Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Drn bisa tepa sarira
Kajian Wedharaga (25) Bait ke-25, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Sapa wruh kembang tepus, iku bisa angarah panuju. Yekti datan adoh lan badan pribadi. Lamun kanthi awas emut, salamet tumekaning ndon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Siapa yang mengetahui kembang tepus, itu bisa mengarahkan pada cocoknya hati. Sungguh (rasanya) takkan jauh dengan diri sendiri. Jika disertai waspada dan ingat, akan selamat sampai tujuan.
Kajian per kata: Sapa (siapa) wruh (mengetahui) kembang (kembang) tepus (tepus, nama bunga), iku (itu) bisa (bisa) angarah (mengarahkan) panuju (cocoknya hati). Siapa yang mengetahui kembang tepus, itu bisa mengarahkan pada cocoknya hati. Frasa kembang tepus ini juga terdapat dalam Kidung Suksma Wedha namun dalam redaksi yang berbeda, yakni sapa weruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke artadaya. Ahmad Chojim dalam Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga memaknai kembang tepus sebagai kalimat metafor, kalimat perumpamaan, yakni perumpamaan bagi asal-usul manusia. Kamajaya dalam Lima Karya Pujangga Ranggawarsita mengartikan sebagai berikut. Kembang tepus adalah nama jenis kembang. Tepus = tepa, ukur = ukuran panjang, luas, dan tebal dari sesuatu. Di sini kembang tepus dipakai untuk memperingatkan orang agar perbuatan dan tindakannya mengukur pada diri sendiri. Peribahasa: ukur baju badan sendiri (Jawa: tepa salira). Panuju artinya hal-hal yang membuat hati bersetuju, sesuai yang dimaksud. Kata ini sering dipakai dalam bentuk lain, nuju prana, pas dengan maksud hati. Jadi gatra di atas bermakna barang siapa mengetahui dirinya, dapat menerapkan tepa slira, maka akan mengarahkan pada kecocokan hati dengan orang lain. Yekti (sungguh) datan (tidak) adoh (jauh) lan (dengan) badan (badan, diri) pribadi (sendiri). Sungguh (rasanya) takkan jauh dengan diri sendiri. Apapun yang dirasakan orang lain sungguh tak jauh dengan rasa kita sendiri. Hal ini masih berkaitan dengan tepa slira tadi. Misalnya kita tak suka dicaci maki, maka orang lain pun juga tidak suka. Jika kita tidak suka melihat orang sombong, maka orang di sekitar kita juga tidak suka melihat kita sombong. Prinsip tepa slira berusaha menerapkan perasaan pada diri sendiri seandainya orang lain berlaku seperti yang kita lakukan. Pada umumnya orang bersikap sama, tak jauh dari diri kita sendiri. Maka apapun yang jika dilakukan orang lain kita merasa tidak suka, janganlah kita juga melakukan hal yang sama. Lamun (jika) kanthi (disertai) awas (waspada) emut (eling), salamet (selamat) tumekaning (sampai) ndon (tujuan). Jika disertai waspada dan ingat, akan selamat sampai tujuan. Dalam berbagai kesempatan Ranggawarsita selalu mengingatkan agar kita selalu waspada dan ingat. Arti kedua kata itu sudah sering kita bahas dalam kajian ini. Namun tidak ada salahnya kami ulang kembali agar tertanam dalam hati. Ingat berarti mengingat diri sendiri, menjaga diri dari keinginan hati yang melampaui batas, jadi ingat lebih ditujukan ke dalam. Waspada lebih ditujukan ke luar, dalam menghadapi berbagai godaan dan halangan yang datang dari luar. Jika kita bisa memadukan tiga hal di atas, tepa slira, waspada dan ingat, maka hidup kita akan selamat sampai tujuan.
Den bisa matrap unggah ungguh
Kajian Wedharaga (23;24) Bait ke-23;24, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Tur maksih sasar-susur, saraseng ros tan pati tinemu. Wekasane mung kudu den alem bangkit, inganthukan bae munthuk. Tandha lamun durung kamot.
Marma utama tuhu, yen abisa matrap unggah-unggah. Tanggap ing reh ngarah-arah ngirih-ngirih. Satiba telebing tanduk, tumindak lawan angawon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Lagi pula masih tersesat-sesat, rasa intinya tak begitu didapat. Akhirnya hanya harus dipuji agar semangatnya muncul, diangguki saja sudah berbesar hati. Pertanda kalau (dalam dirinya) belum memuat (banyak pengetahuan).
Oleh karena itu yang utama sebenarnya, kalau bisa menerapkan sopan-santun. Tanggap pada hal berhati-hati (bertindak) secara halus. Dalam berbuat apapun, dilakukan dengan mengalah.
Kajian per kata: Tur (lagi pula) maksih (masih) sasar-susur (tersesat-sesat), saraseng (rasa dalam) ros (inti) tan (tak) pati (begitu) tinemu (diperoleh, didapat). Lagi pula masih tersesat-sesat, rasa intinya tak begitu didapat. Dalam bait sebelumnya diuraikan tentang kegagalan seseorang dalam bersikap manis kepada orang lain, wiweka reh nayadi. Hal ini tidak aneh karena orang yang mampu bersikap manis, menyenangkan hati orang lain, adalah mereka yang sudah putus (khatam, ahli) dalam pengetahuan. Orang yang sudah tuntas belajar dan sempurna ilmunya takkan mencari pujian dari orang lain. Dia bertindak atas dasar keperluan, kewajiban dan tugas yang diembannya. Namun sebaliknya orang yang belum sempurna ilmunya hanya berbuat karena mencari pengakuan saja. Gatra berikut menggambarkan watak mereka yang sebenarnya rapuh dan reaktif. Wekasane (akhirnya) mung (hanya) kudu (harus) den alem (dipuji) bangkit (semangatnya muncul), inganthukan (diangguki) bae (saja) munthuk (besar hati). Akhirnya hanya harus dipuji agar semangatnya muncul, diangguki saja sudah berbesar hati. Mereka hanya akan muncul semangatnya jika dipuji orang lain. Jika orang-orang mengamini perkataannya, mengangguk-angguk setiap mendengar petuahnya, maka kelakuannya menjadi-jadi. Mencari sensasi ke sana kemari, mencari pengakuan hebat, mencari pengikut banyak, bangga jika ditakuti orang, besar hatinya jika bisa mempermalukan orang lain. Segala upaya pada pokoknya untuk memperbesar ego semata-mata. Tandha (tanda) lamun (kalau) durung (belum) kamot (memuat). Pertanda kalau (dalam dirinya) belum memuat (banyak pengetahuan). Orang yang berwatak demikian menandakan dalam dirinya belum termuat pengetahuan yang sejati. Hatinya tidak tenang karena disetir oleh pujian orang, oleh hasratnya untuk dikagumi, oleh nafsu untuk mengalahkan orang lain. Orang seperi itu segala tindakannya hanya merupakan reaksi dari keadaan sekitarnya, ibaratnya menari dengan gendang orang lain. Marma (oleh karena itu) utama (utama) tuhu (sebenarnya), yen (kalau) abisa (bisa) matrap (menerapkan) unggah-unggah (unggah-ungguh, sopan santun). Oleh karena itu yang utama sebenarnya, kalau bisa menerapkan sopan-santun. Oleh karena itu sebenarnya yang utama dalam hidup ini adalah sebisa-bisanya menerapkan sopan santun dalam bergaul dengan sesama orang. Unggah-ungguh dalam konteks ini adalah mampu menerapkan derajat diri sendiri sedikit lebih rendah dari pada orang lain yang sebenarnya sederajat. Sikap inilah yang disebut dengan menghargai orang lain. Jika kita mampu menghargai orang lain dengan sikap hormat yang melebihi harkat dan martabatnya, maka yang demikian itu merupakan pertanda bahwa kita murah hati. Hanya orang-orang yang hatinya besar yang mampu melakukan. Tanggap (tranggap) ing (pada) reh (hal) ngarah-arah (berhati-hati) ngirih-ngirih (secara halus). Tanggap pada hal berhati-hati (bertindak) secara halus. Selanjutnya kita harus bisa bersikap hati-hati dalam membawa diri, tidak tergesa-gesa, selalu waspada dan ingat, bertindak dengan halus tidak gegabah atau sembrono. Itu semua dilakukan agar kita tidak menyakiti orang lain. Ibarat membawa semak berduri di tengah keramaian, kita harus hati-hati melangkah agar duri-duri yang kita bawa tidak melukai orang sekitar. Tidak perlu mendesak-desak orang, bila perlu menunggu jalannya sepi agar kita tak menyakiti orang lain. Seperti itulah seharusnya kita membawa diri, karena banyak organ kita yang lebih tajam dari duri tadi. Lidah misalnya, adalah benda tertajam di dunia karena mampu mengoyak hati yang tersembunyi jauh di rongga dada. Maka sudah selayaknya kita berhati-hati. Satiba telebing tanduk (dalam berbuat apapun),
Dalam berbuat apapun, dilakukan dengan mengalah. Satiba telebing tanduk artinya perbuatan yang spontan, yang dilakukan tanpa berpikir dulu. Artinya perbuatan itu sudah menjadi akhlak yang merasuk dalam jiwa,
mengisyaratkan seseorang yang sudah terbiasa mengarah-arah ngirih-irih tersebut dalam setiap perbuatannya, spontan sudah melakukan dengan mengalah. Dengan kata lain mengalah sudah menjadi wataknya hingga dapat dilakukan dengan spontan, tanpa mikir-mikir dulu.
Adreng ngumbar arubiru
Kajian Wedharaga (21;22) Bait ke-21;22, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Saengga tunggal laku, lan kang asring gumaib ing kawruh. Turtan wikan wiwekaning reh nayadi. Adreng ngumbar arubiru, amberat berawaning wong.
Saking lobaning kalbu, mung kalebu lebdeng bek kung lur kung. Kumalungkung ngaku ngungkuli sakalir. Saliring utameng kawruh, pangrasane padha kasor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sehingga satu perbuatan, dengan yang sering berlagak tahu dalam pengetahuan. Padahal tidak mengetahui cara berhati-hati dengan muka manis. Bernafsu mengumbar kerusuhan, menyepelekan kehebatan orang lain.
Karena tamaknya hati, hanya termasuk pintar membiarkan (orang) sedih bertambah kesedihannya. Sombong sekali mengaku melebihi (orang lain) dalam segala hal. Sembarang yang utama dalam pengetahuan, dianggapnya semua kalah (darinya).
Kajian per kata: Saengga (sehingga) tunggal (satu) laku (perbuatan), lan (dan) kang (yang) asring (sering) gumaib (umuk, sombong, berlagak tahu tentang ilmu gaib) ing (dalam) kawruh (pengetahuan). Sehingga satu perbuatan, dengan yang sering berlagak tahu dalam pengetahuan. Dalam bait sebelumnya telah diuraikan tentang orang yang berlagak ahli dalam pengetahuan, padahal belajarnya belum tuntas, ilmua belum sempurna baru setengah-setengah. Dalam bait ini disebutkan orang yang sejenis dengan itu, satu perbuatan dengan perilaku yang demikian itu. Turtan (padahal tidak) wikan (mengetahui, pandai) wiwekaning (berhati-hati) reh nayadi (dalam hal bermuka manis). Padahal tidak mengetahui cara berhati-hati dengan muka manis. Yakni orang yang tidak menguasai dalam hal bermuka manis kepada orang lain. Dalam kajian serat Wedatama telah kami uraikan tentang perlunya bersikap manis, sesadon ingadu manis, kepada setiap orang walaupun dalam hati kita jengkel. Kemampuan bersikap manis ini menjadi tanda dari orang-orang berilmu. Nah, anak-anak muda yang tidak sabar dalam proses dan bersikap sok ahli tadi tidak akan sampai tahap bermuka manis ini. Jangankan membuat senang orang lain, yang ada justru membuat jengkel karena perbuatan sok pintarnya. Adreng (bernafsu) ngumbar (mengumbar) arubiru (rusuh), amberat (menghilangkan, menyingkirkan) berawaning (kehebatan, keunggunlan) wong (orang). Bernafsu mengumbar kerusuhan, menyepelekan kehebatan orang lain. Mereka itu sudah sangat bernafsu mengumbar rusuh, suka menyepelekan kehebatan orang lain. Kalau karena pendapatnya berbeda kemudian terjadi ribut-ribut mereka ini senang sekali. Bahkan sangat suka memcari-cari perbedaan agar muncul keributan, supaya perjuangan mereka menegakkan kebenaran (versi mereka) menjadi lebih dramatik, sehingga mereka tampak hebat dan heroik. Saking (karena) lobaning (tamaknya) kalbu (hati), mung (hanya) kalebu (termasuk) lebdeng (pintar) bek (membiarkan) kung (sedih) lur (mengulur, memperpanjang) kung (sedih). Karena tamaknya hati, hanya termasuk pintar membiarkan (orang) sedih bertambah kesedihannya. Hal itu muncul karena hati mereka tamak akan kehebatan, terlalu bernafsu (adreng) meraih kebaikan. Bila karena sikapnya itu seseorang menjadi susah, mereka tak mereda. Malah akan memperpanjang kesedihan orang itu. Seolah orang lain pantas menerima perlakuan tak bijak darinya. Kumalungkung (sombong sekali) ngaku (mengaku) ngungkuli (melebihi) sakalir (segala hal). Sombong sekali mengaku melebihi (orang lain) dalam segala hal. Orang seperti ini sikapnya sombong sekali, merasa benar sendiri melebihi orang lain dalam segala hal. Mereka mengklaim kebenaran sudah menjadi milik mereka. Saliring (sembarang) utameng (yang utama) kawruh (pengetahuan), pangrasane (perasaannya, dianggapnya) padha (semua) kasor (kalah). Sembarang yang utama dalam pengetahuan, dianggapnya semua kalah (darinya). Hal-hal yang menjadi keutamaan dalam pengetahuan mereka merasa ahli, menurut anggapannya yang lain semua kalah. Itulah watak tak baik dan kurang elok yang sering menjangkiti anak muda yang ilmunya baru setengah jalan. Sungguh, watak yang demikian itu akan menjangkiti sebagian besar dari kita. Jika itu terjadi janganlah terlalu khawatir, tetaplah terus belajar dengat giat. Insya Allah akan sembuh dengan bertambahnya ilmu pengetahuan. Namun jika berhenti di tahap itu, celakalah!
Bandhar tyas kabalabar
Kajian Wedharaga (19;20) Bait ke-19;20, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ana kang wus kadulu, suteng carik kadhinginan tuwuh. Ngaku putus patrape kurang patitis, manut ngelmuning guyeng dul, amangeran luncung bodhol.
Badhar tyas kabalawur, baladheraning wong ambabangus. Angas ungus ing wuwus tan anguwisi. Temah kasebut wong gemblung, kinira yen lara panon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ada yang sudah terlihat, anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Mengaku ahli tingkahnya kurang tepat, menuruti ajarannya santri Dul, mendewakan badut keparat.
Terbongkar hatinya bingung, (itulah) sekotor-kotornya manusia yang menghasut-hasut. Berlagak-lagak berani dalam perkataan (tetapi) tidak menyelesaikan. Hingga disebut orang sinting, dikira kalau sakit otaknya.
Kajian per kata: Ana (ada) kang (yang) wus (sudah) kadulu (terlihat), suteng(anak) carik (jurutulis) kadhinginan (terlalu cepat, mendahului) tuwuh (tumbuh). Ada yang sudah terlihat, anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Ada contoh lain selain Ki Gambuh sendiri. Dia adalah anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Maksudnya dia melakukan apa yang sudah disebutkan dalam bait sebelumnya, yakni terlalu cepat ingin menikmati hasil berupa kesuksesan dalam pengetahuan. Ngaku (mengaku) putus (ahli) patrape (tingkahnya) kurang (kurang) patitis (tepat), manut (menurut) ngelmuning (ilmunya) guyeng Dul (santri Dul), amangeran (mendewakan) luncung bodhol (badut keparat). Mengaku ahli tingkahnya kurang tepat, menuruti ajarannya santri Dul, mendewakan badut keparat. Mengaku-aku sudah ahli namum kelakuannya kurang pas (tepat). Dia memakai ajaran santri Dul. Siapakah dia? Santri Dul disebut dalam kitab Wedatama sebagai seorang yang belajarnya belum tuntas namun sudah kembali ke desanya untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama. Akibatnya karena yang mengajarkan ilmunya belum sempurna ajarannya pun tidak jelas. Namun anehnya banyak juga pengikutnya yang fanatik. Selengkapnya tentang santri Dul ini silakan membaca kajian kami dalam serat Wedatama yang kajiannya sudah khatam. Tokoh santri Dul ini tampaknya bukan tokoh nyata, namun namanya sering dipakai untuk menyebut orang yang sok pintar seperti yang sedang kita bahas ini. Karkono Kamajaya dalam Lima Karya Ranggawarsita menerjemahkan luncung bodhol sebagai badut keparat. Amangeran luncung bodhol artinya mendewakan badut keparat. Sangat mungkin yang dimaksud oleh gatra ini sebagai luncung bodhol adalah santri Dul, karena pengikutnya memang sangat menurut dan mengidolakannya. Badhar (terbongkar) tyas (hati) kabalawur (blawur, bingung), baladheraning (kotor-kotornya) wong (orang) ambabangus (menghasut-hasut). Terbongkar hatinya bingung, (itulah) sekotor-kotornya manusia yang menghasut-hasut. Bila terbongkar kedoknya yang hanya umuk, omong kosong itu, hatinya menjadi bingung. Itulah orang yang kata-katanya lebih panjang dari akalnya. Kemana-mana menghasut-hasut, sungguh kotor perbuatannya. Ambaladher artinya kotor seperti lumpur kubangan, jika dipijak kaki akan terperosok ke dalam. Itulah perumpamaan orang yang kata-katanya tak sepadan dengan kemampuan. Angas ungus (berlagak-lagak berani) ing (dalam) wuwus (perkataan) tan (tidak) anguwisi (menyelesaikan). Berlagak-lagak berani dalam perkataan (tetapi) tidak menyelesaikan Berlagak berani ketika tidak ada musuh, namun jika kepergok marabahaya tak dapat menyelesaikan masalah. Angas adalah sifat sok berani, mengaku-aku berani dalam perkataan, alias omong besar. Temah (hingga) kasebut (disebut) wong (orang) gemblung (sinting), kinira (dikira) yen (kalau) lara (sakit) panon (penglihatan, pikiran, otak). Hingga disebut orang sinting, dikira kalau sakit otaknya. Orang seperti itu perilakunya mirip orang sinting. Tidak dapat dipegang kata-katanya. Banyak orang mengira kalau dia sakit otaknya. Memang tidak ada baiknya sifat umuk itu, sehingga sering disamakan dengan orang sinting. Mungkin ini berlebihan tetapi yang jelas sama meresahkan dengan kelakuan orang tak waras. Yang lebih parah dari sikap seperti ini adalah, satu watak buruk akan menyeret watak buruk lain untuk berkumpul dalam satu tubuh. Apa saja watak buruk yang akan diundang oleh sifat umuk kumalungkung ini? Nantikan kajian berikutnya.
Wekasan krnther tan asdor
Kajian Wedharaga (17;18) Bait ke-17;18, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ingkang mangkono iku, badaningong pribadi ing dangu. Paksa unggul wekasan malah katinggil. Panggilesing jabung alus, winangsulan tyas kaleson.
Mangkono kang tinemu, marmane wong ngaurip punika, aja pisan paksa ambeg kumalikih. Angaku sarwa linuhung, wekasan kether tan ethor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul. Tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu.
Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus.
Kajian per kata: Ingkang (yang) mangkono (demikian) iku (itu), badaningong (diri saya) pribadi (sendiri) ing (ketika) dangu (dahulu). Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Ki Gambuh (penggubah serat ini) pernah mengalami yang demikian itu, yakni memaksakan diri tampil hebat seolah paling unggul. Memang sikap seperti itu acapkali menjangkiti anak muda yang belum berpengalaman dalam kehidupan, terutama mereka yang baru mempelajari pengetahuan baru. Karena kaget dan takjub akan ilmu barunya yang selama ini tidak dikenalnya, lantas mengira bahwa orang lain juga tidak mengerti akan hal itu. Jadilah dia berlagak seolah hanya dirinya yang tahu. Maka tak aneh kalau Ki Gambuh pun pernah mengalaminya. Paksa (memaksakan) unggul (unggul) wekasan (akhirnya) malah (malah) katinggil (katenggel, terpukul), panggilesing (tergilas) jabung alus (orang yang dekat), winangsulan (diulang lagi) tyas (hati) kaleson (sudah lesu). Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul, tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu. Inilah pengalaman Ki Gambuh di masa dahulu, memaksakan penampilan akhirnya malah terpukul. Tenggel adalah memotong atau memukul sesuati tepat sasaran, telak, pas di tengah secara melintang. Katenggel atau katinggil artinya terpukul secara telak, tentu terasa amat menyakitkan. Jabung adalah sejenis perekat, njabung alus adalah kata majemuk yang merupakan idiom, artinya merapatkan diri, menempel dengan halus. Panggilesing jabung alus artinya yang menggilas atau memukul telak tadi adalah orang dekat. Hal ini membuat Ki Gambuh benar-benar syok dan lemah lunglai sehingga tak berdaya lagi untuk bangkit. Kaleson adalah ungkapan untuk perasaan hati yang lesu, tidak semangat lagi. Mangkono (demikian) kang (yang) tinemu (ditemukan, terjadi), marmane (oleh karena) wong (orang) ngaurip (berkehidupan) punika (itu), aja (jangan) pisan (sekali-kali) paksa (memaksakan) ambeg (berwatak) kumalikih (sombong). Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Demikian itulah yang terjadi jika suka umuk di atas kemampuan sendiri. Oleh karena dalam kehidupan ini jangan sekali-kali mendahului proses, tak sabar untuk segera memetik hasil, memaksakan diri tampil seolah sudah berhasil, bahkan terkesan meremehkan kemampuan orang lain. Angaku (mengaku) sarwa (serba) linuhung (lebih unggul, lebih hebat), wekasan (akhirnya) kether (terbengkelai) tan (tidak) ethor (becus). Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus. Mengaku-aku serba hebat dan unggul dibanding orang lain hanya demi decak kagum. Akhirnya ketika tiba saatnya harus membuktikan kemampuannya justru yang terjadi adalah urusannya terbengkelai karena sebenarnya dia tak mampu. Kether artinya tak tertangani karena tak mampu. Ethor varian kasar dari kata ethes, artinya cakap, terampil. Tan ethor artinya tak becus, dalam bahasa Jawa istilah lainnya adalah ora jegos (tidak bisa, konotasinya kasar).
Prksa unggul wekasan asor
Kajian Wedharaga (16) Bait ke-16, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Wong ngaurip wus tamtu, akeh padha arebut piyangkuh. Lumuh lamun kasor kaseser sathithik. Nanging singa peksa unggul, ing wekasan dadi asor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Orang hidup sudah pasti, banyak yang berebut kebanggaan. Tak mau kalah walau hanya tergeser sedikit saja. Tetapi siapa yang memaksakan unggul, pada akhirnya menjadi hina.
Kajian per kata: Wong (orang) ngaurip (hidup) wus (sudah) tamtu (pasti), akeh (banyak) padha (yang) arebut (berebut) piyangkuh (kebanggaan). Orang hidup sudah pasti, banyak yang berebut kebanggaan. Merupakan hal yang biasa, dan juga bukan suatu hal buruk jika orang hidup di dunia mencari kebanggaan. Bagaimanapun segala pencapaian manusiawi, entah ilmu, harta, kedudukan dan pangkat adalah hal yang menunjukkan suatu prestasi. Tidak sembarang orang dapat melakukan hal itu, jadi wajar apabila yang demikian itu menjadi kebanggaan. Bahkan semangat dalam mencari hal-hal di atas adalah sebuah kebaikan. Lumuh (tak mau) lamun (jika) kasor (kalah) kaseser (tergeser) sathithik (sedikit). Tak mau kalah walau hanya tergeser sedikit saja. Juga bukan suatu hal aneh jika manusia tak mau kalah dalam hal-hal di atas, bahkan tergeser sedikit pun bisa membuat hati resah. Perasaan seperti ini menimbulkan semangat untuk berkompetisi sehat antara sesama manusia. Berusaha lebih unggul dan enggan kalah adalah energi positif untuk kemajuan seseorang. Nanging (tetapi) singa (siapa yang) peksa (memaksakan) unggul (unggul), ing (pada) wekasan (akhirnya) dadi (menjadi) asor (hina). Tetapi siapa yang memaksakan unggul, pada akhirnya menjadi hina. Namun persoalannya akan menjadi lain manakala dalam meraih kebanggan tersebut dilakukan dengan memaksa. Tidak sabar dalam mengikuti proses yang harus ditempuh. Belum-belum sudah memaklumatkan diri dengan klaim-klaim kemampuan yang palsu, belum-belum sudah berlagak sebagai orang pandai, bergaya bak orang kaya, angkuh layaknya pejabat. Jika demikian yang dituai bukanlah kemuliaan, melainkan cibiran dan kehinaan.
Ngaku putus tondha bodho
Kajian Wedharaga (14;15) Bait ke-14;15, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Panengeraning wong iku, adat ana panggrayanganipun. Peten saking sambang liring nayeng wadi. Yen wong ngaku sarwa putus, iku mratandhani bodho.
Lamun wong ngaku cukup, mratandhani kukurangan iku. Wong ngungasken kakendelan tandha jirih. Wong angakukiyat pengkuh, tandha apes amalendo.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Cara mengetahui ciri-ciri orang itu, biasanya ada yang dijadikan perkiraan. Ambilah dari cara melihat dan mimik muka yang rahasia. Kalau orang mengaku serba ahli, itu menandakan ia bodoh.
Jika orang mengaku cukup, menandakan bahwa dia kekurangan. Orang yang menyombongkan keberanian menandakan dia takut. Orang yang mengaku kuat dan sentosa, pertanda dia lemah dan tak dapat diandalkan.
Kajian per kata: Panengeraning (cara mengetahui ciri-ciri) wong (orang) iku (itu), adat (biasanya) ana (ada) panggrayanganipun (yang dijadikan perkiraan). Cara mengetahui ciri-ciri orang itu, biasanya ada yang dijadikan perkiraan. Panengeran dari kata tenger artinya tanda. Setiap orang mempunyai tanda-tanda yang menunjukkan watak, sifat, perilakunya secara umum. Panengeran yang dimaksud dalam bait ini adalah tentang apakah seseorang berbohong perihal kemampuan yang dimilikinya. Klaim yang dia ucapkan bahwa dia ahli dalam bidang ini-itu apakah benar? Ada tanda-tanda untuk mengetahui hal tersebut. Peten (ambilah) saking (dari) sambang liring (sekilas pandangan) nayeng wadi (mimik muka yang mengandung rahasia). Ambilah dari cara melihat dan mimik muka yang rahasia. Pet artinya ambil, sambang liring artinya cara melihat, gerak mata, naya ing wadi = nayeng wadi artinya mimik muka rahasia. Jadi tanda-tanda itu ambilah dari cara dia melihat, gerak mata dan mimik atau air muka pada saat dia berbicara. Jika kita awas dan teliti niscaya akan terlihat jelas apakah seseorang benar-benar mempunyai kemampuan seperti yang dia klaim atau hanya berbohong. Cara ini terlampau sulit bagi orang awam, dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang menguasai ilmu gerak wajah. Namun pada umumnya orang Jawa yang dewasa menguasai hal seperti ini. Inilah yang dinamakan sasmita (isyarat), yakni apa yang tersirat dari yang tersurat. Oleh karena itu di Jawa sering kita mendengar perkataan tanggap ing sasmita artinya paham apa yang tersirat. Sasmita ini bisa berupa isyarat yang sengaja diberikan oleh seseorang yang sedang bicara, atau juga bisa tidak sengaja tetapi tetap mengungkap gejolak yang ada di hati seseorang. Yen (kalau) wong (orang) ngaku (mengaku) sarwa (serba) putus (ahli), iku (itu) mratandhani (menandakan) bodho (bodoh). Kalau orang mengaku serba ahli, itu menandakan ia bodoh. Bagi orang awam ada penanda yang umum dan lebih mudah namun kurang akurat: siapapun yang mengaku-ngaku ahli, itu pertanda bahwa dia bodoh. Setiap orang pasti ingin menyembunyikan kelemahan dirinya, dalam soal ilmu kelemahan yang tampak adalah kebodohan, maka wajar jika kemudian seseorang mengaku pintar agar tidak dianggap bodoh. Lamun (jika) wong (orang) ngaku (mengaku) cukup (cukup), mratandhani (menandakan) kukurangan (kekurangan) iku (itu). Jika orang mengaku cukup, menandakan bahwa dia kekurangan. Demikian juga dalam hal kekurangan yang lain. Soal harta misalnya, seseorang akan menyembunyikan kemiskinannya dengan bergaya hidup mewah, entah bagaimana caranya. Memamerkan barang-barang berharga demi menutupi keadaan yang sesungguhnya. Wong (orang) ngungasken (menyombongkan) kakendelan (keberanian) tandha (pertanda) jirih (takut). Orang yang menyombongkan keberanian menandakan dia takut. Dalam hal keberanian juga berlaku demikian, orang yang penakut akan berteriak lantang agar dikira pemberani. Namun jika dihadapkan marabahaya dia akan lari duluan dengan berbagai alasan. Wong (orang) angaku (mengaku) kiyat (kuat) pengkuh (sentosa), tandha (pertanda) apes amalendo. Orang yang mengaku kuat dan sentosa, pertanda dia lemah dan tak dapat diandalkan. Orang yang lemah akan mengaku kuat agar meraih kepercayaan, namun jika tiba waktunya dia tidak dapat diandalkan. Kata malendo sering dilafalkan maletho, mletho, artinya tak dapat diandalkan. Tanda-tanda di atas adalah kesimpulan yang digeneralisir, namun cukup shahih sebagai informasi awal sebagai upaya berjaga-jaga (waspada) apabila bertemu dengan orang yang berperilaku demikian. Untuk menyimpulkan watak seseorang dengan tepat tentu dibutuhkan pengenalan yang panjang, namun sebagai upaya untuk menjaga diri beberapa pathokan di atas layak dipegang bagi orang awam.
Langganan:
Postingan (Atom)