisa (bisa) matrap (menerapkan) unggah-unggah (unggah-ungguh, sopan santun). Oleh karena itu yang utama sebenarnya, kalau bisa menerapkan sopan-santun. Oleh karena itu sebenarnya yang utama dalam hidup ini adalah sebisa-bisanya menerapkan sopan santun dalam bergaul dengan sesama orang. Unggah-ungguh dalam konteks ini adalah mampu menerapkan derajat diri sendiri sedikit lebih rendah dari pada orang lain yang sebenarnya sederajat. Sikap inilah yang disebut dengan menghargai orang lain. Jika kita mampu menghargai orang lain dengan sikap hormat yang melebihi harkat dan martabatnya, maka yang demikian itu merupakan pertanda bahwa kita murah hati. Hanya orang-orang yang hatinya besar yang mampu melakukan. Tanggap (tranggap) ing (pada) reh (hal) ngarah-arah (berhati-hati) ngirih-ngirih (secara halus). Tanggap pada hal berhati-hati (bertindak) secara halus. Selanjutnya kita harus bisa bersikap hati-hati dalam membawa diri, tidak tergesa-gesa, selalu waspada dan ingat, bertindak dengan halus tidak gegabah atau sembrono. Itu semua dilakukan agar kita tidak menyakiti orang lain. Ibarat membawa semak berduri di tengah keramaian, kita harus hati-hati melangkah agar duri-duri yang kita bawa tidak melukai orang sekitar. Tidak perlu mendesak-desak orang, bila perlu menunggu jalannya sepi agar kita tak menyakiti orang lain. Seperti itulah seharusnya kita membawa diri, karena banyak organ kita yang lebih tajam dari duri tadi. Lidah misalnya, adalah benda tertajam di dunia karena mampu mengoyak hati yang tersembunyi jauh di rongga dada. Maka sudah selayaknya kita berhati-hati. Satiba telebing tanduk (dalam berbuat apapun),
Dalam berbuat apapun, dilakukan dengan mengalah. Satiba telebing tanduk artinya perbuatan yang spontan, yang dilakukan tanpa berpikir dulu. Artinya perbuatan itu sudah menjadi akhlak yang merasuk dalam jiwa,
mengisyaratkan seseorang yang sudah terbiasa mengarah-arah ngirih-irih tersebut dalam setiap perbuatannya, spontan sudah melakukan dengan mengalah. Dengan kata lain mengalah sudah menjadi wataknya hingga dapat dilakukan dengan spontan, tanpa mikir-mikir dulu.
Adreng ngumbar arubiru
Kajian Wedharaga (21;22) Bait ke-21;22, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Saengga tunggal laku, lan kang asring gumaib ing kawruh. Turtan wikan wiwekaning reh nayadi. Adreng ngumbar arubiru, amberat berawaning wong.
Saking lobaning kalbu, mung kalebu lebdeng bek kung lur kung. Kumalungkung ngaku ngungkuli sakalir. Saliring utameng kawruh, pangrasane padha kasor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sehingga satu perbuatan, dengan yang sering berlagak tahu dalam pengetahuan. Padahal tidak mengetahui cara berhati-hati dengan muka manis. Bernafsu mengumbar kerusuhan, menyepelekan kehebatan orang lain.
Karena tamaknya hati, hanya termasuk pintar membiarkan (orang) sedih bertambah kesedihannya. Sombong sekali mengaku melebihi (orang lain) dalam segala hal. Sembarang yang utama dalam pengetahuan, dianggapnya semua kalah (darinya).
Kajian per kata: Saengga (sehingga) tunggal (satu) laku (perbuatan), lan (dan) kang (yang) asring (sering) gumaib (umuk, sombong, berlagak tahu tentang ilmu gaib) ing (dalam) kawruh (pengetahuan). Sehingga satu perbuatan, dengan yang sering berlagak tahu dalam pengetahuan. Dalam bait sebelumnya telah diuraikan tentang orang yang berlagak ahli dalam pengetahuan, padahal belajarnya belum tuntas, ilmua belum sempurna baru setengah-setengah. Dalam bait ini disebutkan orang yang sejenis dengan itu, satu perbuatan dengan perilaku yang demikian itu. Turtan (padahal tidak) wikan (mengetahui, pandai) wiwekaning (berhati-hati) reh nayadi (dalam hal bermuka manis). Padahal tidak mengetahui cara berhati-hati dengan muka manis. Yakni orang yang tidak menguasai dalam hal bermuka manis kepada orang lain. Dalam kajian serat Wedatama telah kami uraikan tentang perlunya bersikap manis, sesadon ingadu manis, kepada setiap orang walaupun dalam hati kita jengkel. Kemampuan bersikap manis ini menjadi tanda dari orang-orang berilmu. Nah, anak-anak muda yang tidak sabar dalam proses dan bersikap sok ahli tadi tidak akan sampai tahap bermuka manis ini. Jangankan membuat senang orang lain, yang ada justru membuat jengkel karena perbuatan sok pintarnya. Adreng (bernafsu) ngumbar (mengumbar) arubiru (rusuh), amberat (menghilangkan, menyingkirkan) berawaning (kehebatan, keunggunlan) wong (orang). Bernafsu mengumbar kerusuhan, menyepelekan kehebatan orang lain. Mereka itu sudah sangat bernafsu mengumbar rusuh, suka menyepelekan kehebatan orang lain. Kalau karena pendapatnya berbeda kemudian terjadi ribut-ribut mereka ini senang sekali. Bahkan sangat suka memcari-cari perbedaan agar muncul keributan, supaya perjuangan mereka menegakkan kebenaran (versi mereka) menjadi lebih dramatik, sehingga mereka tampak hebat dan heroik. Saking (karena) lobaning (tamaknya) kalbu (hati), mung (hanya) kalebu (termasuk) lebdeng (pintar) bek (membiarkan) kung (sedih) lur (mengulur, memperpanjang) kung (sedih). Karena tamaknya hati, hanya termasuk pintar membiarkan (orang) sedih bertambah kesedihannya. Hal itu muncul karena hati mereka tamak akan kehebatan, terlalu bernafsu (adreng) meraih kebaikan. Bila karena sikapnya itu seseorang menjadi susah, mereka tak mereda. Malah akan memperpanjang kesedihan orang itu. Seolah orang lain pantas menerima perlakuan tak bijak darinya. Kumalungkung (sombong sekali) ngaku (mengaku) ngungkuli (melebihi) sakalir (segala hal). Sombong sekali mengaku melebihi (orang lain) dalam segala hal. Orang seperti ini sikapnya sombong sekali, merasa benar sendiri melebihi orang lain dalam segala hal. Mereka mengklaim kebenaran sudah menjadi milik mereka. Saliring (sembarang) utameng (yang utama) kawruh (pengetahuan), pangrasane (perasaannya, dianggapnya) padha (semua) kasor (kalah). Sembarang yang utama dalam pengetahuan, dianggapnya semua kalah (darinya). Hal-hal yang menjadi keutamaan dalam pengetahuan mereka merasa ahli, menurut anggapannya yang lain semua kalah. Itulah watak tak baik dan kurang elok yang sering menjangkiti anak muda yang ilmunya baru setengah jalan. Sungguh, watak yang demikian itu akan menjangkiti sebagian besar dari kita. Jika itu terjadi janganlah terlalu khawatir, tetaplah terus belajar dengat giat. Insya Allah akan sembuh dengan bertambahnya ilmu pengetahuan. Namun jika berhenti di tahap itu, celakalah!
Bandhar tyas kabalabar
Kajian Wedharaga (19;20) Bait ke-19;20, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ana kang wus kadulu, suteng carik kadhinginan tuwuh. Ngaku putus patrape kurang patitis, manut ngelmuning guyeng dul, amangeran luncung bodhol.
Badhar tyas kabalawur, baladheraning wong ambabangus. Angas ungus ing wuwus tan anguwisi. Temah kasebut wong gemblung, kinira yen lara panon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ada yang sudah terlihat, anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Mengaku ahli tingkahnya kurang tepat, menuruti ajarannya santri Dul, mendewakan badut keparat.
Terbongkar hatinya bingung, (itulah) sekotor-kotornya manusia yang menghasut-hasut. Berlagak-lagak berani dalam perkataan (tetapi) tidak menyelesaikan. Hingga disebut orang sinting, dikira kalau sakit otaknya.
Kajian per kata: Ana (ada) kang (yang) wus (sudah) kadulu (terlihat), suteng(anak) carik (jurutulis) kadhinginan (terlalu cepat, mendahului) tuwuh (tumbuh). Ada yang sudah terlihat, anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Ada contoh lain selain Ki Gambuh sendiri. Dia adalah anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Maksudnya dia melakukan apa yang sudah disebutkan dalam bait sebelumnya, yakni terlalu cepat ingin menikmati hasil berupa kesuksesan dalam pengetahuan. Ngaku (mengaku) putus (ahli) patrape (tingkahnya) kurang (kurang) patitis (tepat), manut (menurut) ngelmuning (ilmunya) guyeng Dul (santri Dul), amangeran (mendewakan) luncung bodhol (badut keparat). Mengaku ahli tingkahnya kurang tepat, menuruti ajarannya santri Dul, mendewakan badut keparat. Mengaku-aku sudah ahli namum kelakuannya kurang pas (tepat). Dia memakai ajaran santri Dul. Siapakah dia? Santri Dul disebut dalam kitab Wedatama sebagai seorang yang belajarnya belum tuntas namun sudah kembali ke desanya untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama. Akibatnya karena yang mengajarkan ilmunya belum sempurna ajarannya pun tidak jelas. Namun anehnya banyak juga pengikutnya yang fanatik. Selengkapnya tentang santri Dul ini silakan membaca kajian kami dalam serat Wedatama yang kajiannya sudah khatam. Tokoh santri Dul ini tampaknya bukan tokoh nyata, namun namanya sering dipakai untuk menyebut orang yang sok pintar seperti yang sedang kita bahas ini. Karkono Kamajaya dalam Lima Karya Ranggawarsita menerjemahkan luncung bodhol sebagai badut keparat. Amangeran luncung bodhol artinya mendewakan badut keparat. Sangat mungkin yang dimaksud oleh gatra ini sebagai luncung bodhol adalah santri Dul, karena pengikutnya memang sangat menurut dan mengidolakannya. Badhar (terbongkar) tyas (hati) kabalawur (blawur, bingung), baladheraning (kotor-kotornya) wong (orang) ambabangus (menghasut-hasut). Terbongkar hatinya bingung, (itulah) sekotor-kotornya manusia yang menghasut-hasut. Bila terbongkar kedoknya yang hanya umuk, omong kosong itu, hatinya menjadi bingung. Itulah orang yang kata-katanya lebih panjang dari akalnya. Kemana-mana menghasut-hasut, sungguh kotor perbuatannya. Ambaladher artinya kotor seperti lumpur kubangan, jika dipijak kaki akan terperosok ke dalam. Itulah perumpamaan orang yang kata-katanya tak sepadan dengan kemampuan. Angas ungus (berlagak-lagak berani) ing (dalam) wuwus (perkataan) tan (tidak) anguwisi (menyelesaikan). Berlagak-lagak berani dalam perkataan (tetapi) tidak menyelesaikan Berlagak berani ketika tidak ada musuh, namun jika kepergok marabahaya tak dapat menyelesaikan masalah. Angas adalah sifat sok berani, mengaku-aku berani dalam perkataan, alias omong besar. Temah (hingga) kasebut (disebut) wong (orang) gemblung (sinting), kinira (dikira) yen (kalau) lara (sakit) panon (penglihatan, pikiran, otak). Hingga disebut orang sinting, dikira kalau sakit otaknya. Orang seperti itu perilakunya mirip orang sinting. Tidak dapat dipegang kata-katanya. Banyak orang mengira kalau dia sakit otaknya. Memang tidak ada baiknya sifat umuk itu, sehingga sering disamakan dengan orang sinting. Mungkin ini berlebihan tetapi yang jelas sama meresahkan dengan kelakuan orang tak waras. Yang lebih parah dari sikap seperti ini adalah, satu watak buruk akan menyeret watak buruk lain untuk berkumpul dalam satu tubuh. Apa saja watak buruk yang akan diundang oleh sifat umuk kumalungkung ini? Nantikan kajian berikutnya.
Wekasan krnther tan asdor
Kajian Wedharaga (17;18) Bait ke-17;18, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ingkang mangkono iku, badaningong pribadi ing dangu. Paksa unggul wekasan malah katinggil. Panggilesing jabung alus, winangsulan tyas kaleson.
Mangkono kang tinemu, marmane wong ngaurip punika, aja pisan paksa ambeg kumalikih. Angaku sarwa linuhung, wekasan kether tan ethor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul. Tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu.
Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus.
Kajian per kata: Ingkang (yang) mangkono (demikian) iku (itu), badaningong (diri saya) pribadi (sendiri) ing (ketika) dangu (dahulu). Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Ki Gambuh (penggubah serat ini) pernah mengalami yang demikian itu, yakni memaksakan diri tampil hebat seolah paling unggul. Memang sikap seperti itu acapkali menjangkiti anak muda yang belum berpengalaman dalam kehidupan, terutama mereka yang baru mempelajari pengetahuan baru. Karena kaget dan takjub akan ilmu barunya yang selama ini tidak dikenalnya, lantas mengira bahwa orang lain juga tidak mengerti akan hal itu. Jadilah dia berlagak seolah hanya dirinya yang tahu. Maka tak aneh kalau Ki Gambuh pun pernah mengalaminya. Paksa (memaksakan) unggul (unggul) wekasan (akhirnya) malah (malah) katinggil (katenggel, terpukul), panggilesing (tergilas) jabung alus (orang yang dekat), winangsulan (diulang lagi) tyas (hati) kaleson (sudah lesu). Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul, tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu. Inilah pengalaman Ki Gambuh di masa dahulu, memaksakan penampilan akhirnya malah terpukul. Tenggel adalah memotong atau memukul sesuati tepat sasaran, telak, pas di tengah secara melintang. Katenggel atau katinggil artinya terpukul secara telak, tentu terasa amat menyakitkan. Jabung adalah sejenis perekat, njabung alus adalah kata majemuk yang merupakan idiom, artinya merapatkan diri, menempel dengan halus. Panggilesing jabung alus artinya yang menggilas atau memukul telak tadi adalah orang dekat. Hal ini membuat Ki Gambuh benar-benar syok dan lemah lunglai sehingga tak berdaya lagi untuk bangkit. Kaleson adalah ungkapan untuk perasaan hati yang lesu, tidak semangat lagi. Mangkono (demikian) kang (yang) tinemu (ditemukan, terjadi), marmane (oleh karena) wong (orang) ngaurip (berkehidupan) punika (itu), aja (jangan) pisan (sekali-kali) paksa (memaksakan) ambeg (berwatak) kumalikih (sombong). Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Demikian itulah yang terjadi jika suka umuk di atas kemampuan sendiri. Oleh karena dalam kehidupan ini jangan sekali-kali mendahului proses, tak sabar untuk segera memetik hasil, memaksakan diri tampil seolah sudah berhasil, bahkan terkesan meremehkan kemampuan orang lain. Angaku (mengaku) sarwa (serba) linuhung (lebih unggul, lebih hebat), wekasan (akhirnya) kether (terbengkelai) tan (tidak) ethor (becus). Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus. Mengaku-aku serba hebat dan unggul dibanding orang lain hanya demi decak kagum. Akhirnya ketika tiba saatnya harus membuktikan kemampuannya justru yang terjadi adalah urusannya terbengkelai karena sebenarnya dia tak mampu. Kether artinya tak tertangani karena tak mampu. Ethor varian kasar dari kata ethes, artinya cakap, terampil. Tan ethor artinya tak becus, dalam bahasa Jawa istilah lainnya adalah ora jegos (tidak bisa, konotasinya kasar).
Langganan:
Postingan (Atom)